
sumber: https://www.hariansinggalang.co.id/opini/1810/musibah-galodo-bagaimana-akal-lagi
oleh: Khairul Jasmi
Apa solusi jangka panjang pemerintah untuk kampung-kampung kita yang dihantam galodo? Para ahli ada solusi? Bukankah sudah berbulan-bulan debu kepundan Marapi menumpuk berton-ton. Apa tak tahu jika hujan, akan jadi bencana? “Kita akan ke kita akan saja pemerintah ini.”
Makanya kemudian, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengakui pemerintah lengah dalam menangani bencana banjir bandang lahar dingin di Sumatera Barat, sebagaimana dilansir CNN.
Lalu adakah solusi? Adalah, tapi apa bisa atau kapan dieksekusi? Jalan rusak saja dibiarkan. Jembatan kecil berkaki empat, membuktikan secara akurat dua kali rakyat kena galodo dalam waktu berdekatan. Kafe di tepi Batang Anai itu, alamak.
Galodo memang mengerikan. Tiba-tiba saya teringat galodo Marapi 1979, tapi yang 2024 ini lebih parah dan luas. Istilah galodo memang dikenal luas sejak akhir 70-an itu karena pemberitaan surat kabar.
Banyak nagari di kaki Marapi sudah merasakan galodo dan di kaki Singgalang, juga. Sementara daerah lain seperti di kaki Sago dan Kerinci, mengalami hal yang sama.
Pemerintah mencatat jumlah korban dan kerugian. Sayang, belum mengelola kehidupan dan pemukiman di alam yang indah permai ini. Di pantai, danau, sungai, lembah dan gunung. Belum sampai program ke sana, tapi bencana tak menunggu hal itu. Dalam pola pemukiman tradisional, rakyat mendirikan rumah sepanjang jalan, atau sepanjang sungai. Makin ramai penduduk, kian berlapis rumah ke belakang. Lalu, kian tak beraturan. Berpuluh tahun lamanya, anak sungai dari gunung, tak ada masalah, tiba-tiba sekarang terjadi. Itulah musibah datang sedundun dengan letusan gunung.
Kasus Lembah Anai, lain lagi, itu kesalahan. Yang juga salah, membangun jembatan kecil berkaki empat di Bukit Batabuah. Kesalahan atau kelalaian berikutanya pemerintah tidak membaca dengan cermat peringatan dini dari BMKG. Akibatnya, info penting itu tak terkomunikasikan secara berjenjang ke bawah. Dalam istilah saya, “sudah berdaun,” muncung orang BMKG mengingatkan.
Bencana alam ini, merenggutkan kenyamanan kampung-kampung kita, sekaligus menimbulkan kesadaran dan solidaris bersama. Musibah yang sama menyisakan banyak kisah, apalagi tentang kematian sia-sia. Juga tersisa emas yang disimpan dalam kaleng biskuit yang dihanyutkan galodo 2024, tapi kemudian ditemukan kembali. Beda dengan 1979, kabarnya ada rupiah emas disimpan dalam senter, hanyut dan tak bertemu lagi. Entah iya entah tidak.
Yang pasti, galodo menimbulkan korban manusia, harta benda. Juga menggerus sisi kemanusiaan kita. Musibah ini lampu merah bagi pemerintah, mengurus rakyat tidaklah gampang, apalagi membantu mereka terhindar dari bencana alam.
Mana tahu ada kampung yang perlu direlokasi atau ditata ulang, ketimbang kena dua kali. Waktu 1979, jalan keluarnya trasmigrasi lokal ke Sitiung. Karena itu saran saya, pemprov buatlah tim yang gerak cepat periksa semua nagari kaki gunung, apanya yang mesti dipelok. Ke alau “kita akan ke kita akan saja,” sama dengan: berunding ke berunding, Palestina dibom juga. Agak hambar pusar saya tapi tak boleh pesimis, mana tahu pemprov sigap di luar dugaan saya. Dan untuk semua korban galodo, saya mengucapkan duka yang dalam. Apa yang Anda rasakan sekarang telah saya alami 1979 tatkala kampung kecil kami, Supayang, di kaki Marapi disapu galodo.
________________________________
Update Galodo Sumbar: Korban Meninggal 67 Orang, 20 Warga Masih Hilang (16 Mei 2024)
Wilayah yang terdampak dari peristiwa galodo dan banjir besar pada Sabtu,11 Mei 2024
Bencana di Kabupaten Agam berdampak besar terhadap tiga kecamatan, yakni Kecamatan Canduang, Kecamatan Sungai Pua dan Kecamatan IV Koto. Peristiwa ini menyebabkan sejumlah korban jiwa dan membuat akses jalan terputus. Sebanyak 19 orang korban jiwa meninggal dunia dan 16 luka-luka.
Di Jembatan Kasiak, Simpang Bukik Jorong Kubang Duo Koto Panjang, Nagari Bukik Batabuah, Kecamatan Canduang, Ahad (12/5/2024) pagi, material banjir bandang berupa batu, pohon dan pasir, masih menutup aliran air di bagian jembatan tertutup.
Galodo juga menerjang nagari yang berada sepanjang aliran Sungai Batang Lona yang berhulu dari Gunung Marapi dan melalui Kecamatan Limakaum, Rambatan hingga bermuara di Batang Selo di Kecamatan Tanjung Emas.
Banjir besar juga menimpa Kawasan Lembah Anai, Kabupaten Tanah Datar. Banjir bandang ini memutuskan jalan lintas dan memporakporandakan bangunan yang ada di sepanjang tepian Batang Anai.

