Pelukis Wakidi

sumber: wikipedia

Wakidi (lahir di Plaju, Palembang, Sumatera Selatan, 1889 – wafat di Bukittinggi, Sumatera Barat, 1979) adalah seorang pelukis naturalis asal Indonesia yang lukisannya banyak mengandung corak Mooi Indie (Hindia molek). Bersama dengan Abdullah Surio Subroto (1879-1941) (ayah Basuki Abdullah) dan Pirngadie (1875-1936), Wakidi adalah satu di antara tiga pelukis naturalistik Indonesia yang terkemuka di zamannya. Orang tuanya berasal dari Semarang, Jawa Tengah yang bekerja di pertambangan minyak Plaju.

Kehidupan

Wakidi mulai melukis sejak usia 10 tahun. Sebagai guru melukis, Wakidi sempat belajar dengan seorang pelukis Belanda bernama van Dick di Kweekschool, Bukittinggi, Sumatera Barat. Dia lulus dari sekolah itu pada tahun 1908 dan terus mengajar disana. Salah satu muridnya adalah Mochtar Apin yang ia ajar ketika masih muda di INS Kayutanam pada awal tahun 1930an. Meskipun banyak berkarya, hampir semuanya dikoleksi orang, sehingga Wakidi tidak pernah mengadakan pameran lukisannya. Karya-karyanya banyak dikoleksi oleh istana kepresidenan dan sejumlah tokoh penting, seperti wakil presiden Indonesia, Mohammad Hatta dan Adam Malik.


Beberapa Karya Wakidi

oleh: Nasbahry Couto

Karya seni bukanlah semata untuk dipahami, tetapi untuk dinikmati. Seni dapat  menembus waktu, angan-angan dan kerinduan yang tidak kesampaian, melaluinyalah kita dapat memuja menangis menyesali mengagumi merenung di sepanjang kehidupan yang singkat itu

WAKIDI umumnya tidak tertarik untuk menggambarkan manusia. Ada beberapa alasan, Wakidi tidak menguasai teknik menggambar wajah atau memang tidak suka atau “tuntutan lingkungan? Memang, Sebagai pelukis era “Moi Indie” (India Molek) beliau telah diletakkan dalam peta seni lukis Indonesia yang hanya menggambarkan keindahan alam.  Uraian di bawah ini bukan untuk menolak pernyataan itu, baguslah ada tokoh seni lukis Indonesia yang tumbuh dan berkembang di tanah Minangkabau (Sumatera Barat). Setidaknya tercatat dalam sejarah seni lukis Indonesia. Oleh karena itu tulisan ini hanyalah sekedar menambah apa yang telah ditulis sebelumnya, namun mungkin ada hal yang baru yang belum terpikirkan oleh orang.

Sebagai pendatang ada jarak budaya, karena beliau adalah orang “seberang” (Semarang) yang dibesarkan di Sumatera, dan menjadi “urang sumando”. Istreri pertamanya orang Talu, dan yang kedua orang Kamang, Bukittinggi (setelah meninggal istri pertama). Oleh karena itu pergaulannya dengan lingkungan hanya sebatas lingkungan keluarga dan kelompok terdidik di Bukittinggi. Hal ini menempatkan Wakidi  sebagai figur tersendiri yang dihargai masyarakat sebagai  pelukis yang berbeda dengan masyarakat umumnya. Namun bukan berarti Wakidi tidak “mengikuti selera” lingkungannya, justru dengan diskusi-diskusi dan “pesanan lukisan” yang selalu mengarah kepada lukisan “lanskap alam” dan bukan untuk lukisan potret atau “imaji tokoh tertentu”, atau lukisan ekspresif gaya Soejoyono, atau mematrikan sebuah “adegan dramatik”, dan atau sebuah pose tokoh versi Basuki Abdullah. Dia sebenarnya menjawab tuntutan lingkungannya. Dengan pandangan seperti ini, beliau kemudian memusatkan perhatian hanya untuk mengajar dan melukis,  khususnya pemandangan alam dan tenggelam di dalamnya. 

