Nagari Limbanang

Limbanang adalah salah satu nagari di kecamatan Suliki kabupaten Lima Puluh Kota,Provinsi Sumatera Barat.

Nagari Limbanang dengan luas wilayah 8,20 km2, terdiri dari 5 jorong :

  1. Limbanang Baruah
  2. Ekor Parit
  3. Penago
  4. Kampuang Dalam
  5. Saut.

Kode Pos Desa Limbanang 26255

Stasiun Limbanang

Stasiun Limbanang adalah Stasiun kereta api nonaktif yang terletak di Limbanang, Suliki, Lima Puluh Kota. Stasiun ini merupakan stasiun terminus dari lintas Padang Panjang-Payakumbuh-Limbanang.

Stasiun beserta jalurnya dinonaktifkan lebih awal, yakni tahun 1933 dan dibongkar pada tahun 1936 karena dianggap tidak menguntungkan. Kini bekas stasiun ini hampir tidak tersisa, hanya tembok nama Limbanang dan Papan aset milik PT KAI.

Pembangunan jalur kereta api di Sumatera Barat tidak lepas dari ditemukannya penambangan batubara Ombilin, di Sawahlunto. Hal ini menjadi penyebab adanya transportasi Kereta api untuk mengangkut Batubara maupun Penumpang.

Setelah Staatsspoorwegen ter Sumatra’s Westkust (Pembuat Jalur di Divre 2) Membangun jalur yang menghubungkan Teluk Bayur dengan Sawahlunto, SSS juga membangun jalur menuju Padangsche bovenlanden melewati Fort de kock hingga ke Payakumbuh dilanjutkan menuju Limbanang(suliki) untuk mengeksploitasi pertambangan emas dan perak yang berada di Mangani

Setelah dibangunnya jalur menuju Limbanang, Jalur ini hanya diprioritaskan untuk hasil tambang tersebut, yang langsung terhubung menuju Pelabuhan Teluk Bayur untuk mengangkut kebutuhan hidup dari kapal hingga dibawa ke Pertambangan Mangani.

Namun, Jalur menuju Limbanang tidak bertahan lama, akibat menipisnya eksploitasi pertambangan di Mangani, hingga rusaknya jembatan sungai lampasi karena tergerus oleh banjir yang membuat rute ini terus merugi. Sehingga pada tahun 1933, segmen Payakumbuh—Limbanang ditutup dan dibongkar, yang hanya menyisakan bekas-bekas fondasi jembatan, dan bekas stasiun Limbanang.

Batu Sandaran Ninik Situs Bersejarah Nagari Limbanang

situs batu sandaran niniak

Keberadaan Batu Sandaran Niniak Nan Barompek di Jorong Limbanang Baruah Kecamatan Suliki Nagari Limbanang merupakan bukti sejarah perjalanan awal kedatangan nenek moyang masyarakat Luak Limo Puluah Kabupaten 50 Kota dan Kota Payakumbuh sampai ke Nagari Limbanang.

Berdasarkan keterangan didalam buku adat salingka nagari Limbanang sejarah ini dimulai dari kedatangan nenek moyang nan barampek yang turun dari Pariangan Padang Panjang bersama 50 orang rombongan mencari daerah baru di pedalaman Sumatera Barat hingga sampai di Padang siontah taman ijuak situjuah batur.

Setelah itu lima orang rombongan itu melanjutkan perjalanan ke pedalaman Luak Limo Puluah, sehingga jumlah rombongan menjadi kurang dari 50 sehingga tersebutlah daerah ini dengan sebutan Luak Limo puluah yang artinyo sudah kurang dari 50. Rombongan itu dikepalai oleh Dt. majo Indo, Dt. Siri Matajo, Dt. Bandaro dan DT. Rajo Dibalai.

Perjalanan mencari nagari baru ini mempertemukan nenek moyang masyarakat Luak limo Puluah tersebut dengan hutan raya atau rimbo padat yang dalam bahasa daerah disebut ” Rimbo Anang ” yang menjadi asal usul nama Nagari Limbanang.

Menhir Batu Sandaran Niniak

Penemuan daerah Rimbo Anang ini oleh nenek moyang masyarakat Luak Limo puluah diprediksi sejarawan belanda, terjadi sekitar tahun tujuh puluh masehi dengan mengambil bukti sejarah penterjemahan Batu Goresan Niniak Nan Dahulu yang terdapat disamping bukti historis Batu Sandaran Niniak yang terdapat Jorong Limbonang Baruah Nagari Limbanang.

Tokoh adat nagari Limbanang Dt. Rajo Mangkuto kepada media mengatakan bahwa Batu Sandaran Ninik merupakan situs bersejarah yang penting. Pelestarian situs bersejarah ini harus mendapat perhatian berbagai pihak.

Sementara itu Dt. Bijo Anso dari KAN Limbanang mengatakan, bahwa KAN Limbanang bersama seluruh ninik mamak berkomitmen untuk memelihara aset adat dan peninggalan bersejarah yang ada di nagari Limbanang termasuk Batu Sandaran Niniak Nan Barompek.

Bumi Perkemahan Guak Lago

Bumi Perkemahan Guak Lago

Bagi yang ingin camping tapi tak punya waktu banyak dan menguras tenaga lebih, tempat ini bisa dijadikan sebagai pilihan tempat camping karena lokasinya yang tidak jauh dari kota Payakumbuh, lebih kurang memakan waktu perjalan selama 30 menit menggunakan kendaraan. Selain itu pemandangannya juga indah dan Instagramable. Fasilitas juga sudah disediakan oleh panitia yaitu kamar mandi / toilet dan mushalla. Harga tiket masuk perorang sebesar Rp 10.000 ditambah biaya parkir kendaraan.

Pasar Kamis Limbanang (Pokan Komih Limbonang)

Pokan Komih Limbonang

Pasar tradisional terbesar di kecamatan Suliki. Menjual berbagai macam kebutuhan masyarakat yang cukup lengkap dan yang pasti harganya sangat terjangkau. Terutama jenis makanan tradisional daerah setempat yang selain murah juga lezat rasanya. Sangat menyenangkan untuk disinggahi.

Leave a comment