SELAMATKAN ANAK-ANAK

oleh: Dian Nugraheni

Dulu, ketika aku akan bercerai dengan suamiku, kondisiku sedang benar-benar “miring” alias tidak tegak.

Miring, atau tidak tegaknya itu adalah, aku dan anak-anak baru saja menyusul bapaknya anak-anak ke Amrik, alias aku dan anak-anak, adalah orang-orang asing di negeri yang kami sama sekali tidak kenal sebelomnya. Udah gitu, aku ga punya uang cukup, kami nggak punya asuransi kesehatan, takutnya kalau tiba-tiba anak-anak sakit, gimana. Bahkan, aku belom dikasih tau, di mana letak rumah sakit terdekat. Itu penting, bila kita berada di suatu tempat baru, dan utamanya kita punya anak-anak.

Miring lainnya adalah, aku dan anak-anak, jelas alone di Amrik, tidak ada teman atau saudara yang bisa untuk bernaung bila terjadi satu dan lain hal.

Okay, itu nggak apa-apa, karena aku orangnya fast learner, dan selalu siaga penuh untuk menghadapi ini itu, bahkan yang paling ga masuk akal pun, aku bisa lakukan, demi anak-anak. Intinya, semiring apa pun, sedoyong gimana pun, sehampir-hampir ambruknya aku, hanya satu yang aku pikirkan: keselamatan anak-anakku.

Keselamatan anak-anakku ini, bukan hanya soal fisik, tapi terlebih adalah mental mereka. Anak-anakku itu pastilah tidak siap, menerima kenyataan bahwa Bapak Ibunya, bercerai, di tempat yang mereka, aku yakin, saat itu pun belom merasa percaya diri sepenuhnya, karena selain usia mereka yang masih underage, juga, mereka masih dalam masa transisi, masa-masa di mana mereka butuh dukungan lebih banyak untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian terhadap tempat baru, budaya baru, sekolah baru, pergaulan baru, dan lain-lain.

Maka, ketika diam-diam akhirnya aku bercerai dengan suamiku (diam-diam, karena kami hampir ga pernah ribut depan anak-anak, dan proses cerainya juga cuma suamiku yang pulang Indonesia untuk mengurus sampai akta cerai itu terbit), dalam hati aku segera atur strategi, bila nanti akhirnya surat cerai sudah ada, kemudian Bapaknya anak-anak tidak lagi tinggal seapartemen dengan aku dan anak-anak, maka aku akan bilang pada anak-anak bahwa, “Papah lagi bosan di Amrik, dia mau take his time dulu di Indonesia, bla..bla..bla..”

Pokoknya yang bikin ayem anak-anak. Dan aku sudah merencanakan, bahwa aku akan masukkan sedikit demi sedikit pengetahuan mengarah pada soal perceraianku dengan Bapaknya, dan paling ga sampai tahun berikutnya, aku harap anak-anak sudah cukup siap menerima berita resmi perceraian antara bapak ibunya, DARI MULUTKU SENDIRI. Ya, dari mulut Ibunya, di mana anak-anak hidup bersamaku setelah perceraian itu.

Waktu berjalan, semua baik-baik saja, anak-anak belom tau kalau aku sudah bercerai dengan Bapaknya, sampai suatu hari, kami pulang kampung untuk pertama kalinya, liburan musim panas saat itu, dan ada seseorang yang “merasa punya hak” untuk bicara apa pun, termasuk pada anak-anakku, dia mengabarkan dengan tenang, “Mamah sekarang sudah nggak suami istri dengan Papahmu, sudah cerai..”

Bla..bla..bla.., masih ditambahi dengan kalimat-kalimat yang “tidak berpihak padaku”, sehingga membuat anak-anak, down.

Itulah awal kisah, di mana akhirnya, terutama si Kakak, stress berat, sakit-sakitan, dan hampir berantakan sekolahnya, karena sering bolos dan cuma tidur di rumah.Hal inilah yang sangat aku takutkan, memberitahu anak-anak tentang berita buruk, dengan cara yang sama sekali nggak smooth, oleh mulut orang yang sebenere sama sekali dia nggak berhak.

Bla..bla..bla.. Melalui kisah panjang ini sebenere aku cuma mau berpesan, bagi teman-teman, khususnya teman-teman perempuan yang sedang mau bercerai, dan punya anak yang masih cukup kecil, tolong jaga anak-anak dari pihak-pihak yang berhadapan denganmu.

Artinya, kalau kamu seorang Ibu, punya anak masih cukup kecil, kamu mau bercerai, dan dalam hal ini terjadi “perseteruan” antara kamu dengan suamimu, apalagi masih ditambah ikut campurnya keluarga suami yang tentu saja berpihak pada suamimu, hati-hati, sebab mulut-mulut pedas mereka inilah yang selalu pengen terpuaskan, dan sangat bisa mereka tega ngomong hal-hal pedas itu pada anakmu. Nahh, inilah yang bikin hati anakmu terluka, lalu karena dia masih sangat muda, dia bisa jadi akan bingung, lalu mungkin dia akan membencimu sebagai Ibunya, dan seterusnya…

Bayangkan, bila anakmu yang masih cukup kecil itu harus ikut hidup bersamamu, Ibunya, setelah perceraian, tapi dalam hatinya yang belom tau banyak hal itu, dia sudah telanjur membencimu karena ulah mulut-mulut pedas, sehancur apakah hati dan perasaannya..?

🧡

Leave a comment