Ditulis pada bulan Desember, tahun 2017.
Senangnya di penghujung tahun ini, dunia bulu tangkis Indonesia mendapatkan hadiah akhir tahun dari pemain ganda putra Indonesia. Kevin Sanjaya dan Marcus Gideon sukses merebut gelar BWF Super Series Finals 2017. Semoga tahun depan makin berjaya dunia bulutangkis kita! 💪
Bulutangkis adalah olahraga kesukaan masyarakat Indonesia. Apalagi semasa aku kecil dan remaja, Indonesia rajanya bulutangkis baik putra maupun putri. Menang terus di mana-mana.
Sebagai kota-nya kenangan, Kotagede ternyata juga menyimpan tapak kenangan di bidang bulutangkis. Hal ini yang membuat aku senang berada di perkampungan Kotagede, karena sebagian besar tapak-tapak masa lalu masih terjaga baik sampai saat ini. Namanya lapangan Youngco, berada di seberang nDalem Sopingen. Tempat aku rutin melakukan kunjungan yandu balita setiap bulan.
Tentang Netplay
Membaca jejak sejarah nDalem Sopingen, disebutkan bahwa di halaman depan pendopo ndalem Sopingen ada lapangan badminton. Ada malam-malam tertentu untuk netplay, begitu masyarakat Kotagede dulu menyebut latihan bulutangkis di malam hari. Dan sebagai penanda adanya netplay malam itu, selalu ada orang yang memikul lampu strongking, yang dimaksud adalah lampu petromaks merknya strongking.
Lampu petromaks bentuknya terjungkir. Tangki minyaknya berada di atas, lampunya di bawah berbentuk kerucut seperti jantung pisang. Lampu-lampu itu dipikul dari tempat persewaannya di kampung Bumen milik bapak Murthung, melintas depan pasar Kotagede menuju Sopingen. Jalan-jalan yang dilewati akan menyala benderang dan terdengat suara desis gas yang terbakar dari mesin petromaks. Dan selalu saja orang-orang yang senantiasa nongkrong di depan pasar Kotagede yang dilewati desis mesin petromaks akan berkomentar : “Wah, mesthi ono netplay neng Sopingen, iki.”
Dari netplay, pertandingan-pertandingan badminton tingkat Kotagede digelar di lapangan depan pendopo Sopingen. Di samping tunggal putra, juga menghasilkan tunggal putri terbaik, ganda putra, putri dan campuran. Pernah juga Sopingen menghadirkan Theresia Widyastuti salah seorang tim Uber Cup tahun 1970-an melakukan eksibisi dengan juara ganda putra terbaik Kotagede. Tim Badminton Kotagede berarti cukup diakui pada saat itu, karena Theresia Widiastuti adalah pebulutangkis nasional terkenal pada tahun 70-an.
Tentang Lapangan Youngco
Pemilik lapangan Youngco adalah almarhum Pak Mangku. Awalnya hanya dipergunakan untuk badminton. Tahun 1973 lapangan badminton tersebut dinamakan Youngco. Waktu itu masih trennya penggunaan nama asing, young (bahasa Inggris) artinya muda, co berarti coorporation. Sehingga diartikan yang muda yang bekerja sama. Sebagai ruang publik lapangan Youngco mempunyai fasilitas yang lengkap, sehingga lapangan Youngco dapat menampung berbagai kegiatan yang dilakukan oleh warga di kampung Pekaten.

bagian panggung digunakan untuk tempat pendaftaran yandu lansia dan balita

Lapangan Badminton untuk senam Lansia juga
Lapangan Youngco zaman now, digunakan sebagai ruang publik. Berikut daftar kegiatan yang biasa dilakukan di Lapangan Youngco, penggunanya pun tidak terbatas warga pekaten saja.
| Bermain anak Badminton Pemeriksaan Lansia Senam Lansia Kegiatan Paud Kunir Ceria Penyembelihan Hewan Qurban Nonton Final Piala Dunia |
Kerja bakti Malam tirakatan 17 Agustus Jalan Sehat Sholat Ied Pentas dolanan dan lagu tradisional Turnamen Badminton |
Keren ya! Lapangan tersebut terus dirawat dan dimanfaatkan sebagai ruang publik. Setelah bencana gempa tahun 2006 di Kotagede, lapangan Youngco diperbaiki dan ditambah fasilitasnya. Lapangan yang tadinya tanah kemudian diplester, diaci dan dicat. Serambi dan rumah Pak Mangku diperbaiki sehingga menjadi lebih bagus.
Lingkungan lapangan ditambah dengan fasilitas pos jaga, papan informasi, gazebo, serta penataan lingkungan sekitar lapangan badminton. Setelah pemilik tanah meninggal, anak-anaknya tetap meneruskan orang tuanya dengan mengikhlaskan lapangan Youngco untuk kepentingan warga.

serambi rumah Pak Hernowo (putranya Pak Mangku) digunakan untuk kegiatan pos yandu

foto terbaru rumah pak Hernowo, saat aku yandu balita kemarin

Rumah pak Hernowo ini adalah favoritku, tidak megah tapi terawat baik. Di samping rumah ada semacam parit yang menjadi kolam ikan. Meskipun Kotagede panas, di sini rasanya adem banget.
Youngco sebagai Wadah Budaya Guyub
Istilah angsare tanah Pekaten yo kesenian, menunjukkan adanya potensi budaya kesenian yang dimiliki oleh warga Pekaten sejak dari dulu.
Hal tersebut ditunjukkan dengan kegiatan pentas wayang orang sebulan sekali di Sopingen, adanya perkumpulan keroncong Cahaya Muda, Montela radio anak muda, band remaja, menjadi wakil kecamatan untuk kegiatan pelestarian lagu-lagu dan permainan tradisional di tingkat kodya Yogyakarta.
Banyaknya kegiatan kesenian dan olahraga yang dilakukan bersama dengan lapangan youngco sebagai wadahnya, menumbuhkan sifat rukun dan kebersamaan. Warga menyadari bahwa setiap orang tidak bisa hidup sendiri, mereka masih memerlukan orang lain. Sifat itulah yang menurut warga blok Pekaten disebut guyub.
Poin guyub di atas, tidak senantiasa sama kuatnya di setiap kampung. Tapi secara umum orang Jogja itu senang kebersamaan. Begitulah yang aku rasakan beberapa tahun meladang di bumi Mataram.

Beberapa gambar dan sebagian materi tentang lapangan Youngco, didapat dari tulisan Bapak Heri Hermanto, Djunaidi, dan Sudaryono. Berbeda dengan nDalem Sopingen yang cukup sering ditulis, tidak kutemukan penulis lain yang menulis tentang lapangan Youngco. Jika bukan karena bertugas di sini mungkin aku pun tidak menyadari adanya lokasi menarik tersebut. 😉


Lapangan Youngco di suatu sore mendung yang sepi 💜