Menurut penulis lukisan-lukisannya bukan sekedar “lukisan lanskap pesanan” untuk di jual ke kolektor, dia melukis sesuai dengan apa yang dia tertarik untuk melukiskannya. Lukisannya adalah semacam catatan-catatan “jejak-jejak” kenangannya, “dalam perjalanan” mengembara ke negeri orang. Dia adalah “penonton” sebagaimana yang selalu ada dalam lukisannya, “orang-orang itu digambar kecil-kecil, dan itu dari jarak jauh. Orang-orang yang berpakaian adat, wanita berkebaya, orang-orang pergi ke pasar, orang-orang yang ditemuinya di jalan, petani, dan dirinya sebagai pengelana. Dan semuanya itu dalam bingkai lanskap alam.     

Kehujan dalam perjalanan dan Wanita Minang (sirca 1969)

Perjalanan (sirca 1950 – 1960)

Bagaimana Ciri Lukisan Wakidi Itu? Apakah ini ciri seni Moi Indie itu?

Bagaimanakah sebenarnya ciri dari lukisannya? dan bagaimana bahasa visual yang dipakainya untuk mengutarakan gagasan-gagasannya ? 

Penulis bergaul dengan Wakidi hampir 6 tahun lamanya, yaitu sejak tahun 1963-1979 (periode SMP-SMA), jadi mungkin agak tahu dengan ciri-ciri lukisan Wakidi, maupun tiruannya. Namun hal yang dapat mengacaukan adalah dimana Wakidi selalu membuat duplikat atau repro lukisan-lukisannya sendiri, sehingga tidak dapat diketahui lagi entah berapa kali beliau membuat repro lukisan, karena selalu saja ada “pelanggan” yang menyukai lukisan yang sama di samping kegiatannya dalam mengajar (guru). 

Mungkin agak mengejutkan bahwa, Wakidi sering menyatakan dirinya bukan “pelukis” tetapi tukang gambar. Apa yang dipikirkan Wakidi saat dia menyatakan sebagai “tukang gambar”? Mungkin  dengan label ini, dia bebas untuk melukis dengan caranya sendiri, seperti merepro lukisan-lukisannya sendiri dan kebebasan-kebebasan lain yang wajib dimiliki oleh orang yang berpredikat pelukis. Seperti yang diketahui, umumnya objek lukisan Wakidi adalah “lanskap alam” atau pemandangan alam, dan itu terbatas pada lanskap alam pegunungan, deretan bukit barisan dan kawasan sekitar kota Bukittinggi, dimana beliau bermukim. Terakhir beliau bermukim dan membuat rumah di Padang. Memang ada beberapa lukisan sewaktu beliau berada di Palembang, yang menggambarkan pemandangan pinggir sungai

Artikulasi lukisan Wakidi

Catatan: Artikulasi adalah bahasa visual atau pengucapan bahasa seni lukis yang ditemukan pada sebagian besar karya seniman. Artikulasi itu bersifat “menyambung”, “menerus” kadang disebut dengan “karakter”, tetapi karakter hanya ditemukan pada “ekspresi”, sedangkan artikulasi dapat ditemukan pada warna, tekstur, garis, sapuan kuas, nada warna dan guratan pada sebuah imaji gambar.

Dari cat air ke cat minyak. Seperti yang penulis amati bertahun lamanya, sebelum melukis, umumnya semua detail lukisan di buat sketsanya terlebih dahulu dengan pensil, baru di lukis dengan cat minyak. Teknik ini memungkinkan beliau melukis bagian-bagian tertentu secara terpisah. (lihat gambar 1 di bawah). Sebagai perbandingan, teknik ini sebenarnya tidak banyak berbeda dengan teknik pelukis modern seperti Chusin Setiakara, yang dipengaruhi teknik melukis China dan Lee Man Fong –yang pada dasarnya berangkat dari teknik cat air (lihat gambar 3). Wakidi juga berangkat dari cat air (water color) tetapi cara penyampaiannya sangat berbeda karena lukisan Cina umumnya mementingkan ekspresi sapuan kuas, dan itu tampa efek cahaya (efek tiga dimensi). Hampir semua lukisan Wakidi adalah pengembangan teknik lukis cat minyak yang berasal dari teknik cat air, atau boleh dikatakan jika gambar sketsa dan cat air itulah yang dikembangkannya menjadi lukisan cat minyak di atas kanvas yang besar.

