
oleh: Dian Nugraheni
Ketika aku kecil, aku sangat memperhatikan setiap gerakan mbah Utiku ketika memasak di dapur. Mengupas brambang, bawang, rimpang, menguleg bumbu di layah bundar ceper yang lebar. Mengaduk tepung dibumbuin dan dicairkan dengan santan untuk bikin tempe goreng, dan tentu saja, bikin sajian yang menjadi salah satu “signature” dari masakan mbah Utiku yang dijual di warungnya, yaitu bacem tahu dan tempe.
Bacem tahu dan tempe buatan mbah Utiku itu super duper enak dan kinclong penampakannya setelah digoreng. Beruntung, bahwa aku saat itu diijinkan untuk selalu secara mandiri, meracik bumbu untuk bacem tahu dan tempe itu. Mempersiapkan bumbu, menguleg bumbu, lalu memasukkannya dalam panci untuk direbus hingga meresap, sebelom kemudian digoreng.
Jaman dulu kala itu, namanya perkulineran belom sesemarak hare gene, tapi banyak orang bermobil dan bersepeda motor antar kota, yang sering kali berhenti di warung makan kami hanya untuk menanyakan, apakah masih ada tahu dan tempe bacem tersisa…
Bisa dibilang, akulah satu-satunya cucu mbah Utiku yang secara langsung terjun ke dapur, mencermati apa pun yang terjadi di sana, dan turut serta berkecimpung di dalamnya. Sejak kelas tiga SD aku sudah lihai membedakan antara tepung kanji, gandum, dan glepung, hanya dengan merasakan di tangan atau melihat penampakannya. Juga kagak mungkin salah antara merica dan ketumbar butir, mana kunci mana kencur, mengupas bawang brambang dalam jumlah yang banyak, mengirisnya tipis, menggorengnya, dan seterusnya…
Jadi, kalian para cucu mbah Uti dan Kung Jiwo Pramono, kalau mau pengen tau resep asli dari beliau ketika buka warung dulu, silaken japri cucunya yang paling cantik, centil, rajin bekerja, dan tidak sombong, yang tinggal di Virginia itu..The one and only…![]()
![]()
Resep membuat bacem, antara satu orang dengan lainnya, mungkin saja berbeda…tapi apa pun resepnya, bacem adalah tetep bacem, yang sering dirindukan untuk menemani sepiring nasi, sambil nyeplus cabe rawit, atau cowel sambel bawang…Atau..dicemol pakai jadah ketan putih, atau, digadoin begitu saja…
Demikianlah…
Mbah Uti dan Kungku tersayang, terimakasih sudah memberikan banyak kesempatan untuk mengenal dapur dengan seksama, sebab, tanpa resep-resep jitu andalan darimu, akan meranalah cucumu yang dokoh jago makan ini, karena yang jualan makanan apa pun di luaran sana, belom bisa disetarakan dengan apa pun masakan yang pernah mbah Uti-ku bikin dan aku rasakan berpuluh tahun silam… Apalagi kalau judulnya di bumi Amerika…hmmm, yakin.., tak ada lawan rasa masakan-masakanmu, mbah Uti tersayang…
Sombong adalah sabda…
Sebagai pecut untuk menjadi ada..![]()
