Naskah Randai Cindua Mato

sumber: https://retakilmu.blogspot.com/2011/02/naskah-drama-cindua-mato.html

Naskah Karya : Wisran Hadi
(Pemenang Sayembara Penulisan naskah Sandiwara Indonesia
yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta, 1977.
Dipentaskan oleh BUMI TEATER Padang 1978 di Padang. Disertasi
Ph.D oleh Mursal Esten)
Pemain:
•Seorang pemain laki-laki yang akan berperan sebagai CINDUA MATO
•Seorang pemain laki-laki yang akan berperan sebagai DANG TUANKU
•Seorang pemain wanita yang akan berperan sebagai BUNDO KANDUANG
•Seorang penyanyi laki-laki yang akan berperan sebagai PENDENDANG
•Seorang pemain laki-laki yang akan berperan sebagai DUBALANG
•Seorang pemain laki-laki yang akan berperan sebagai DATUAK BANDARO
•Seorang pemain laki-laki yang akan berperan sebagai DATUAK INDOMO
•Seorang pemain laki-laki yang akan berperan sebagai DATUAK MAKHUDUM
•Seorang pemain laki-laki yang akan berperan sebagai TUAN KADI
•Beberapa pemain wanita yang akan berperan sebagai DAYANG

PUTARAN PERTAMA
Semua pemain menari dan menyayi dalam lingkaran yang bergerak. Syair dan pantun dari nyanyian mereka mengisahkan tentang :
Kaba Cindua Mato sebagai cerita rakyat Minangkabau yang paling popular sampai saat ini.
Ucapan maaf sekiranya cerita yang disampaikan ini terdapat kekeliruan, kealfaan atau perubahan.
Namun semua itu adalah wajar, karena setiap kaba punya berbagai variasi dan versi. Namun semua itu tidaklah mengurangi kaba Cindua Mato sebagai cerita rakyat.
(Lingkaran yang bergerak ini mengingatkan kita pada “Randai”, suatu permainan rakyat Minangkabau, yang menggabungkan unsur-unsur tari, nyanyi dan drama.)
Lingkaran tersebut dapat pula digantikan dengan indang suatu bentuk teater rakyat Minangkabau yang lain, menyanyi dan menari dengan memakai rebana kecil.

Setelah semua pemain kembali ke tempatnya, Cindua Mato segera berdiri dan berteriak pada orang-orang yang gelisah menunggu.

CINDUA MATO: Jangan terlalu gelisah. Tunggulah! Permainan ini pasti dilanjutkan. Lakonmu ini akan memenangkan pertandingan. Duduklah di sana dengan sopan. Nanti kuantar kalian pulang.
DANG TUANKU : (Berdiri dan mulai mengatur langkah untuk suatu permainan silat melawan Cindua Mato) Kali ini kau pasti kena!
CINDUA MATO : (Melawan Dang Tuanku dengan beberapa jurus silat tapi tak mengenai sasaran) Langkah berikutnya Dang Tuanku pasti roboh.
Keduanya terus bermain silat. Seorang dubalang datang tergesa.
DUBALANG : Dang Tuanku.
DANG TUANKU : Tunggu. (Terus meladeni serangan-serangan Cindua Mato)
CINDUA MATO : (Berhenti menyerang) Kabar penting, Dubalang?
DUBALANG : Ya.
CINDUA MATO : Tunggulah. Sebentar lagi permainan ini akan kuselesaikan.
DANG TUANKU : Kabar apa, Dubalang.
DUBALANG : Penting. Kalau diizinkan sebaiknya di bawah empat mata.
CINDUA MATO : O, terlalu penting urusan kerajaan hari ini. Permisi Dang Tuanku.
DANG TUANKU : Jangan pergi dulu. Tidak terlalu rahasia antara kita berdua. Dubalang. Sampaikan.
Dubalang membisiki Dang Tuanku . Dang Tuanku terkejut sekali dan marah.
DANG TUANKU : Ah! Penghinaan! (bergegas keluar)
CINDUA MATO : Apa sebenarnya yang terjadi. Katakan.
