Cindua Langkok

Setelah merantau ke Bandung lalu Jogja, saya menyadari bahwa ternyata cendol nusantara itu berwarna warni. Pernah saya mencicipi dawet ireng saat berdomisili di Jogja. Dawet ireng merupakan minuman khas  daerah Butuh, Purworejo, Jawa Tengah, pewarnaan hitam  secara alami diperoleh dari abu hasil bakar jerami, *mungkin sama dengan warna hitam pada pembuatan cincau hitam ya..?

Cendol favorit semasa di Bandung, cendol Elizabeth. Dulu belum banyak cabangnya, jadi kalau ingin menikmati cendol tersebut saya harus   agak bersusah payah dari Sekeloa ke jalan Otista, tempatnya persis di depan toko tas Elizabeth.  Khas bentuk cendolnya lonjong dan lancip diujung, berukuran pendek. Terbuat dari tepung beras dengan pewarna hijau dari daun suji.

Lain lagi cendol ala Bukittinggi, ini jadi ciri khas karena berbeda dengan cendol yang ditemui pada daerah lain. Bahan dasar cendolnya terbuat dari tepung sagu aren yang dicampur dengan tepung beras lalu diberi pewarna merah dengan menggunakan getah gambia (getah gambir).

Saya menyukai segala macam cendol khas dari berbagai daerah ini, dahulu kala pernah mencicipi dawet ayu Banjarnegara. Waktu itu saya menganggapnya sama saja dengan es cendol Elizabeth, isiannya pada dasarnya sama, rasanya legit dan menyegarkan. Awalnya sempat mengira nama dawet ‘Ayu’ diambil dari pedagangnya yang adalah mbak² sing ayu tenan gitu, eh ternyata kebanyakan yang jual malah bapak² berkumis. 😛

Kembali ke cendol khas bukik,  yang ini isiannya udah jelas beda banget. Selain menyegarkan juga pasti mengenyangkan. Cendol dihidangkan bersama saus gula merah, santan, tape singkong,  potongan lopis ketan dan ditaburi emping beras (bukan emping melinjo ya) yang teristimewa tentu saja adalah bongkahan daging duriannya itu. Sajian ini disebut cindua langkok, dihidangkan dingin. ❤

Leave a comment