
oleh: Dian Nugraheni
Sistem perkuliahan di Amrik, sangat memberi kemudahan bagi mahasiswanya, untuk menentukan apa dan bagaimana langkah yang akan diambilnya di masa perkuliahan tersebut. Apabila dibutuhkan, masing-masing mahasiswa berhak untuk mendapatkan konseling dari konselornya ketika akan mengambil keputusan sehubungan dengan perkuliahannya di perguruan tinggi.
Kemudahan bagi mahasiswa itu, kayak, seorang mahasiswa boleh saja ambil kuliah “part time”, atau dia akan ambil kuliah “full time” dalam suatu semester, misalnya.
Kuliah “part time” itu kalau mahasiwa hanya ambil sekitar 6 sampai 11 credit, atau maksimum 3 mata kuliah. Sedangkan kuliah “full time” itu kalau mahasiswa ambil minimum 12 credit, atau sekitar 4 kelas, atau lebih.
Mahasiswa juga bisa dengan sangat mudah untuk “pindah jurusan”. Pindah jurusan itu ya macam, semula ambil Journalism, kemudian semester berikutnya dia memutuskan pindah jurusan ke Biologi, misalnya. Nah, kalau mahasiswa sampai pindah jurusan yang “menyeberang”, kayak dari Journalism ke Biologi, maka credit mata kuliah yang sudah diambil semester-semester sebelomnya, tentu saja harus dihitung ulang, sebab nggak semua mata kuliah yang sudah diambil ketika dia masuk jurusan Journalism, akan berguna dan diperhitungkan ketika dia pindah jurusan ke Biologi. Dalam hal ini, mahasiswa harus paham, bahwa kemungkinan besar dia akan kehilangan banyak kredit yang sudah dia kumpulkan.
Beberapa hari lalu, si Adek bilang bahwa dia akan “menyeberang” pindah jurusan lain. Aku agak kaget, sebab jurusan yang akan diambil sebagai tempat pindahnya itu, sama sekali nggak pernah dia bicarakan, bahkan sejak dia SMA.
Sebagai seorang Ibu yang “memahami” pedalaman anaknya, aku ya jujur saja, “Pindah jurusan itu kan harus ada alasan yang kuat dan tepat, kamu juga harus perhitungkan lagi kredit yang sudah kamu ambil selama hampir 3 semester ini, akan rugi berapa, dan seterusnya… Juga kamu harus perhitungkan, bahwa di jurusan yang baru nanti, kamu benar-benar akan menjalani dengan baik, sebab fakultas yang akan kamu ambil untuk pindah jururusan itu sifatnya lebih teknis.., maka kamu harus jauh lebih tekun, dan seterusnya. Jangan nanti jalan satu semester, pindah jurusan lagi..”
Aku, “Mamah liat, anak-anak yang sekali pindah jurusan, kemudian dia akan pindah-pindah lagi jurusan lain sesudahnya…menurut Mamah sih, kayak habisin waktu, tapi gak sampai-sampai tujuannya…jangan sampai kamu akhirnya get lost, lalu buyar semua tujuan yang sudah dijalani sejak semula..”
Aku, “Kalau kamu mau “upgrade” jurusan, itu bagus, tapi kalau pindah jurusan, apalagi sampai “nyebrang”, coba pikirkan dengan baik-baik..”
Aku, “Upgrade itu misalnya, dari jurusan Communications, upgrade ke Business Communications, nah itu baru bagus..”
Aku, “Amrik itu memberikan kesempatan seluas-luasnya untuk sekolah, menurut Mamah sih, selesaikan dulu satu, lulus, lalu nanti kamu akan sekolah lagi, nyebrang jurusan pun, nggak masalah…tapi paling ga, pegang dulu satu…’
Ketika kutanya kenapa mau pindah jurusan, “Nanti susah cari kerjanya kalau cuma di jurusan itu..”
Okay, gampang, mah kalau urusannya cuma nanti susah dapet kerjaan kalau dia masih di jurusan itu. Mamak lalu berkisah panjang kali lebar kali tinggi kali dalam pada si Adek. Berkisahnya asyik, sebab kemaren pas ngobrol itu, kami sambil jalan santai berdua sejauh hampir 5 mile menyusuri Custis Trail dari lingkungan kami, dengan tujuan utama ke daerah Rosslyn, Sebelom jalan, si Adek sudah bilang, “Nanti beli donat di Good Factory..”