DUBALANG : Puti Bungsu akan dikawinkan dengan Imbang Jaya, putra mahkota raja Tiang Bungkuk dari Sungai Ngiang.
CINDUA MATO : Puti Bungsu?
DUBALANG : Apakah ada dua nama Puti Bungsu, Cindua Mato?
CINDUA MATO : Tapi setahuku, Puti Bungsu calon istri Dang Tuanku.
DUBALANG : Makanya saya memberi tahu Dang Tuanku.
CINDUA MATO : Kapan waktu perkawinannya?
DUBALANG : Tiga hari menjelang purnama, sebelum musim ini berganti.
CINDUA MATO : Apa mungkin?
Dang Tuanku datang tergesa membawa sebilah pedang yang panjang.
DANG TUANKU : Rambutnya tak boleh disentuh hiasan pengantin! Dia harus dijemput dan dibawa ke sini! Cindua Mato! Siapkan angkatan perang kita!
CINDUA MATO : Perang?
DANG TUANKU : Ya. Perang!
CINDUA MATO : Akibatnya lebih menyusahkan, Dang Tuanku.
DANG TUANKU : Tidak akan susah kita menanggung akibatnya daripada sakit menerima penghinaan.
CINDUA MATO : Kalau penghinaan yang datang, harus dibalas juga dengan penghinaan.
DANG TUANKU : Tidak. Pembalasannya hanya satu. Perang! Cindua Mato. Kita akan memberi hadiah dan restu pada setiap perkawinan, karena kita menghormati ke manusia. Tapi kalau yang kawin itu …. (meledak marahnya) kita harus hadiahkan sebuah penyerbuan besar. Katakan pada semua rakyat Minangkabau, perhelatan mamakku Rajo Mudo kita hadiri dengan membawa senjata dan teriakan peperangan.
CINDUA MATO : Tidakkah sebaiknya dikatakan dulu pada Bundo Kanduang dan dirundingkan dengan Basa Ampek Balai.
DANG TUANKU : Semuanya pasti akan setuju karena merasa sama-sama terhina!
CINDUA MATO : Dang Tuanku. Semua orang tahu Puti Bungsu dijodohkan denganmu sejak masih kecil. Bagaimana mungkin seorang mamak seperti Rajo Mudo mau memungkiri janjinya. Apalagi Rajo Mudo begitu memuliakan Bundo Kanduang sebagai kakaknya.
DANG TUANKU : Tapi kenyataannya perkawinan itu dilaksanakan. Bukankah hal ini untuk menghina kita, menghina semua perjanjian, menghina Bundo Kanduang itu sendiri!
CINDUA MATO : Barangkali ada jalan lain yang lebih baik daripada berperang, kalau hal ini dirundingkan dengan Bundo Kanduang lebih dulu.
DANG TUANKU : Arang telah dicorengkan ke dahi kita. Cindua Mato! Apakah kau takut turun ke gelanggang!
CINDUA MATO : Menyiapkan angkatan perang tidak begitu sulit, selagi kita masih punya uang. Tapi dapatkah Dang Tuanku mengingat kembali berapa jumlah prajurit kita yang mati di Padang Sibusuk melawan tentara Majapahit dulu?
DUBALANG : Seratus lima puluh ribu prajurit dan pemuda sukarela. Sepuluh ribu enam ratus tiga pasukan khusus dan tiga puluh dua perwira senior berotak cemerlang.
CINDUA MATO : Siapa yang sebenarnya terhina. Dang Tuanku.
DANG TUANKU : Kita! Sekaligus negara!
CINDUA MATO : Apakah Puti Bungsu lambang kehormatan bagi kerajaan? Sehinga seluruh rakyat harus memikul tanggung jawab?
DANG TUANKU : Ya.
CINDUA MATO : Tidak. Itu hanya persoalan pribadi Dang Tuanku.
DANG TUANKU : Tidak. Kini menjadi persoalan kerajaan. Dubalang. Direbutnya Puti Bungsu oleh Imbang Jaya, apakah kau tidak merasa terhina sebagai Rakyat Minangkabau? Padahal kau tahu Puti Bungsu calon istri dari Putra Mahkota?
