oleh: Iim Fahima Jachja
Nonton The Crown di Netflix, ada adegan Perdana Menteri Churchili (80tahun) dilukis oleh salah satu artist terbaik di Inggris. Agar mendapatkan jiwa dari objek lukisan, sang artist melakukan observasi mendalam melalui riset, ngobrol dan mengamati bahasa tubuh Churchill.
Harapan Churchill, lukisan akan tampak gagah, powerful dan penuh charisma, namun ternyata hasil lukisan boro-boro powerful, malah yang muncul adalah sosok yang gemuk, tua, lelah dan grumpy.
Churchill marah luar biasa karena merasa dirinya tidak seperti yang dilukiskan, padahal lukisan itu disetujui oleh sang istri yang notabene mengenal Churchil luar dalam dan orang yang paling menjaga image Churchill sepanjang karirnya. Saking kecewanya melihat gambaran diri yang ga sesuai bayangannya, lukisan pun dibakar oleh Churchill.
Dunia otomotif mengenal istilah Blind Spot yang secara harafiah berarti ‘titik buta’ atau area yang tidak terlihat oleh pengemudi karena beberapa jangkauan pandangan yang terbatas cermin atau terhalang oleh muatan yang dibawa. Untuk bisa melihat area blind spot, kita membutuhkan mata orang lain. Kalau ngga ada mata yang membantu melihat, kecelakaan akan sulit dihindari.
Blind spot theory biasa dipakai dalam ilmu leadership, tapi sebetulnya ini hal yang bisa dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Blind spot bukan berarti kelemahan, tapi area dimana kita merasa jago dan all out, tapi ada satu titik mengganggu yang orang lain enggan ngasi tau.
Ibaratnya, seperti ada bekas cabe di gigi tapi ga ada orang yang ngingetin. Akibatnya, sepanjang hari kita ngobrol dan ketemu orang dengan cabe nyelip di gigi. Apa efeknya ke lawan bicara? Dalam jangka pendek, akan risih ngobrol lama. Jangka panjang, bisa dianggap individu yang ga resik dan ga bisa dipercaya mengelola sesuatu.
Bagimana cara menghindari terjebak blind spot?
Pertama, tanyakan ke user/konsumen/partner, hal apa yang paling mereka ngga nyaman atas “layanan” kita? kalo kita ga mendapatkan jawaban yang painful, artinya kita belum menemukan blind spot. Kalau ada painful feedback, artinya kita menemukan blind spot dan di titik itu kita harus perbaiki.
Kedua, dengarkan input untuk dipahami dan diperbaiki, listen to understand not to respond. Kadang karena seseorang sudah merasa all out, denger painful feedback langsung sensi .
Ketiga. Tanyakan ke user/konsumen/partner bagaimana cara memperbaiki bind spot, berikan ruang luas pada mereka untuk menyampaikan idenya.
Ke-empat. Follow up input mereka dengan perbaikan dan minta mereka untuk tidak segan mengingatkan jika progress belum sesuai harapan.
Untuk melengkapi pemahaman atas diri sendiri, kita butuh dibantu mata orang lain. Semakin awal blind spot dikenali, semakin baik. Tak perlu menunggu karir atau bisnis berantakan, tak perlu menunggu pernikahan/relationship hancur berkeping, tak perlu menunggu anak minggat dari rumah karena tiap komunikasi berujung perang dunia.
Tak perlu menunggu kerusakan-kerusakan lain.
