Tugas dan Kasih Sayang

oleh: Dian Nugraheni

TUGAS DAN KASIH SAYANG…

1️⃣

Habis nungguin si thole nggantheng Rafael tiga minggu, lalu harus berpisah dulu, bikin aku maupun si thole terlara-lara dan patah hati. Beberapa hari setelahnya, aku teringat dengan sangat kuat adegan-adegan serupa berpuluh tahun lalu.

2️⃣

Ketika masih kecil, aku dan mbakyuku pernah dititipkan untuk diasuh Mbah Kung dan Mbah Utiku, karena ibuku harus meninggalkan rumah untuk menegakkan awal kehidupan, khususnya yang menyangkut masalah ekonomi.

Dalam kurun waktu pengasuhan di tangan Mbah Kung dan Mbah Utiku itu, tentu saja kehidupan aku dan mbakyuku “mubra-mubru”, penuh siraman kasih sayang yang berlebihan dari sepasang Mbah kami. Setiap hari kami dipangku, diuyel-uyel, diciumin, dipeluk-peluk, dibelikan apa saja yang kami pengen, makan apa saja yang kami suka.., ya apalagi Mbahku itu punya warung makan, meski sederhana., intinya aku dan mbakyuku ada dalam asuhan tangan yang tepat.

3️⃣

Malam itu, mbakyuku sudah tertidur pulas sejak sebelom jam sembilan malam di dipan yang berseberangan dengan dipanku, sedangkan aku, nggak bisa tidur, mungkin aku merasa “sesuatu” akan terjadi, sebab kedatangan ibuku untuk menengok aku dan mbakyuku kali itu, agak lain, sikapnya agak canggung, nggak happy kayak biasanya.

Ehh.., bener lho, di ruang tamu, yang berseberangan dengan kamarku yang pintunya terbuka, hanya tertutup oleh korden kain bergambar corak bunga dengan warna tosca, kudengar ibuku berkata terbata-bata, singkat kata, meminta ijin pada Mbah Kung dan Mbah Utiku, untuk membawa aku dan mbakyuku untuk hidup bersamanya di kota B.

Aku bisa bayangkan, Mbah Utiku tak akan banyak bicara, alias, “Ya boleh saja ambil anak-anakmu kalau kamu memang sudah kuat untuk menghidupi mereka..”

Tapi tidak dengan Mbah Kungku.., Mbah Kungku bicara dengan nada suara yang sangat rendah, nyaris berbisik tertahan, tapi lafalnya sangat jelas, bahkan bagiku yang sedang tak bisa segera pulas di dipanku, aku bisa mendengar semuanya.

Mbah Kung bilang, “Aku sing ngopeni anak-anakmu seko bayi jebrol, tak gulawenthah ketika kamu harus pergi mencari hidup.., anak-anakmu tidak kekurangan satu apa di tanganku…”

Ibuku menjawab, sangat pelan, “Kawulo mangertos, Kung.., dan sangat berterimakasih, tapi setidaknya, kawulo ingin juga memberi kebahagiaan untuk anak-anak dengan membawanya tinggal bersama saya..”

Mbah Kung, kali ini suaranya terdengar bergetar, agak emosi, “Yawes, nek rumangsamu kowe wes kuat nguripi anak-anakmu, lan iki keputusan yang terbaik, silakan ambil anak-anakmu, meski itu seperti menarik seluruh otot dalam tubuhku…”

Ketika Mbah Kung mengatakan itu, aku hampir yakin, bahwa ada leleh air mata di wajahnya, yang tentu saja tak pernah kulihat beliau menangis selama ini..

4️⃣

Hening sejenak, lalu kudengar mereka beranjak dan masuk kamar di mana aku dan mbakyuku tergolek di dipan. Aku langsung memeluk guling, menghadap tembok, menyembunyikan mataku yang kriyip-kriyip tak mampu merem.

Ibuku duduk di pinggir dipanku, mengelus kepalaku berkali-kali, lalu kurasakan dia beranjak, mungkin gantian ke dipan mbakyuku. Utiku, kurasa beliau duduk di kursi belajarku, kudengar ketika beliau menyeret keluar kursi dari meja belajarku.

Kemudian aku merasa seseorang duduk di pinggir dipanku, mengelus kepalaku. Ahh, itu tangan Mbah Kungku.

Tak lama, lalu ketiganya keluar, kali ini pintu kamarku ditutup oleh salah satu dari mereka, maka setelahnya aku tak perlu sembunyikan mukaku, dan kembali aku kethip-kethip sampai dini hari.

5️⃣

Besoknya, sepulang sekolah, aku dan mbakyuku dipanggil untuk bicara dengan Ibuku, Mbah Uti dan Mbah Kung.