DUBALANG : Sangat terhina! Bahkan saya bersedia mati untuk membalaskan penghinaan ini!
DANG TUANKU : Cindua Mato. Kau dengar bukan?
DUBALANG : Dan saya bersedia dikirim untuk merebut Puti Bungsu.
DANG TUANKU : Cukup Dubalang. Kesetiaanmu memang pantas ditiru.
CINDUA MATO : Aku mengerti. Tapi kalau kita bertanya pada rakyat, manakah yang akan dipilihnya – berperang untuk merebut Puti Bungsu atau bekerja keras untuk kemakmuran dan kemajuan negeri ini – semua pasti memilih yang kedua.
DANG TUANKU : Bagi mereka yang mengerti dengan harga diri dan kehormatan akan memilih yang pertama.
DUBALANG : Saya memilih keduanya.
DANG TUANKU : Belum waktumu bicara, Dubalang!
CINDUA MATO : Dia juga punya hak bicara. Dang Tuanku.
DANG TUANKU : Hanya untuk mendengar dan menjawab kalau ditanya.
CINDUA MATO : Tapi dia juga punya pikiran untuk menentukan pendiriannya.
DANG TUANKU : Pendirian begitu bukan bagi Dubalang! Bukan urusannya.
CINDUA MATO : Bukan urusannya, memang. Urusan merebut Puti Bungsu tentu juga bukan urusannya. Hanya urusan Dang Tuanku sendiri.
DANG TUANKU : Kau selalu mencegah apa yang akan aku lakukan. Aku tahu Cindua Mato! Kau tidak senang menjadi orang bawahan di istana ini. Biarpun kita bersaudara seayah, tapi berlainan ibu, aku punya alasan untuk meragukanmu.
CINDUA MATO : Apa ukuran bagi kesetiaan? Kalau memang untuk kepentingan semua kehidupan rakyat, aku bersedia melakukan segalanya!
DANG TUANKU : Jangan pakai kata rakyat. Kau tidak berhak mengatasnamakannya.
CINDUA MATO : Jangan gunakan rakyat untuk kepentingan pribadi. Merebut Puti Bungsu bukanlah persoalan rakyat.
DANG TUANKU : Tapi persoalan negara! Penghinaan pada kerajaan ini lewat diriku.
CINDUA MATO : Jangan gunakan kata negara, kalau seorang putra mahkotanya khawatir terhadap kesetiaan calon istrinya.
DANG TUANKU : Cindua Mato!
DUBALANG : O, telah terjadi pertengkaran antara dua saudara …
DANG TUANKU : Diam Dubalang! Belum waktumu bicara.
CINDUA MATO : Dang Tuanku. Saya pun bisa emosi dalam pembicaraan seperti ini. Izinkan saya meninggalkan tempat ini. Besok saja dilanjutkan.
DANG TUANKU : Tunggu dulu. Tugas yang kuberikan belum kau jawab untuk disanggupi.
CINDUA MATO : Apa gunanya aku diberi tugas kalau kesetiaanku diragukan?
DANG TUANKU : Ingat Cindua Mato. Nasibmu ditentukan dalam keadan seperti ini.
CINDUA MATO : Tanpa boleh memberikan pertimbangan-pertimbangan
DANG TUANKU : Pertimbangannya di sini (menyerahkan pedang)
CINDUA MATO : Apakah Dang Tuanku tidak menyangsikan aku, kalau sekiranya aku gagal?
DANG TUANKU : Kegagalan milik semua orang, tapi bagimu penentuan hak selanjutnya apakah kau masih pantas disebut kesayangan Bundo Kanduang, atau Bujang Kacinduan.

PUTARAN KEDUA
Sebagaimana pada putaran I, putaran kedua ini dan putaran-putaran selanjutnya berbentuk sama; Randai atau Indang. Namun berbagai variasi dapat dikembangkan dari kedua bentuk kesenian tersebut. Pantun dan syair-syair mereka mengisahkan tentang :
Istana Pagaruyung mendengar berita perkawinan Puti Bungsu dengan Imbang Jaya. Basa Ampek Balai juga sudah bersidang, namun belum memutuskan apakah akan melakukan perang atau tidak.
