
sumber: radarkediri
Kabupaten Nganjuk dikenal sebagai penghasil brambang. Tak tanggung-tanggung, Kota Angin tercatat sebagai penghasil brambang nomor dua nasional. Kabupaten Nganjuk hanya kalah dari Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Istimewanya, meski berada di urutan kedua tetapi secara kualitas, brambang Nganjuk menduduki urutan pertama.
“Brebes itu kakak tertua Kabupaten Nganjuk. Mereka menang start,” ujar Akad, Ketua Asosiasi Bawang Merah Jawa Timur. Selain start lebih dulu, Brebes juga memiliki lahan brambang lebih luas dibandingkan Kota Angin. Tercatat di Brebes, lahan pertanian brambang mencapai 30 ribu hektare. Sedangkan, Kabupaten Nganjuk hanya sekitar 14 ribu hektare hingga 17 ribu hektare.
Meski luas lahan di Nganjuk kalah jauh dibandingkan Brebes tetapi secara produksi tidak terpaut jauh. Ini karena satu hektare lahan di Nganjuk bisa menghasilkan hingga 20 ton brambang. Jauh berada di atas Brebes yang satu hektarenya hanya bisa memproduksi 14 ton saja. “Tingginya jumlah produksi itu membuat bawang merah Nganjuk lebih unggul,” tandas Akad.
Jika lahan brambang di Nganjuk ditambah atau menyamai lahan brambang di Brebes maka otomatis, Kota Angin akan menjadi penghasil brambang nomor satu di Indonesia. Sehingga, sang adik akan bisa mengalahkan kakak tertuanya.
Selain produksi bawang merah yang tinggi, ukuran brambang di Nganjuk lebih kecil. Ukuran brambang hanya 2,5 sentimeter saja. Sedangkan di Brebes, ukuran brambang rata-rata mencapai 3 sentimeter. Akad menjelaskan, penyebab umbi yang lebih kecil disebabkan karena jarak tanam yang rapat.
Di petani Nganjuk, rata-rata jarak tanamnya hanya sepuluh sentimeter. Harusnya bisa lebih renggang. Seperti di Brebes, jarak tanamnya mencapai 15 sentimeter. “Jarak 15 cm itu jarak yang ideal untuk tanaman bawang merah. Petani Nganjuk perlu edukasi terkait dengan jarak tanam itu,” ujarnya.
Selain mengedukasi petani untuk jarak tanam, Ketua Asosiasi Bawang Merah Jawa Timur itu juga punya pekerjaan rumah yaitu menambah luasan wilayah tanam. Dia optimistis brambang Nganjuk bisa mengungguli Brebes.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Nganjuk Muslim Harsoyo melalui Kabid dan Perizinan Usaha Pertanian Agus Sulistyono mengatakan, di tahun 2022, produksi brambang Nganjuk mencapai 193.998,1 ton. Brambang tersebut dihasilkan hampir seluruh kecamatan di Kota Angin. Namun, untuk penghasil terbanyak tetap dipegang lima kecamatan. “Rejoso, Gondang, Bagor, Wilangan, dan Sukomoro tetap menjadi lima penghasil brambang terbesar di Nganjuk,” ujarnya.
Brambang Nganjuk memiliki rasa yang khas. Berbeda dengan brambang dari daerah lain. Bagi pencinta kuliner, sensasi rasa brambang Kota Angin tidak dijumpai di daerah lain. Inilah yang membuat brambang Nganjuk lebih banyak diburu.
“Brambang Nganjuk itu rasanya mantap,” ujar Kepala Bank Jatim Cabang Nganjuk Wardoyo. Sebagai pencinta kuliner, Wardoyo mengaku sangat terkesan dengan brambang Kota Angin. Saat dibuat brambang goreng, sensasi kriuk dan gurihnya membuat lidah bergoyang. Ini karena kandungan air di brambang Nganjuk tidak terlalu banyak atau kurang. Pas. Jadi, saat dibuat brambang goreng, rasanya mantap.
Karena itu, saat memasak rawon, Wardoyo merasakan sensasi brambang goreng yang luar biasa. Apalagi, dia merupakan pencinta rawon. “Saya selalu memasak sendiri. Rawon adalah masakan yang paling banyak yang suka,” ujar banker asal Ngawi ini.
Melihat kualitas brambang Nganjuk yang luar biasa dan potensi produksinya, Wardoyo mendukung jika Brambang Kemenangan menjadi tagline di sektor pertanian. Orang akan lebih mengenal Nganjuk sebagai penghasil brambang kualitas istimewa dibandingkan Brebes, Jawa Tengah. Meski Brebes adalah penghasil brambang nomor satu tetapi brambang Nganjuk memiliki rasa yang mantap dan khas.
Wardoyo mengatakan, potensi brambang yang luar biasa itu menjadi salah satu penopang perekonomian masyarakat Kota Angin. Banyak orang terlibat dan menggantungkan hidupnya dari brambang. Sehingga, brambang perlu mendapatkan perhatian yang serius dari pemkab.
Terpisah, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Nganjuk Muslim Harsoyo melalui
Kabid Perizinan Usaha Pertanian Agus Sulistiyono mengatakan, brambang Nganjuk memiliki rasa yang khas itu karena saat menanam, petani mengurangi pupuk unsur nitrogen. Hal itu membuat kadar air yang terkandung di dalam bawang merah hanya 24 persen.
Kemudian, setelah dipanen, petani tidak langsung menjualnya ke pasar. Namun, dijemur terlebih dulu. Butuh waktu sekitar seminggu untuk menjemurnya. Saat dijemur itu, daun brambang masih dibiarkan menempel. Ini karena petani Kota Angin masih berorientasi jika brambang tersebut akan dijadikan sebagai bibit. Sehingga, setiap rumah petani brambang selalu menyediakan sigiran jemuran brambang yang terbuat dari bambu. Biasanya, diletakkan di depan rumah petani atau tepi jalan raya. “Brambang kita jika diiris itu jadi tidak lembek,” ujar Agus.
