DWITUNGGAL

Apa yang terjadi dengan bangsa ini seandainya Soekarno – Hatta tidak bertemu? Atau keduanya hidup di jaman yang berbeda? Namun, sejarah tidak pernah berjalan dengan pengandaian.

Garis kehidupan tak pernah ada yang menebak. Soekarno dan Hatta pun tanpa sadar seperti sudah ditakdirkan bakal tampil bersama di panggung sejarah. Menimba ilmu di sekolah-sekolah jempolan, membaca banyak buku, berkenalan dengan orang besar, bahkan meringkuk di penjara, menjadi bagian dari proses itu.

Pertemuan bersejarah di Oranje Boulevard 57 (sekarang Jl. Diponegoro) Jakarta pada tanggal 9 Juli 1942 yang kemudian melahirkan Dwitunggal. Penyatuan dua orang yang berbeda latar belakang, gaya, serta kepribadian. Dua orang yang sedari awal tidak saling menyenangi tapi dipersatukan dalam perjuangan bersama, karena tugas terlalu besar untuk dipikul sendiri-sendiri.

Air mata menetes ke bantal

Pertemuan terakhir mereka terjadi di Rumah Sakit Gatot Subroto, Jakarta, dua hari sebelum Bung Karno tutup usia. Itu mencerminkan kedalaman hubungan mereka sebagai teman seperjuangan.

Putri Bung Hatta, Meutia, mengisahkan,

“Ibu (Rahmi Hatta) mengatakan, bahwa kemarahan mereka satu sama lain, hanya dapat dipahami oleh mereka sendiri, sehingga orang yang tak mengenal Soekarno-Hatta mungkin bisa salah interpretasi. Pada saat-saatnya, mereka saling memaafkan satu sama lain dan pada saat tertentu, respek Bung Karno terhadap Ayah atau sebaliknya sangat kelihatan.

“Pada suatu hari Ayah mengajukan permohonan kepada Presiden Soeharto untuk menengok Bung Karno yang sakit berat. Kami melihat sesuatu yang mengharukan: Pertemuan antara dua proklamator untuk yang terakhir kalinya. Begitu masuk ruangan, Ayah langsung menuju ke kamar tidur Bung Karno sambil berkata: ‘Aa, No, apa kabar?’

“Bung Karno diam saja, memandang Ayah beberapa lama, kemudian mengucapkan kata-kata yang sulit kami tangkap, tetapi kira-kira berbunyi, ‘Hoe gaat het met jou?’ [Apa kabar?].

“Tak lama kemudian, beberapa kali airmata beliau menetes ke bantal, sambil memandang Ayah beberapa lama yang terus memijiti lengan Bung Karno. Beliau malah minta dipasangkan kacamata, agar dapat memandang Ayah lebih jelas lagi.

“Tak ada kata-kata lebih lanjut, namun kiranya hati keduanya saling berbicara. Mungkin juga beliau berdua mengenangkan suka-duka di masa perjuangan bersama sejak puluhan tahun yang silam, masa-masa pergaulan bersama dan mungkin saling memaafkan”

Tugas sejarah telah dituntaskan oleh keduanya. Dwitunggal Soekarno – Hatta meninggalkan kesan dan teladan yang mendalam bagi bangsa ini. Sesuatu yang kini makin langka ditemui.

____________________________________________

Betapa hebatnya drama hubungan dua tokoh raksasa ini, yang jelas berbeda karakter, berbeda cara, tetapi bersatu dalam tujuan jelas, dan tegas, mewujudkan kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Proses kelahiran Dwitunggal dan pertemuan terakhir keduanya yang dramatis – dua hari sebelum Bung Karno wafat – dipaparkan oleh P. Swantoro dalam buku Dari Buku ke Buku Sambung Menyambung Menjadi Satu [2002].

Aku tak punya buku tersebut, tulisan di atas aku salin dari cukilan buku Bapak P. Swantoro yang dimuat di majalah Intisari edisi Agustus 2002. Kisah yang sangat mengesankan tentang pertemuan dan perpisahan dua Proklamator tercinta.

Leave a comment