Suku Cirebon

sumber: wikipedia

Pada mulanya keberadaan Etnis atau Orang Cirebon selalu dikaitkan dengan keberadaan Suku Sunda dan Jawa, tetapi kemudian eksistensinya mengarah pada pembentukan budaya tersendiri, mulai dari ragam batik pesisir yang tidak terlalu mengikuti pakem keraton jawa atau biasa disebut batik pedalaman hingga timbulnya tradisi-tradisi bercorak islam sesuai dengan dibangunnya keraton cirebon pada abad ke 15 yang berlandaskan islam 100%.

Eksistensi dari keberadaan suku atau orang cirebon yang menyebut dirinya bukan suku sunda ataupun suku jawa akhirnya mendapat jawaban dari sensus penduduk tahun 2010 di mana pada sensus penduduk tersebut tersedia kolom khusus bagi Suku bangsa Cirebon, hal ini berarti keberadaan suku bangsa cirebon telah diakui secara nasional sebagai sebuah suku tersendiri

Suku Cirebon diakui sebagai entitas suku tersendiri, bukan hanya bagian dari suku Sunda atau Jawa. Hal ini semakin menguatkan identitas khusus masyarakat Cirebon yang membedakan mereka dengan budaya Sunda dan Jawa. 

Elaborasi

Suku Cirebon memiliki bahasa, budaya, dan tradisi yang khas, meskipun ada pengaruh dari kedua suku tersebut. Bahasa Cirebon atau basa Cerbon, misalnya, memiliki ciri khas tersendiri, meskipun mirip dengan bahasa Jawa dan Sunda, namun tidak mengikuti aturan baku bahasa Jawa Mataram atau Sunda. 

Berikut beberapa poin penting yang membedakan suku Cirebon:

  • Bahasa: Bahasa Cirebon merupakan bahasa campuran antara bahasa Jawa dan Sunda, dengan pengaruh bahasa Jawa yang lebih kuat. 
  • Budaya: Suku Cirebon memiliki ragam budaya unik, seperti batik Trusmi, seni wayang babad, alat musik tradisional (angklung bungko), tari tradisional (sintren dan tari topeng), serta upacara adat (ganti welit). 
  • Identitas: Masyarakat Cirebon memiliki rasa kebersamaan dan identitas yang kuat sebagai suku bangsa tersendiri, yang berbeda dari suku Sunda atau Jawa. 

Suku Cirebon secara resmi diakui sebagai suku sendiri sejak sensus penduduk tahun 2010. Mereka juga dikenal sebagai “Wong Cirebon” atau “Urang Cirebon”. 

Suku Cirebon sebagai etnisitas tersendiri

Indikator itu (Suku Bangsa Cirebon) dilihat dari bahasa daerah yang digunakan warga Cirebon tidak sama seperti bahasa Jawa atau Sunda. Masyarakat Cirebon juga punya identitas khusus yang membuat mereka merasa sebagai suku bangsa sendiri. Penunjuk lainnya yang mencirikan seseorang sebagai suku bangsa Cirebon adalah dari Motif Batik yang tidak seperti orang Jawa ataupun Sunda. Namun, belum ada penelitian lebih lanjut yang bisa menjelaskan tentang karakteristik identik tentang suku bangsa Cirebon. Untuk menelusuri kesukuan seseorang, hal itu bisa dilakukan dengan garis keturunan ayah kandungnya. Selain itu, jika orang itu sudah merasa memiliki jiwa dan spirit daerah itu (daerah suku bangsa cirebon) maka dia berhak merasa sebagai suku yang dimaksud.

Pandangan Hidup Suku Cirebon

Pandangan hidup suku Cirebon didasari dari implementasi adat istiadat yang didasarkan pada penjabaran hadis dan al-qur’an, diantara pandangan-pandangan hidup yang dipegang erat oleh masyarakat adat suku Cirebon adalah “petatah-petitih” (bahasa Indonesia: Pesan) dari Syekh Syarief Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) selain petatah-petitih titip tajug (mushala) dan fakir miskin (harus memakmurkan mushala dan merawat fakir miskin) yang sudah dikenal luas, masih ada beberapa petatah-petitih lainnya, diantaranya adalah lima pandangan hidup suku Cirebon yang memiliki kemiripan nilai dengan Pancasila, yaitu

  1. Wedia Ning Allah (Takutlah Kepada Allah)
  2. Gegunem Sifat Kang Pinuji (Mengusung sifat-sifat terpuji kemanusiaan)
  3. Den Welas Asih Ing Sapapada (Utamakan cinta kasih terhadap sesama)
  4. Angadahna Ing Pepadu (Jauhi Pertengkaran)
  5. Amapesa Ing Bina Batan (jangan serakah dalam hidup bersama)

Bahasa

Dahulu Bahasa Cirebon ini digunakan dalam perdagangan di pesisir Jawa Barat mulai Cirebon yang merupakan salah satu pelabuhan utama, khususnya pada abad ke-15 sampai ke-17. Bahasa Cirebon dipengaruhi mayoritas budaya jawa pesisiran lor dan pula oleh budaya Sunda karena keberadaannya yang berbatasan langsung dengan wilayah kultural Sunda, khususnya Sunda Kuningan dan Sunda Majalengka dan juga dipengaruhi oleh Budaya China, Arab dan Eropa hal ini dibuktikan dengan adanya kata “Taocang (Kuncir)” yang merupakan serapan China, kata “Bakda (Setelah)” yang merupakan serapan Bahasa Arab dan kemudian kata “Sonder (Tanpa)” yang merupakan serapan bahasa eropa (Belanda). Bahasa Cirebon mempertahankan bentuk-bentuk kuno bahasa Jawa seperti kalimat-kalimat dan pengucapan, misalnya isun (saya) dan sira (kamu) yang sudah tak digunakan lagi oleh bahasa Jawa Baku.

Leave a comment