Koes Plus

Koes Plus/Koes Bersaudara pada perangko Indonesia tahun 2020

sumber: wikipedia

Koes Plus , dulunya Koes Bersaudara (Koes Brothers), adalah sebuah grup musik Indonesia yang meraih kesuksesan pada tahun 1960an dan 1970an. Dikenal sebagai salah satu pertunjukan musik klasik Indonesia, band ini mencapai puncak popularitasnya jauh sebelum munculnya perusahaan televisi swasta, membawakan lagu-lagu pop dan rock di satu-satunya stasiun TV, TVRI .

Pada tahun 2007, majalah Rolling Stone Indonesia menempatkan 6 album studio band ini dalam daftar 150 Album Indonesia Terbaik Sepanjang Masa . Yaitu Dheg Dheg Plas (1969) pada nomor 4, To The So Called The Guilties (1967) pada nomor 6, Koes Bersaudara (1964) pada nomor 14, Koes Plus Jilid 2 (1970) pada nomor 21, Koes Plus Jilid 4 ( 1971) pada nomor 30 dan Koes Plus Jilid 5 (1971) pada nomor 38. [1]

Selain itu, Rolling Stone memasukkan 10 lagu bandnya ke dalam daftar 150 Lagu Indonesia Terbaik Sepanjang Masa. Lagu-lagunya adalah “Bis Sekolah” (1964) di nomor 4, “Kembali Ke Jakarta” (1969) di nomor 6, “Nusantara I” (1971) di nomor 19, “Kolam Susu” (1973) di nomor 31, “Bunga Di Tepi Jalan” (1971) di nomor 80, “Kelelawar” (1969) di nomor 83, “Manis dan Sayang” (1969) di nomor 88, “Pelangi” (1972) di nomor 92, “Jemu” (1975) di nomor nomor 100 dan “Di Dalam Bui” (1967) di nomor 126.

Hari-hari awal dan kontroversi

Berasal dari daerah Bojonegoro-Tuban di Jawa Timur , band ini dimulai dengan nama Koes Bersaudara (Koes Brothers), awalnya terdiri dari lima bersaudara Koeswoyo: John Koeswoyo, Yok Koeswoyo, Yon Koeswoyo, Nomo Koeswoyo dan Tonny Koeswoyo. Kelakuannya dalam merintis subkultur rock and roll yang dipengaruhi Beatles di Indonesia terbukti kontroversial. Subkultur semacam itu telah dilarang oleh Presiden Sukarno pada awal tahun 1960-an, dan pada tahun 1965 saudara-saudara tersebut ditangkap oleh Komando Operasi Tertinggi (KOTI) karena membawakan cover lagu-lagu Beatles. Mereka akhirnya dibebaskan sehari sebelum kudeta , pada tanggal 29 September. Pengalaman inilah yang melahirkan lagu mereka “Di Dalam Bui”.

Koes Plus

Ketika drummer Nomo berhenti pada tahun 1969, Murry diundang untuk mengisi posisi tersebut, tetapi keputusan tersebut menyebabkan keributan internal karena band ini awalnya diproyeksikan sebagai band keluarga. Perseteruan itu diselesaikan dengan membaptis kembali band tersebut menjadi Koes Plus . Terdiri dari Koeswoyo ditambah orang luar; maka nama. Sejarawan musik berhipotesis bahwa permainan drum Murry yang beratlah yang menyebabkan band ini memasukkan lagu-lagu rock ke dalam album-album mereka yang umumnya penuh balada.

Hari-hari awal Koes Plus sulit, karena perusahaan rekaman bersikeras menolaknya. Murry menjadi frustrasi di beberapa titik dan keluar dari band untuk sementara waktu, mendistribusikan rekaman mereka secara bebas serta bergabung dengan beberapa band lainnya. Baru setelah lagu-lagu mereka diputar di jaringan radio negara, mereka baru mendapatkan ketenaran yang cukup besar.

Koes Plus tidak pernah memiliki hak hukum apapun atas karyanya; mereka hanya menerima bayaran tetap sekitar 3 juta rupiah untuk setiap album yang mereka rekam. Meskipun hal ini berarti bahwa label rekaman mereka bersedia memproduksi album Koes Plus dalam jumlah besar karena investasi yang kecil, hal ini juga berarti bahwa band ini tidak pernah menikmati royalti dalam bentuk apa pun setiap kali karya mereka direproduksi.

Gaya bermusik

Warna musik Koes Plus terpengaruh kelompok-kelompok musik barat yang populer pada tahun 1960-an & 1970-an, tetapi originalitas karyanya tetap terlihat. Koes Plus berani bereksperimen dengan genre musik yang luas, yang tampak pada berbagai album yang dirilisnya. Ini merefleksikan persaingan berbagai aliran musik Indonesia di masa 1970-an. Selain bermain pada aliran pop (dengan sentuhan rock & roll) sebagai ekspresi utama, mereka juga mengeluarkan album bergenre dangdut/melayu, pop keroncong, pop berbahasa Jawa (dengan sentuhan lelagon & langgam Jawa maupun musik melayu) mau pun asing (bahasa Inggris & Prancis), bahasa daerah (bahasa jawa & batak), pop anak-anak, pop qasidah & juga folk. Adapun sentuhan jazz dan blues pada lagu mereka.

