
oleh: Hasanudin Abdurakhman
Nasi Padang dan Keragaman Indonesia
Konon cerita ada orang Minang yang bertugas melakukan survei dan mendesain sebuah kota baru. Hasil desain dia, banyak sekali dia buat perempatan. Kenapa? “Biar banyak tempat bagi urang awak untuk membuat warung,” katanya.
Itu adalah anekdot tentang banyaknya warung padang di seluruh Indonesia. Di setiap kota dari Aceh sampai Papua, di setiap perempatan ada warung padang. Begitu bunyi anekdotnya.
Itu adalah anekdot yang berbasis fakta. Benar bahwa di setiap sudut kota di seluruh Indonesia ini ada warung padang. Saya pernah bertemu dengan orang Minang. Dia bercerita bahwa dia pernah pergi ke daerah yang sangat terpencil. Dia meyakini bahwa mungkin di situlah dia akan menemukan tempat tanpa warung padang. Ternyata dia salah.
Apa artinya? Orang Minang dengan masakan khasnya diterima di seluruh Indonesia. Ini harus disyukuri oleh orang Minang. Berterima kasihlah pada setiap kota dengan berbagai sukunya yang menerima budaya Minang dalam bentuk hidangan lezat itu.
Tentu saja barang yang populer banyak yang menirunya. Tak bisa lagi dikatakan bahwa warung selalu dan harus punya orang Minang. Di Yogya dulu warung padang tempat makan saya dikelola oleh orang Jawa. Biasa saja. Warung tegal juga tidak semua punya orang Tegal.
Sebagai urang Sumando (menantu orang Minang) saya sering kecele. Makan di warung padang, saya bicara sama “uda” pelayan pakai bahasa Minang. Eh, dia bengong. Rupanya dia orang Jawa, atau orang Sunda.
Rumah makan favorit saya di Bendungan Hilir (Surya dan Bopet Mini), separuh karyawannya adalah orang Jawa. Saya harus lihat-lihat kalau mau ngomong pakai bahasa Minang.
Artinya apa? Warung padang itu adalah rumah keragaman. Orang Minang bersatu dengan orang dari suku lain untuk mencari nafkah. Sukurilah fakta itu.
Saya sedih ketika segelintir oknum orang Minang merazia warung-warung yang dianggap bukan warung Minang. Apalagi alasannya soal harga. Ini dagang, Uda. Kalau tak sanggup bersaing, jangan bertindak anarkis. Anda semua orang Minang seharusnya beriman, kan? Masih percaya bahwa rezeki itu diatur oleh Allah?
Jangan sampai tindakan segelintir orang itu merusak penerimaan seluruh rakyat Indonesia kepada budaya kuliner Minang.