Perspektif. Dalam menggambarkan lanskap alam umumnya Wakidi mengambil sepertiga dari tinggi kanvas sebagai garis horison, beberapa lukisan mengambil garis tengah tetapi itu jarang dilakukan.

Cahaya dan Bayangan. Kebiasaan yang lain adalah, untuk menangkap suasana, dan cahaya sebab hampir semua lukisan Wakidi menggambarkan waktu sore hari, yang ingin di tangkap adalah permainan cahaya (teknik chiaroscuro) yang jatuh pada bebatuan dan semak-semak, pepohonan, puncak-puncak karang, bukit dan lereng-lereng gunung, lapis demi lapis. Setiap lapisan ini dibuat dengan sangat hati-hati dan detail. Teknik ini mengharuskan memakai pensil yang runcing untuk membuat sketsa dan kuas kecil dan pipih untuk cat minyak (lihat sketsa di bawah, goresan pinsil ini disengaja untuk membuat helaian daun secara detail,lihat gambar 1.). Wakidi jarang membuat sapuan kuas yang kasar dan yang bersifat ekspresif, apalagi sapuan kuas yang lebar dan halus seperti untuk menggambarkan kulit manusia.

Retakan, pecahan, Bongkah dan lapisan berkontur.Ciri lukisan Wakidi yang lain adalah imaji retakan, pecahan, bongkah dan lapisan berkontur. Hal ini tidak hanya di terapkan kepada bebatuan itu sendiri, tetapi terlihat pada lapisan pegunungan yang dilukis (lihat gambar A dan B). Pada air dan detail dinding rumah (gambar 5) dan pada pepohonan (gambar 7)

Warna. Pemakaian warna oleh Wakidi itu khas, karena Wakidi mempunyai teori sendiri tentang warna. Dia membagi warna itu berdasarkan sebutan ” warna cahaya: dan warna “bayangan” dan “warna kontur”. (lihat gambar 8) Darimanakah Wakidi belajar tentang pewarnaan ini. Untuk memahami pewarnaan ini beliau pernah menyuruh kami (yang sedang belajar melukis) untuk jongkok dan melihat melalui selangkang kaki, sehingga kepala terbalik dalam melihat objek, ternyata benar bahwa objek-objek yang dilihat perbedaan warnanya lebih tajam, dan efek-efek violet pada bayangan itu terlihat nyata. Lucu juga. Walaupun Wakidi meniru alam, banyak lukisan Wakidi sebenarnya bukan warna alamiah seperti yang terlihat pada gambar 8. karena mementingkan efek cahaya dan bayangan itu. Tetapi dapat disimpulkan bahwa efek bayangan violet adalah artikulasi warna Wakidi.

Pada gambar C, ciri pewarnaan Wakidi itu masih terlihat, namun efek kontur dan retakan tidak ada.

Anatomi manusia dan Lipatan Kain. Seperti pada lukisan “Wanita minang berkebaya” (gambar 6), terlihat bahwa Wakidi hanya memperhatikan lipatan kain, efek terang-gelap, serta hembusan angin, ketimbang anatomi manusia.

Cat buatan sendiri. Beberapa lukisan Wakidi bukanlah berasal dari cat minyak asli, tetapi cat minyak buatan sendiri. Resep pembuatan cat minyak ini juga diajarkan kepada penulis sewaktu belajar. Tetapi akibatnya kualitas lukisan bisa kurang baik karena lukisan cepat jadi jamuran dan buram.