Pas mulai jalan, dia bilang, “Lewat sana Mah, kan mau beli donat..”
Aku langsung nyandak cara berpikir anak ini, maka, “Donat kan nanti pulangnya, masak berangkat harus lewat toko donat meski ga beli..”
Si Adek, “Ohh, iya..he..he..”
Di jalan, kami ngobrol banyak, nampaknya si Adek senang mendengar aku ngobrol, masa kuliah, masa kerja, dan masa ketika aku memutuskan untuk berhenti kerja kantoran jaman itu.
Di perjalanan, akhirnya pun kami memutuskan untuk “upgrade” tujuan jalan santai, semula cuma mau sampek Rosslyn, kami tambah lagi, bablas, sampek Georgetown, Washington, DC.
Bla..bla..bla… Perjalanan itu lalu aku bikin sebagai perumpamaan, “Dek, coba direview ini, kamu kepikiran kuat soal beli donat, sampek baru saja jalan kamu sudah mau belok ke donat. Anggap saja beli donat di Good Factory itu adalah tujuan utamamu habis kuliah, yaitu dapet kerjaan…”
Aku, “Tapi kita kan akhirnya jalan duluan, masuk Custis Trail, tujuannya ke Rosslyn. Anggap saja Rosslyn itu jurusan kamu kuliah sekarang…”
Aku, “Ternyata kemudian kita memutuskan untuk nambah panjang rute perjalanan, yaitu semula cuma sampek Rosslyn, lalu kita majukan lagi sekian mile, sampai Georgetown…anggap saja Georgetown itu adalah jurusan yang akan menjadi tempat “upgrade” jurusan kuliah kamu..”
Aku, “Lalu ternyata di Georgetown kita masuk toko TJ Maxx, dan kita bebelian beberapa barang kesukaanmu…, lalu kita mau beli cupcake, tapi karena pandemik, beli harus online, dan yang nentuin jam pick up, mereka.., dan ternyata kita ga cocok sama jamnya, lalu kita batalkan..”
Aku, “Lalu kita pulang, naik bus, turun Ballston, toko donat Good Factory agak terlewat sedikit, tapi di sekitar situ kita akan ketemu toko Dunkin Donat. Dan ternyata kita beli donat, plus kopi late…, dan Mamah liat kamu senang, berkali-kali bilang terimakasih sama Mamah.. Anggap saja Dunkin Donat itu adalah pekerjaan yang kamu dapatkan setelah kamu upgrade jurusanmu..”
Aku, “Intinya, apa yang sudah dijalani, pegang baik-baik. Kalau kemudian kamu ada rencana lain, perhitungkan tingkat kesulitan, bandingkan dengan kemampuan kita, dan seterusnya. Sekolah itu bukan cuma masalah nanti dapat kerjaan atau apa, sebab di ujung sana, setelah kamu lulus kuliah nanti, ternyata cabang dari jalan yang ada di hadapanmu, bisa jadi amat sangat banyak.. Juga jangan remehkan yang namanya keberuntungan. Juga bagus kalau sejak sekarang kamu bisa merintis karir di depan sana, sebab Mamah lihat kamu itu punya banyak kemampuan spesifik yang mungkin orang harus belajar dengan keras untuk punya kemampuan kayak kamu ini..”
Aku, “Jalani, mantepin, jangan lupa berdoa, biar diberi keberuntungan dan keselamatan dari GustiAllah.., kayak setiap saat Mamah doakan kamu itu lho…ketika kamu salim mau keluar rumah, atau ketika Mamah mau berangkat kerja dan kamu di rumah.. Paham..?”
Si Adek ketawa nggleges, nampaknya dia lega dan bisa menerima penjelasanku. Keputusan sementara, dia akan upgrade jurusan kuliahnya, sehingga dia nggak harus rugi kredit mata kuliah yang sudah diambil, tapi mungkin harus nambah beberapa mata kuliah nantinya..

