Keripik Sanjai

sumber: wikipedia

Keripik Sanjai (bahasa Minangkabau: Karupuak sanjai) adalah sejenis penganan kerupuk dari singkong yang diparut tipis lalu digoreng dan diberi garam sebagai penyedapnya. Kerupuk ini amat populer sebagai makanan oleh-oleh khas Nagari Sanjai, Kota Bukittingi, Sumatera Barat. Daerah ini berjarak tiga kilometer dari pusat Kota Bukittinggi.

Hidangan ini merupakan hasil dari industri rumah tangga masyarakat Nagari Sanjai dengan menggunakan bahan baku ubi kayu dari daerah Gadut, Kecamatan Tilatang Kamang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Hidangan ini menjadi salah satu oleh-oleh khas Kota Bukittinggi dan hidangan ini dapat bertahan hingga dua minggu.

Wisatawan yang hendak melihat proses pembuatan karupuak sanjai secara langsung biasanya akan diarahkan oleh pemandu wisata menuju lokasi Desa Manggis, Kelurahan Manggis Ganting Sanjai, Kota Bukittinggi atau wisatawan dapat menuju Pasar Atas Bukittinggi.

Kerupuk sanjai terdiri dari tiga rasa:

Karupuak Sanjai Tawar adalah kerupuk sanjai yang tidak menggunakan lado (cabai) atau pun gula merah melainkan hanya diberi garam.
Karupuak Balado adalah kerupuk sanjai yang diberi bumbu balado.
Dakak-dakak yaitu varian keripik sanjai yang berbentuk dadu kecil.
Karak kaliang adalah sanjai yang berbentuk angka delapan dan berwarna kuning

Siapa yang menyangka, keripik yang biasanya menjadi oleh-oleh bagi wisatawan Sumatra Barat merupakan sebuah nama kampung, yakni Sanjai. Sanjai merupakan daerah yang berada di Kota Bukittinggi. Dibandingkan dengan kampungnya, kerupuk atau keripiknya lebih dikenal orang Indonesia. Camilan yang berbahan baku singkong itu sudah lama menjadi primadona bagi wisatawan yang berkunjung ke Ranah Minang.

Keripik ini awalnya merupakan cemilan bagi anak-anak di Sanjai, begitulah kata Agus Rizal, keturunan keempat dari penggagas keripik Sanjai. Dia bercerita bahwa Kampung Sanjai dulunya mayoritas masyarakat berkebun singkong. Hasil kebun sering bersisa, lalu dibuatkan keripik untuk cemilan anak-anak.

“Karena orang dulu punya banyak anak, jadi untuk camilan, nenek-nenek ini berinisiatif membuat dari hasil kebun, dibikin keripik dan digoreng secara manual saja, setelah itu ternyata diminati. Kurang lebih sebelum kemerdekaan. Kalau saya sudah keturunan ke-4,” katanya.

Setelah itu, para nenek tersebut mencoba untuk menjualnya ke pasar, ternyata banyak peminatnya. Karena tidak tahu nama yang pas untuk keripik itu, lalu dilabelilah dengan nama daerah asalnya, yakni Sanjai.

“Samalah seperti daerah lain, kalo di Kamang kan ada Kerupuk Kamang,” katanya.

Menurut cerita turun temurun, orang yang disebut sebagai penggagas kerupuk Sanjai tersebut yakni ada Upik dan Aminah. Pada umumnya para pengrajin yang sekarang itu dulunya bekerja dengan dua orang tersebut, termasuk pengusaha Sanjai yang tampak di tepi jalan lintas itu.

Leave a comment