Betapa banyak kisah teladan Rasulullah yang sudah diceritakan oleh orangtua juga guruku di sekolah. Dari SD sampai kuliah, bahkan sampai setua ini masih tak henti orang-orang berkisah tentang teladan Rasulullah. Secara lisan ataupun lewat tulisan.
Melihat lagi pada diri ini, apa yang sudah aku teladani dari beliau? adakah seujung kuku aku menjalankan apa yang sudah beliau contohkan? beliau yang tak pernah menyuruh kita melakukan sesuatu, tanpa mencontohkannya terlebih dahulu.
Dari sekian buku yang pernah kubaca dan pengajaran dari para guru tersebut, aku sebenarnya sudah menyadari (harusnya sudah paham dan melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari) bahwa segala tingkah laku dan pola hidup Rasulullah sangat cocok dijadikan panduan oleh siapa saja yang menginginkan hidup tenang, sehat dan damai. Beliau bukan hanya teladan untuk umat Islam saja, tapi semua manusia di sepanjang zaman.
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” [QS. Al Anbiyaa’[21] : 107]
Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang tidak membiarkan kita berjalan tanpa pembimbing, meskipun kita (kita? aku aja kayaknya..) lebih suka berjalan semau gue, menginjak bumi Allah dengan penuh sombong dan begitu bodoh juga malas untuk menoleh pada petunjukNya.
Oleh karena itu, Allah mengutus Rasul-Nya yang terakhir, Muhammad Saw. Dan setiap Rasul yang Allah utus selalu dibekali mukjizat, untuk membungkam akal pikiran umatnya, karena kecendrungan kita adalah selalu meminta bukti yang dapat dilihat.
Mukjizat adalah sesuatu yang luar biasa, yang seringkali tidak bisa dinalar oleh akal pikiran kita yang cetek ini. Tapi semua keluarbiasaan itu terjadi karena ijin dan kehendak Allah. Seperti Nabi Ibrahim As, yang tidak hangus dibakar api, tongkat Nabi Musa As, yang bisa membelah lautan, Nabi Isa As, yang bisa menghidupkan burung dari tanah liat, dan mukjizat² Nabi dan Rasul lainnya.
Sayangnya, mukjizat Nabi² terdahulu hanya dilihat oleh orang-orang pada zaman itu, kita sekarang hanya mendengar ceritanya saja karena mukjizat para nabi mulia itu tidak bisa disaksikan lagi. Bagaimana dengan Rasulullah..? jujur saja sewaktu kecil aku menganggap beliau kurang keren karena mukjizatnya gak “Wow” seperti nabi² yang lain. Bagi seorang anak kecil tentu saja keren jika seorang Nabi bisa membelah lautan atau kebal dibakar api. Padahal, sesungguhnya Nabi Muhammad Saw, yang diutus Allah sebagai Nabi dan Rasul terakhir, justru dibekali mukjizat yang tiada duanya.
“Sesungguhnya Allah kuasa menurunkan suatu mukjizat, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui” [QS. Al An’aam[6]:37]
Itulah mukjizat beliau yang abadi dan bisa kita saksikan terus, yaitu Kitabullah, Al Qur’an yang suci. Walau banyak sekali orang yang tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Al Qur’an itu adalah mukjizat beliau yang sangat luar biasa. Al Qur’an adalah Kitab suci yang terpelihara keaslian dan kesuciannya dari campur tangan manusia, meski entah sudah berapa tangan mencoba menodai kesuciannya.
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” [QS. Al Hijr [15]:9]
Allah SWT yang Maha Memelihara segala sesuatu yang ada di alam ini, yang telah menjaga dan memelihara keaslian Al Qur’an. Karena jika mengandalkan kemampuan kita sebagai manusia, yang penuh keterbatasan, tidak mungkin Al Qur’an mampu bertahan dalam keasliannya seperti ketika ia diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw, lebih dari 14 abad yang lalu.
Seperti yang diucapkan Aisyah radhiallahu anha bahwa Rasulullah adalah al-Quran yang berjalan dan akhlak beliau adalah Al-Qur`an. Artinya, sosok Nabi Muhammad saw beserta tingkah laku, petuah, perintah, dan larangannya merupakan realisasi dari ayat-ayatNya. Karena itu, Nabi Muhammad saw dan al-Quran adalah satu-kesatuan yang mestinya kita (kita? iya, aku dan kamu) jadikan pedoman sampai akhir zaman.
Salamun’alaika Yaa Rasulullah, salamun ‘alaika Yaa Habiballah..