Mbah Kung yang jadi juru bicara, menerangkan dengan sederhana, bahwa Ibuku akan menjemput aku dan mbakyuku untuk tinggal bersamanya, “Kalian akan pindah sekolah ke sana..”

Mbakyuku langsung tersenyum dan melonjak gembira, tanda setuju.

6️⃣

Mbah Kungku menatapku, “Kowe piye.., kok meneng wae..”

Aku beranjak, dan menggelendot manja seperti biasa pada Mbah Kungku, kupeluk lehernya, sumpah.., sekecil itu aku harus menahan isak dan air mata, entah isak dan air mata apa.., yang jelas aku tak ingin air mataku jatuh.., “Aku nggak mau pindah.., aku mau di sini sama Kung dan Uti…”

Tentu saja Mbah Kung-ku langsung tertawa dan memelukku erat, “Njung, kowe krungu dewe to, anakmu siji iki ora gelem melu kowe..”

Njung adalah kependekan dari nama Ibuku, Tanjung…

7️⃣

Selanjutnya.., aku adalah cucu yang baik, manut ajaran Mbah Kung untuk puasa nganyep minimal tiga hari dalam sebulan sejak usia dini, prestasi sekolah tak pernah jelek, sampai saatnya kuliah keterima PMDK pula. Bagiku ya ini merupakan perjalananku sebagai pelajar, tapi bagi orang tua, adalah suatu kebanggaan tersendiri.

Setiap bulan, aku selalu antarkan Mbah Kung ke kantor pos untuk mengambil pensiun, dan selalu ini yang diucapkan beliau di hadapan teman-temannya para pensiunan yang duduk-duduk di samping kantor pos, “Iki putuku sing paling ayu dewe.., kuliahe neng Gadjah Modo..”😆

Bla.. bla..bla.., kata-kata sanjungan untukku masih lebih panjang, dan disambut celotehan dari teman-teman sepuh Kung-ku dengan gayeng. Aku mah cuek aja, tetep nggandeng tangan Kung-ku dan tebar senyum sopan sana-sini. Ya dulu kala gue masih “manis”, belom ndlahok kayak sekarang..

Setiap bulan aku juga menengok Ibuku dan mbakyuku di kota B. Dalam diam, aku sangat bersyukur, bahwa kehidupan Ibu dan mbakyuku, baik-baik saja, mbakyuku juga happy di lingkungan barunya.

8️⃣

Sampai, aku hampir lulus kuliah saat itu, Mbah Kung-ku sudah pikun, mungkin itu yang disebut dementia.., beliau tak mengenali siapa-siapa lagi dengan pasti.., sorot matanya kosong, tapi setiap aku pulang dari Jogja, dan aku simpuh di pangkuannya, kedua mata tua keabuan itu langsung tersenyum bersinar seperti dulu kala. Dipegangnya kedua pipiku, meski sudah tak berkata apa-apa, tapi beliau tertawa dan kadang meleleh air mata bahagia.., ya.., aku yakin itu air mata bahagia karena melihatku di hadapannya.

Ketika menjelang pikun, Mbah Kung lepaskan burung-burung piaraan dalam sangkar, beliau tata semua dokumen, terutama dokumen untuk pengurusan pensiun untuk Mbah Uti-ku apabila beliau meninggal.

Sampai.., Kung-ku meninggal dengan sangat manis, dalam keadaan memang sudah pengen “pulang”. Beliau “mogok makan” selama enam bulan sebelom meninggal untuk “membersihkan” tubuh dan jiwanya.

Benar-benar meninggal yang “direncanakan”.

Mbah Kung-ku meninggal setelah Ibuku meninggal, jadi sebelomnya ya aku “tugur”, nungguin, ngopenin semua tentang ibuku, gosong dua semester kuliah, dan seterusnya.

9️⃣

Untuk Ibuku, Mbah Kung, Mbah Uti.., aku kira, aku sudah dengan baik melakukan tugas kasih sayangku, hampir tanpa cela sebagai sosok muda. Artinya untuk hal-hal “pokok”, sampai kuliah, lulus, kerja, menikah baik-baik dengan orang dari keluarga baik-baik.., itu sudah bikin para orang tua happy…

Nah, sekarang ini adalah saatnya aku “nggulawenthah” diriku sendiri, dengan tetap bergerak, berkarya, dan bahagiya..

Kalau ada yang bertanya tentang Bapakku yang mukanya kelondo-londoan itu.., jangan khawatir, beliau baik-baik saja, saat itu tetap melukis, berhenti melukis karena kehabisan uang untuk beli cat, kanvas, pigura, dan meninggal kurang dari tiga bulan setelah ditinggalkan Ibuku..😊

Leave a comment