
oleh: Hasanudin Abdurakhman
Setelah paham dengan adanya rasa sakit dan penderitaan (pain) dalam pengasuhan anak, Anda harus paham pula bahwa mengasuh dan membesarkan anak itu butuh biaya. Sama seperti rasa sakit tadi, makin besar anak, makin besar pula biayanya.
Saat Anda memutuskan untuk punya anak, pastikan Anda berdua sehat. Istri khususnya harus dipastikan bebas dari berbagai virus yang bisa mengganggu pertumbuhan janin. Ingat, ada potensi anak Anda cacat kalau ibunya mengidap virus tertentu. Pemeriksaan kesehatan yang layak untuk calon ibu hamil bisa menghabiskan 4-5 juta.
Selama kehamilan, ibu perlu dijaga kesehatan dan gizinya. Kekurangan gizi saat hamil bisa membuat pertumbuhan janin terhambat. Jadi harus disediakan uang yang cukup untuk memenuhi kebutuhan gizinya. Belum lagi biaya pemeriksaan. Tergantung usia kehamilan, minimal sebulan sekali harus kontrol ke dokter. Ini pun tidak murah biayanya.
Saat persalinan pun butuh biaya yang tidak kecil. Persalinan normal saja sudah bisa menghabiskan belasan juta. Kalau lewat operasi caesar, biayanya lebih banyak lagi. Setelah anak lahir juga makin banyak biaya untuk pemantauan kesehatannya. Belum lagi kalau anak lahir dengan penyakit bawaan.
Lalu, biaya sekolah. Kalau Anda bisa dapat jatah di sekolah negeri yang gratis, bukan berarti semua jadi gratis. Biaya sekolah itu bukan hanya SPP. Ada banyak biaya lain lagi. Apalagi kalau masuk swasta. Paling tidak belasan juta harus disiapkan, hanya untuk uang masuk.
Cukup? Tidak. Masih perlu lagi biaya untuk keterampilan tambahan. Untuk menguasai bahasa Inggris, misalnya, perlu belasan juta per tahun.
Nah, saat anak sudah akan kuliah, biayanya jauh lebih besar lagi.
Jadi, takut? Tidak perlu. Kuncinya, perencanaan. Saat Anda berniat punya anak, kebutuhan biayanya sudah bisa dihitung, baik besarnya maupun jatuh tempo pemakaiannya. Hitung, dan rencanakan. Rencanakan itu maksudnya buat rencana untuk mendapat penghasilan yang memungkinkan Anda bisa menyisihkan dana sebesar kebutuhan tadi sebagai tabungan.