Pengaruh dan warisan

Lagu-lagu karya mereka juga dibawakan oleh pemusik dan musisi lain, baik dalam kolaborasi maupun mandiri dengan garapan aransemen baru. Untuk memberikan beberapa contoh: Ernie Djohan & Arie Koesmiran pernah mengeluarkan album berkolaborasi dengan Koes Plus; kelompok vokal Lex’s Trio & komposer Erwin Gutawa membuat album yang khusus menyanyikan ulang lagu-lagu Koes Plus. Lagu Cintamu T’lah Berlalu dinyanyikan ulang oleh Chrisye, serta Manis & Sayang yang dibawakan oleh Katara Singers, Andy /rif & Kahitna, dan masih banyak puluhan band atau penyanyi yang membawakan lagu kelompok ini pada album mereka sejak 1969 sampai kini. Selain pemusik tingkat nasional, berbagai grup band juga banyak yang mengkhususkan diri memainkan lagu-lagu karya Koes Plus pada berbagai pertunjukan panggung; mereka menyebut dirinya “pelestari” (tribute band). Selain itu, sejumlah stasiun radio juga memiliki slot acara yang khusus memainkan lagu-lagu karya Koes Plus maupun grup yang terkait seperti Koes Bersaudara, No Koes, dan Murry’s Group. Selain itu, Wawan Bakwan (mantan vokalis Teamlo) juga mendirikan grup musik yang memparodikan Koes Plus & Koes Bersaudara dengan nama Plus Plus & sering aktif di berbagai event on-air maupun off-air.

Diskografi Koes Plus

  • Dheg Dheg Plas (1969)
  • Natal bersama Koes Plus (1970)
  • Volume 2 (1970)
  • Volume 3 (1971)
  • Volume 4: Bunga di Tepi Jalan (1972)
  • Volume 5 (1972)
  • Volume 6 (1973)
  • Volume 7 (1973)
  • Volume 8 (1973)
  • Volume 9 (1973)
  • Christmas Songs (1973)
  • Volume 10 (1974)
  • Volume 11 (1974)
  • Volume 12 (1974)
  • Qasidah Volume 1 (1974)
  • Natal bersama Koes Plus (1974)
  • The Best of Koes Volume 1 (1974)
  • The Best of Koes Volume 2 (1974)
  • Pop Anak-anak Volume 1 (1974)
  • Another Song for You (1974)
  • Pop Melayu Volume 1 (1974)
  • Pop Melayu Volume 2 (1974)
  • Pop Jawa Volume 1 (1974)
  • Pop Jawa Volume 2 (1974)
  • Pop Keroncong Volume 1 (1974)
  • Pop Keroncong Volume 2 (1974)
  • Volume 13 (1975)
  • Volume 14 (1975)
  • Selalu di Hatiku (1975)
  • Pop Anak-anak Volume 2 (1975)
  • Pop Melayu Volume 3 (1974)
  • Pop Jawa Volume 3 (1974)
  • In Concert (1976)
  • History of Koes Brothers (1976)
  • In Hard Beat Volume 1 (1976)
  • In Hard Beat Volume 2 (1976)
  • In Folk Song Volume 1 (1976)
  • Pop Melayu Volume 4 (1976)
  • Pop Keroncong Volume 3 (1976)
  • Pop Jawa Irama Melayu (1976)
  • Pop Jawa Volume 4 (1977)
  • Bersama Lagi (1978)
  • Melati Biru (1978)
  • Pop Melayu Cubit2an (1978)
  • Melepas Kerinduan (1979)
  • Berjumpa Lagi (1979)
  • Aku dan Kekasihku (1979)
  • Pop Melayu Angin Bertiup (1979)
  • Jeritan Hati (1980)
  • Sederhana Bersamamu (1981)
  • Asmara (1981)
  • Medley 13 Tahun Karya Koes Plus (1981)
  • Pop Melayu Oke Boss (1981)
  • Medley Dangdut 13 Tahun Karya Koes Plus (1981)
  • Koperasi Nusantara (1982)
  • Pop Keroncong (1982)
  • Da Da Da (1983)
  • Re-Arrange I & II (1983)
  • Koes Bersaudara Plus Garuda Pancasila (1983)
  • Angin Senja dan Geladak Hitam (1984)
  • Palapa (1984)
  • Pop Memble 84 (1984)
  • Album Nostalgia: Platinum 1 (1984)
  • Album Nostalgia: Platinum 2 (1984)
  • Ganja Kelabu (1985)
  • Cinta di Balik Kota (1987)
  • Lembah Derita (1987)
  • Milik Illahi (1987)
  • AIDS (1987)
  • Jumpa Pertama (1988)
  • Sakit (1988)
  • Nasib (1989)
  • Reuni (1990)
  • Kidung Jawa Pit Kopat-Kapit (1990)
  • Asam di Gunung, Garam di Laut (1991)
  • Dangdut 91 Amelinda (1991)
  • Reggae (1991)
  • Mata Bertemu Mata (1993)
  • Sedih (1993)
  • Ultimate Collection Vol. 1 (1993)
  • Ultimate Collection Vol. 2 (1993)
  • Ultimate Collection Vol. 3 (1993)
  • “Tak Usah Kau Sesali” (1994)
  • Pantun Berkait (1995)
  • Pop Melayu Putus Cinta (1996)
  • Kasih 96 (1996)
  • House Music 96 (1996)
  • “Rindu Kamu” (bersama Deddy Dores) (1997)
  • Disco House Music (1998)
  • Nusantara 2000 (1998)
  • Akustik (1998)
  • Takdir Kehidupanku (1998)
  • Pop Keroncong Abadi (1999)
  • Burung Dara (bersama Ian Antono) (1999)
  • Back to Basic (1999)
  • Love Song Koes Plus (bersama Billy J. Budiardjo) (1999)
  • Melaut bersama Koes Plus (2006)

Koes Plus Pembaharuan

  • Song of Porong (2009)
  • Curiga (2011)

Neo Jibles – Katresnan (Koes Plus)

Leave a comment