*ditulis tahun 2017
Alhamdulillah.. mari menulis lagi! Untuk permulaan aku cerita-cerita sedikit tentang si buyung Saga saja ya. Selagi belum memudar dari ingatan, maklum usia segini emaknya saga sudah mulai banyak lupa.
Tentang Permulaan
Aku hamil si buyung Saga terhitung mulai akhir Januari 2016, dengan perkiraan hari lahir tanggal 31 Oktober 2016. Enam bulan sebelum kehamilan tersebut pada bulan Juni 2015 aku mengalami kuretase untuk yang ketiga kali. Ketika itu penyebabnya adalah janin yang tidak berkembang pada minggu kesebelas. Dokter berpendapat janin kurang mendapat asupan nutrisi dan oksigen karena adanya kekentalan darah.
Beliau berpesan jika nanti suatu waktu aku hamil lagi, harus segera minum pengencer darah. “Jangan nunggu ketemu saya ya bu, klo hasil tes sudah garis dua ibu harus langsung minum pengencer darah!” sebegitunya beliau mewanti-wanti. Aku juga dibekali asam folat untuk persiapan kehamilan berikutnya. Yang diingat pada masa enam bulan itu aku mengurangi konsumsi nasi diganti dengan oat, rutin minum suplemen zink dan hampir tiap hari makan tempe koro goreng *wkwkk ini ada hubungannya gak sih..?
Aku tidak cepat menyadari kehamilan ini karena jadwal haid yang memang tidak teratur. Di minggu keenam baru tes, Alhamdulillah positif dan segera ke dokter. Beliau memberi stempel warna merah “Kehamilan Resiko Tinggi” pada lembaran medical recordku, dan memberitahu apa yang boleh dan tidak. Dokterku ini cocoklah dengan selera kami, menguraikan ini itu tanpa ditanya dulu. Suaranya pun lantang, ini yang paling penting karena emak bapak si buyung saga punya pendengaran kurang tajam, jadi senang bertemu dokter yang model begini.
Akhirnya aku minum pengencer darah sampai bulan kedelapan. Tidak boleh bepergian kemana-mana, bahkan ke malioboro pun tidak. Pagi kerja, sore pulang ke rumah. Begitu terus sampai si buyung lahir.
Tentang Kehamilan di Usia 42 Tahun
Aku hamil bareng banget dengan Oyen, uminya Fira. Hari perkiraan lahirnya pun sama, beliau yang menjadi patokanku selama hamil. Tentu saja kondisiku dan umi berbeda jauh, aku hamil anak pertama di usia 42 tahun, sedangkan umi hamil anak kedua di usia yang masih kinyis-kinyis.
Ada saatnya aku begitu sedih dan iri dengan umi, karena umi mengalami mual muntah hebat di trimester pertama. Karena keyakinanku mual dan muntah adalah petunjuk bahwa janin berkembang dengan baik. Sedangkan aku, satu kalipun TIDAK pernah muntah. Jika makan siang dengan teman-teman aku tetap bisa menghabiskan porsiku bahkan kadang menghabiskan jatah mbak rini yang makannya selalu sedikit.
Sampai aku pun meragukan kehamilanku sendiri, masa sih hamil tanpa mual muntah? Jika dokter bertanya, “keluhannya apa, bu..?” aku akan mengeluhkan kenapa aku tidak mual dan muntah. Aku ingin mengalami hamil yang normal seperti orang lain, lengkap dengan mual dan muntahnya.
Tiap kali ke dokter yang pertama aku tanyakan adalah detak jantung janin, kadang jika rasa ragu makin menggalau maka aku ke ruangan bidan di puskesmas minta didengarkan detak jantung si adek. Alhamdulillah, irama detak itu selalu ada sampai buyung Saga dilahirkan ke dunia.
Mungkin mual muntah itu digantikan dengan batuk, iya batuk! aku batuk kering berbulan-bulan, tidak mempan sudah minum obat segala rupa. Akhirnya sembuh sendiri mendekati bulan-bulan terakhir. Secara umum teman-teman di kantor bilang bahwa kehamilanku termasuk sehat dan kuat dalam usia yang sudah tidak lagi muda. Syukur Alhamdulillah.
Tentang Kelahiran Saga
Mendekati HPL, tidak ada tanda-tanda apapun. Buyung Saga tampaknya betah di perut emaknya. Dokter menugaskan aku mencatat gerakan janin, jika gerakan berkurang dari yang seharusnya maka aku harus bergegas ke UGD.
Akhirnya HPL pun berlalu, malah Umi sudah melahirkan duluan. Sedangkan si buyung saga masih anteng di dalam, tidak ada kontraksi dalam bentuk apapun. Dokter pun mengambil keputusan tanggal 5 November akan dilakukan bedah sesar, demi keselamatan buyung saga dan emaknya.

Buyung Saga
Yogyakarta, 5 November 2016
RSUD Kota Yoyakarta – dr. Alfun Dhiya An, Sp.OG, M.Kes
Panjang 53 cm – Berat Badan 3.570 gram
Wajahnya persis aku, sangat!💜

Buyung Saga langsung diopname selama satu minggu karena ada gangguan pernapasan, juga harus disinar selama sehari semalam karena kadar bilirubin meningkat. Sedangkan kondisiku drop disebabkan tekanan darah dan Hb turun drastis, diobservasi sampai malam hari apakah perlu transfusi darah. Syukur Alhamdulillah malam itu kondisiku perlahan membaik.
Sekian dulu ya, cerita pendek tentang kehadiran Saga. Besok-besok emaknya nulis lagi..! 😀