Gambar 1. Sketsa dibuat sangat detail, pengerjaan bagian-bagian lanskap alam agak bebas, dan meninggalkan bagian-bagian yang lain dan kosong untuk digarap  kemudian seperti contoh di atas (gambar 1). Kadang-kadang bagian bukit dan semak-semak didahulukan di lukis dan bagian langit di buat setelah semua bagian lukisan selesai. Tujuannya sebenarnya untuk menghemat cat minyak yang relatif sulit diperoleh di jamannya, dan melukis dahulu dengan sisa-sisa cat yang ada di palet. Wakidi jarang menggunakan kuas yang besar, kecuali untuk bagian langit. Gambar 2. Lukisan final (Pemandangan di Mahat) Kabupaten Lima Puluh Kota, sekitar tahun 1969, sewaktu mengungsi  dari kota Bukittinggi ke pedalaman Mahat semasa pemberontakan PRRI.

Gambar 4. Wakidi, “Lubuak”, 1973, Water color. Ciri lukisan Wakidi, imaji retakan, bebatuan

Gambar 5. Wakidi, Mencuci di kolam, 1960-an. Teknik Pensil dan cat air. Gambar 6. Wakidi ,Wanita Minang Berkebaya, (1950-an) Water Color.

Lukisan Wanita Minang Berkebaya ini sering di repro menjadi lukisan cat minyak oleh Wakidi, seperti yang disaksikan oleh penulis  sekitar tahun 1968-an. Artinya, jika pelukis moderen melukis berdasarkan foto, maka Wakidi meniru sketsa dan lukisan cat airnya untuk melukis cat cat minyak (oil painting).

Gambar 7. Wakidi, “Perjalanan”, 1950, Water color. Perhatikan cara Wakidi membuat pepohonan, pada dasarnya menerapkan imaji kontur dan retakan berlapis-lapis dan kelompok dedaunan sekalian ranting dan cabangnya.

Untuk warna cahaya Wakidi umumnya menggunakan warna kuning dan merah,  warna bayangan umumnya violet kemerahan atau violet biru. Wakidi boleh dikatakan tidak ada atau jarang menggunakan warna coklat untuk warna bayangan atau daerah gelap seperti gambar 10.

Gambar 10. Lanscape Painting 1890 – 1979. Sumber Gambar MyArtTracker Beta (2014) lukisan ini tidak memperlihatkan ciri-ciri seperti yang di uraikan diatas.

Lukisan Wakidi yang asli, Repro dan yang Palsu

Di bawah ini  (dua yang paling atas) masih penulis kenal sebagai lukisan asli Wakidi. Sedangkan yang lain penulis peroleh dari MyArtTracker Beta 

(http://www.myarttracker.com/node/379877/artworks/by-medium), yang beberapa diantaranya penulis ragukan sebagai karya Wakidi.

Tanda ** masih kelihatan sebagai karya Wakidi

Tanda * Diragukan (mungkin sebagai karya-karya paling awal dari Wakidi atau palsu)

Gambar A. Senja di Dataran Mahat, 1930 – 1970, 94 cm x 1973 cm
Karya ini dikoleksi oleh Presiden pertama RI, Ir. Soekarno di Istana Kepresidenan Jakarta. Gambar didonasikan oleh Enong Ismail.Sumber Gambar Koleksi Sukarno.**

Gambar B. Balai Desa di Minangkabau, Karya ini dikoleksi oleh Presiden pertama RI, Ir. Soekarno di Istana Kepresidenan Jakarta.Sumber Gambar Koleksi Sukarno.**
Menurut penulis balai adat yang digambarkannya adalah Balai Adat yang ada sekarang di Sumani.

Gambar .C. 890 – 1979 – Jenjang Minang Painting Oil on canvas 1993, yang dianggap lukisan Wakidi, Sumber Gambar MyArtTracker Beta (2014) *

Berbagai Peristiwa yang menjadi Kenangan Wakidi yang dituangkan dalam Lukisan

Murid-murid Wanita

Perhatikan karakter wajah wanita, adalah tipe wanita Jawa

Perkawinan dan Nasehat Mertua, di  Kamang Bukittinggi

Mengungsi Tahun 1959 , dalam gerbong kereta api


Mengungsi Tahun 1959 (Peristiwa PRRI) ke daerah Mahat, pedalaman Payakumbuh



Mengungsi Tahun 1959 (Peristiwa PRRI) ke daerah Mahat, pedalaman Payakumbuh

One thought on “Pelukis Wakidi

Leave a comment