Sementara itu Dang Tuanku dan Cindua Mato juga terus mencari jalan, bagaimana untuk merebut kembali Puti Bungsu.
Setelah semua pemain kembali ke tempatnya, Cindua Mato dan Dang Tuanku berdiri dan saling bertatapan.

CINDUA MATO : kakakku Dang Tuanku. Apakah kau betul-betul mencintai Puti Bungsu? Ataukah hanya karena terikat janji Bundo Kanduang dan Rajo Mudo?
DANG TUANKU : begini adikku. Bagiku Puti Bungsu adalah satu-satunya tempat bagiku memberikan kasih sayang. Dialah yang benar-benar dapat kuanggap sebagai wanita. Walaupun dia datang hanya sekali semusim, itu sudah cukup bagiku mencurahkan kasih sayang tanpa dibumbui nafsu-nafsu yang rendah. Banyak sudah wanita yang datang ke kamar, tapi itu hanya sekedar keinginan mereka untuk tidur dengan seorang putra mahkota. Kuladeni semua, sampai aku tercekik, mual dan memuakkan.
CINDUA MATO : Katakanlah kau mencintai Puti Bungsu. Tapi apakah cinta itu terjadi timbale balik? Bukankah Puti Bungsu hanya terikat janji pada orang tuanya dan kepatuhannya sebagai wanita. Siapakah yang tahu tentang hatinya. Perlu kau tahu, kedatangannya sekali semusim ke sini belum tentu karena ingin menemui kekasihnya.
DANG TUANKU : Mengapa kau sampai berkata begitu?
CINDUA MATO : Wanita adalah sebuah buku yang tebal untuk kita. Membuka halaman petama belum tentu kita dapat mengikuti halaman berikutnya.
DANG TUANKU : Tidak. Semuanya tergantung kita.
CINDUA MATO : Hanya wanita-wanita tak berdaya yang menggantungkan semuanya pada laki-laki.
DANG TUANKU : Bila Puti Bungsu tidak menerima diriku hadir dalam hatinya, siapa lagi yang akan menerima hatiku dalam dirinya?
CINDUA MATO : Kau selalu merasa kesepian tapi kukira karena kita tidak merasakan kasih sayang seorang ayah. Pernah kutanya Bundo Kanduang, jawabnya hanya air mata. Sebelumnya kutanya juga ibuku tapi dia hanya membisu. Itulah sebabnya kau dididik secara keras, agar secepatnya dapat menjadi raja. Sedangkan aku harus siap mendampingimu menjaga keutuhan kerajaan dan rahasia-rahasianya. Dalam dunia yang begitu ketat dan kaburnya, kau ingin lupakan dengan berusaha mencintai Puti Bungsu. Tapi sungguh tidak wajar kalau kau gunakan segalanya untuk seorang perempuan. Kau hancurkan kerajaan, dirimu sendiri, hubungan kita berdua, hanya karena Puti Bungsu.
DANG TUANKU : Bila kita mencintai seseorang tak ada lagi yang tersisa buat kita. Semuanya habis dan lebur diuntukkan baginya.
CINDUA MATO : Keberanianmu berkorban kukagumi. Tapi kenapa kau tak berani mengorbankan diri untuk rakyatmu?
DANG TUANKU : Ambillah semua. Mahkota, kerajaan ini, rakyatnya, asal Puti Bungsu dapat diserahkan padaku. Aku hanya ingin dia, tak lebih.
CINDUA MATO : Begitu yakinnya kau Puti Bungsu juga mencintaimu. Padahal dia akan dikawinkan dengan Imbang Jaya. Dia tidak mau lari, apakah itu bukti dari cintanya?
DANG TUANKU : Dia dikawal ketat karena seorang putri, calon istriku. Bagaimana mungkin bisa melarikan diri.
