Legenda Bukit Posuak

sumber: republika.id

Dalam Bahasa Minang, kata posuak memang berarti bolong alias tembus.

Begitu memasuki Jorong Kotogodang Maek, saya langsung dapat melihat sebuah bukit membentang di ujung timur laut sana. Uniknya, pada bagian atas bukit itu terdapat bolongan berbentuk pola seperempat lingkaran seperti habis ditusuk oleh sesuatu, sehingga dari celah tersebut tampak secuil warna biru langit di baliknya.

Itulah Bukit Posuak, landmark Nagari Maek. Dalam Bahasa Minang, kata posuak memang berarti bolong alias tembus. Di beberapa tempat di nagari ini, pemandangan Sungai Batang Maek yang mengalir tenang, atau hamparan sawah-sawah hijau berlatarkan bukit ini sungguh menyejukkan mata.

Celah Bukit Posuak dapat dicapai dalam waktu satu setengah jam dari Jorong Ronah, setelah menempuh rimba-rimba. Sesampainya di sana, pengunjung dapat menyaksikan keindahan panorama Nagari Maek di sebelah barat dan Nagari Gunuang Malintang di sisi timur.

Menurut penuturan penduduk setempat, Barmawi (78 tahun), keunikan Bukik Posuak ini punya nilai daya tarik sendiri bagi wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. “Beberapa turis yang sudah sampai ke sana ada yang berasal dari Amerika Serikat, Belanda, Jerman, dan Jepang,” paparnya.

Ada legenda yang berkembang di kalangan masyarakat setempat mengenai asal muasal bolongan di bukit itu. Konon, dahulu ada seorang sakti bernama Baginda Ali, penguasa Maek dan Gunuang Malintang. Tubuhnya besar dan makannya banyak. Dia digambarkan sebagai raksasa dengan sifat pemurah.

Dikisahkan, ada seorang warga Gunung Malintang berburu rusa tanpa sepengetahuan Baginda Ali. Padahal menurut aturan yang berlaku kala itu, setiap kegiatan perburuan harus mendapat izin dari penguasa itu.

Setelah berhasil menangkap rusa, paha hewan tersebut diserahkan pemburu itu kepada Baginda Ali sebagai upeti. Namun, karena merasa tersinggung, sang raksasa tak mau menerima persembahan itu. Karena murka, diambilnya paha rusa tadi, lalu dilemparkannya sekuat tenaga, hingga mengenai sebuah bukit dan menembus batu besar yang ada di puncaknya.

Paha rusa itu mendarat di atas padang alang-alang di bukit lainnya, yang sekarang disebut Bukit Pao Ruso (Bukit Paha Rusa). Sementara puncak bukit yang bolong itu dinamai Bukik Posuak.

Potensi Wisata Nagari Maek, Kecamatan Bukit Barisan, Kabupaten Limapuluh Kota.

Menyinggung soal objek wisata, Maek tidak kalah dari Lembah Harau yang sering dikunjungi wisatawan. Di Nagari Maek, terdapat beratus-ratus menhir. Menurut sejarawan Universitas Negeri Padang Prof DR Mestika Zed, menhir adalah batu tunggal yang berdiri tegak di atas tanah dan berasal dari periode neolitikum.

Periode neolitikum itu berada antara 6.000/4.000 SM sampai 2000 SM. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Nagari Maek telah berusia beribu-ribu tahun. Tapi uniknya, warga Maek meyakini, sebutan Maek berasal dari bahasa Arab, Mahad.

Adapun Ma’had sejatinya merupakan kata benda yang menunjukkan arti tempat dan waktu. Ma’had diyakini berasal dari kata Ahad yang berarti berjanji. Dengan demikian, Ma’had sebenarnya bukan hanya memiliki arti pondok pesantren, tempat dan waktu untuk memenuhi janji.

Terlepas dari itu, warga Maek bangga kampung mereka menjadi kampung tertua di Minangkabau. Tidak terhitung banyaknya, peneliti asing, sejarawan dalam negeri, dosen dan mahasiswa sejarah yang datang ke Maek, untuk melihat menhir. Ini tentu menjadi objek wisata pula.

Selain menhir, Maek juga memiliki Bukit Posuak atau bukit yang berlubang. Bukit Posuak berada di Jorong Sopan Tanah. Bersama dengan Bukit Posuak, Maek juga memiliki air terjun yang tak kalah indahnya, yakni air terjun Sarosah Barasok di jorong Ampang Gadang.

Potensi wisata itu, sebenarnya bisa menambah pendapatan asli nagari Maek maupun pendapatan masyarakat. Sekaligus bisa mengangkat nama daerah. Tapi karena infrastruktur jalan dan jembatan belum bagus, potensi wisata ini belum tergarap.

Leave a comment