Kotagede hari ini terjebak jadi sekedar kota kerajinan perak. Atas nama ekonomi, sejarah budaya dan peninggalan besar masa lalu kota ini kian terlupakan.
Berjalan-jalan menyambangi (kembali) Kotagede, bagi saya pribadi, adalah melawat masa lalu dan mengapungkan kenangan yang sudah lewat. Awal-awal di Yogyakarta sekitar tahun 2006, saya memang pernah tinggal di kawasan ini selama hampir setahun lamanya. Saat itu, saya sering muter-muter dengan sepeda tua, sendirian, melihat pasar dan dagangan perak.
Iya, menyusuri daerah Kotagede, dengan mudah kita akan menjumpai toko-toko kerajinan perak berjejer, berserakan dan tumpah-ruah di simpang-simpang jalannya. Nampaknya, kerajinan perak bukan (lagi) hanya sekedar ornamen yang menghiasi wajah Kotagede, melainkan menjadi Kotagede itu sendiri. Dikatakan demikian, karena keduanya sangat identik, dan tak bisa dipisahkan satu sama lain. Diakui tidak, kota kerajinan perak kini menjadi identitas Kotagede kekinian yang paling menonjol. Tak percaya? Mari saya ceritakan.
Kotagede mulai dari dahulu kala memang kota yang penuh dengan pesona, selain…
View original post 794 more words