CINDUA MATO : Omong kosong. Dia pun bisa bunuh diri kalau memang tidak mau dikawini Imbang Jaya. Aku yakin, kalian berdua tidak saling mencintai, tapi hanya mempertimbangkan kehormatan raja-raja. Agar keturunan kalian nanti bisa mewarisi kerajaan ini lebih kukuh lagi.
DANG TUANKU : Aku percaya pada percintaan.
CINDUA MATO : Tapi kau tidak percaya pada diri sendiri. Kau gunakan segala apa yang ada, yang berada di luar dirimu sendiri.
DANG TUANKU : Kalau tidak kugunakan, bagaimana aku bisa mendapatkannya.
CINDUA MATO : Kalau kau mau ada cara lain.
DANG TUANKU : Apa?
CINDUA MATO : Kubantu sebagai sesama laki-laki.
DANG TUANKU : Apa yang akan kau lakukan.
CINDUA MATO : Aku akan pergi sendiri menjemput Puti Bungsu. Selain kau, tidak boleh ada yang tahu. Dapatkah kita berdua berjanji untuk itu?
DANG TUANKU : Aku bersumpah. Tapi bagaimana kau bisa lolos dari penyamun di Bukit Tambun Tulang?
CINDUA MATO : Bagi mereka yang sudah ajalnya, memang mati di situ. Kalau aku pergi dengan sebuah kepercayaan dan dorongan yang kuat dalam diriku, siapa yang sanggup menghalangi?
DANG TUANKU : Dorongan apakah itu? Karena menolong seorang sahabat, atau karena….
CINDUA MATO : Jangan tanyakan. Itu bagian dari rahasiaku sendiri.
DANG TUANKU : Katakanlah. Rahasiamu adalah rahasiaku.
CINDUA MATO : Untuk hal yang satu ini, kita tak berbagi. Itu sebabnya aku mau membantu sebagai sesama laki-laki.
DANG TUANKU : Sama-sama laki-laki?
CINDUA MATO : (berbicara dengan nada suara dan kecepatan yang lain dari biasanya)
Aku mengerti bagaimana hati lelaki.
Hati lelaki yang dikurung ketakutan masa lalu.
Semua orang pun tahu.
Bagaimana Puti Bungsu berjalan di taman-taman
Seperti kenari dimabuk rindu.
Seperti tak seorang pun tahu
Seorang lelaki berdestar merah muda
Selalu mengikuti diam-diam
Kemudian keduanya berjumpa dalam gelap
Menyatakan cinta, hidup dan masa depan
Dan siapa yang tahu
Tak satu pun wanita yang mau berkorban
Hanya untuk satu laki-laki
Dia juga manusia seperti kita
Punya kesangsian dan suka pada petualangan.
Hanya dia yang tahu..

BUNDO KANDUANG : Enaknya kalian di sini! Tidak tahu malu! Arang telah dicorengkan di dahiku, tapi kau masih bernyanyi-nyanyi. Rajo Mudo akan mengawinkan anaknya dengan seorang lelaki yang tak jelas darimana asal-usulnya.
CINDUO MATO : Bundo Kanduang. Semua orang tahu akan hal itu. tapi mengapa Bundo Kanduang terlalu cepat naik pitam. Bukankah yang salah sebenarnya Bundo Kanduang sendiri. Bundo Kanduang tidak memberi kabar, kapan akan dilaksanakan perkawinan Dang Tuanku dan Puti Bungsu. Setiap orang tentu saja takut kalau-kalau puterinya menjadi perawan tua. Tidak terkecuali Rajo Mudo.
BUNDO KANDUANG : Hmm! Sejak kapan Rajo Mudo belajar memungkiri janji denganku. Cinduo Mato. Kutugaskan kau pergi kesana mengacaukan perkawinan itu. bawa si Binuang sebagai hadiah dariku. Lahirnya kau utusan dari Pagaruyung, batinnya membawa Puti Bungsu ke sini.
CINDUO MATO : Bundo Kanduang tentu mengetahui kekuatan Imbang Jaya beserta ayahnya Tiang Bungkuk. Raja yang belum ada tandingannya sampai saat ini.
BUNDO KANDUANG : Itulah sebabnya kau yang ditugaskan. Yang lain tidak akan sanggup melakukannya.
CINDUO MATO : Rajo Mudo adik Bundo Kanduang sendiri. Kalau terjadi pertengkaran lalu menimbulkan peperangan, siapa yang akan menjadi malu? Dan tentu perang saudara itu tidak akan pernah selesai turun temurun. Dan bagaimana nanti nasib rakyat yang selalu dilanda peperangan.
BUNDO KANDUANG : Aku sudah berada di balik itu semua. Jika kau takut katakan saja terus terang. Cindua Mato. Perang bukan suatu barang baru bagi kerajaan.
CINDUO MATO : Mengapa Bundo kanduang sampai hati ingin mengacaukan perkawinan Puti Bungsu. Bukankah yang kawin itu anak Bundo Kanduang juga.
BUNDO KANDUANG : Aku tahu. Tapi aku tidak suka bermenantu orang yang tidak jelas asal usulnya. Yang lebih menyakitkan lagi bagiku, adalah Rajo Mudo itu sendiri! Masihkah dia tak dapat melupakan dendamnya padaku di masa lalu.
CINDUO MATO : Jika perang dilaksanakan dan salah seorang mati terbunuh, apakah masing-masing tega melihat darah saudaranya terucur di tanah ini?
BUNDO KANDUANG : Kupejamkan mataku daripada menanggung malu!
CINDUO MATO : Dan bagaimana kata ayahnya nanti bila kedua anaknya saling berbunuhan? Bundo Kanduang. Aku ingin membuka sedikit selubung hati kita yang tertutup selama ini.
BUNDO KANDUANG : Jadi kau menyetujui perkawinan itu?
CINDUO MATO : Alasan perkawinan bisa macam-macam Bundo Kanduang. Mungkin sekali Imbang Jaya hanya dijadikan sebagai penutup malu.
BUNDO KANDUANG : Penutup malu? Jadi kau menuduh Puti Bungsu telah berbuat yang tidak wajar bagi dirinya sendiri? Kotornya pikiranmu, Cindua Mato! Bagaimanapun sakit hatiku pada Rajo Mudo, tapi aku tak mau menduga-duga hal yang demikian buruknya.
CINDUO MATO : Mungkin juga Bundo Kanduang menyimpan sesuatu bersama Rajo Mudo.
BUNDO KANDUANG : Maksudmu hubungan kami berdua beradik kakak? Cindua Mato. Mungkin kecurigaanmu akan bertambah besar, jika tidak dijelaskan semuanya padamu. Baiklah. Kini kalian semua sudah dewasa dan sudah sepantasnya pula kau mengetahui segalanya. Sebelum itu, maukah kau berjanji?
CINDUO MATO : Janji apa, Bundo?
BUNDO KANDUANG : Setelah semuanya dijelaskan kau bersedia merebut Puti Bungsu.
CINDUO MATO : Bundo Kanduang yang menentukan segalanya. Aku hanya menjalankan apa yang ditugaskan. Tapi sebelumnya aku ingin mengetahui semua rahasia.
BUNDO KANDUANG : Kupenuhi keinginanmu sembari kau memenuhi pula apa yang kuinginkan. Tunggulah di sini. Aku akan memanggilkan penulis sejarah kita.

Tiba-tiba Bundo Kanduang datang……………….
BUNDO KANDUANG : Enaknya kalian di sini! Tidak tahu malu! Arang telah dicorengkan di dahiku, tapi kau masih bernyanyi-nyanyi. Rajo Mudo akan mengawinkan anaknya dengan seorang lelaki yang tak jelas darimana asal-usulnya.
CINDUO MATO : Bundo Kanduang. Semua orang tahu akan hal itu. tapi mengapa Bundo Kanduang terlalu cepat naik pitam. Bukankah yang salah sebenarnya Bundo Kanduang sendiri. Bundo Kanduang tidak memberi kabar, kapan akan dilaksanakan perkawinan Dang Tuanku dan Puti Bungsu. Setiap orang tentu saja takut kalau-kalau puterinya menjadi perawan tua. Tidak terkecuali Rajo Mudo.
BUNDO KANDUANG : Hmm! Sejak kapan Rajo Mudo belajar memungkiri janji denganku. Cinduo Mato. Kutugaskan kau pergi kesana mengacaukan perkawinan itu. bawa si Binuang sebagai hadiah dariku. Lahirnya kau utusan dari Pagaruyung, batinnya membawa Puti Bungsu ke sini.
CINDUO MATO : Bundo Kanduang tentu mengetahui kekuatan Imbang Jaya beserta ayahnya Tiang Bungkuk. Raja yang belum ada tandingannya sampai saat ini.
BUNDO KANDUANG : Itulah sebabnya kau yang ditugaskan. Yang lain tidak akan sanggup melakukannya.
CINDUO MATO : Rajo Mudo adik Bundo Kanduang sendiri. Kalau terjadi pertengkaran lalu menimbulkan peperangan, siapa yang akan menjadi malu? Dan tentu perang saudara itu tidak akan pernah selesai turun temurun. Dan bagaimana nanti nasib rakyat yang selalu dilanda peperangan.
BUNDO KANDUANG : Aku sudah berada di balik itu semua. Jika kau takut katakan saja terus terang. Cindua Mato. Perang bukan suatu barang baru bagi kerajaan.
CINDUO MATO : Mengapa Bundo kanduang sampai hati ingin mengacaukan perkawinan Puti Bungsu. Bukankah yang kawin itu anak Bundo Kanduang juga.
BUNDO KANDUANG : Aku tahu. Tapi aku tidak suka bermenantu orang yang tidak jelas asal usulnya. Yang lebih menyakitkan lagi bagiku, adalah Rajo Mudo itu sendiri! Masihkah dia tak dapat melupakan dendamnya padaku di masa lalu.
CINDUO MATO : Jika perang dilaksanakan dan salah seorang mati terbunuh, apakah masing-masing tega melihat darah saudaranya terucur di tanah ini?
BUNDO KANDUANG : Kupejamkan mataku daripada menanggung malu!
CINDUO MATO : Dan bagaimana kata ayahnya nanti bila kedua anaknya saling berbunuhan? Bundo Kanduang. Aku ingin membuka sedikit selubung hati kita yang tertutup selama ini.
BUNDO KANDUANG : Jadi kau menyetujui perkawinan itu?
CINDUO MATO : Alasan perkawinan bisa macam-macam Bundo Kanduang. Mungkin sekali Imbang Jaya hanya dijadikan sebagai penutup malu.
BUNDO KANDUANG : Penutup malu? Jadi kau menuduh Puti Bungsu telah berbuat yang tidak wajar bagi dirinya sendiri? Kotornya pikiranmu, Cindua Mato! Bagaimanapun sakit hatiku pada Rajo Mudo, tapi aku tak mau menduga-duga hal yang demikian buruknya.
CINDUO MATO : Mungkin juga Bundo Kanduang menyimpan sesuatu bersama Rajo Mudo.
BUNDO KANDUANG : Maksudmu hubungan kami berdua beradik kakak? Cindua Mato. Mungkin kecurigaanmu akan bertambah besar, jika tidak dijelaskan semuanya padamu. Baiklah. Kini kalian semua sudah dewasa dan sudah sepantasnya pula kau mengetahui segalanya. Sebelum itu, maukah kau berjanji?
CINDUO MATO : Janji apa, Bundo?
BUNDO KANDUANG : Setelah semuanya dijelaskan kau bersedia merebut Puti Bungsu.
CINDUO MATO : Bundo Kanduang yang menentukan segalanya. Aku hanya menjalankan apa yang ditugaskan. Tapi sebelumnya aku ingin mengetahui semua rahasia.
BUNDO KANDUANG : Kupenuhi keinginanmu sembari kau memenuhi pula apa yang kuinginkan. Tunggulah di sini. Aku akan memanggilkan penulis sejarah kita.

One thought on “Naskah Randai Cindua Mato

Leave a comment