KIAMBANG

sumber: wikipedia

Kiambang, kapu-kapu, kayu apu, kayambang atau apu-apu (Pistia stratiotes) adalah tumbuhan air yang biasa dijumpai mengapung di perairan tenang atau kolam. Ia juga populer sebagai tumbuhan pelindung akuarium. Tumbuhan ini adalah satu-satunya anggota genus Pistia. Orang juga mengenalnya sebagai kayu apung atau kapu-kapu. Asal tumbuhan ini tidak jelas namun telah diketahui menyebar di seluruh wilayah tropika dan subtropika. Apu-apu dapat digunakan untuk menyerap logam-logam dalam limbah industri.

Apu-apu biasa digunakan sebagai tanaman hias kolam. Selain itu apu-apu juga sering digunakan oleh para peternak ikan cupang untuk memfilter air agar tetap jernih dan juga sebagai tempat berlindungnya ikan.

Adaptasi fisiologi

Kiambang mengembangkan adaptasi fisiologi berupa daun yang hidrofobik untuk bisa lebih muda mengambang pada permukaan air serta menjaganya tetap kering untuk menghindari pembusukan dan juga agar tidak ditumbuhi lumut maupun alga.[11] Kemampuannya ini didapatkan dari bulu-bulu halus (trikoma) yang terdapat pada permukaan daun kiambang.


sumber: Kompasiana (TJIPTADINATA EFFENDI)

Biduak Lalu Kiambang Batauik

Hidup bersifat romantika dan dinamika. Bergerak dari waktu ke waktu dan mengalami perubahan sesuai arus dan kehendak zaman. Tak ada yang mampu menghindari ataupun menepis hal ini,karena segala sesuatu yang ada di alam ini adalah merupakan “microcosmos” yang terpaut serta merupakan bagian yang tak terpisahkan dari “macrocosmos”

Salah satu contoh adalah suatu waktu bila ada perahu berlayar,maka tanaman kiambang yang selama ini hidup rukun di sungai menjadi terpisah dan terbelah dua.Tetapi setelah biduk berlalu,maka Kiambang akan bertaut kembali. Analogi ini mungkin sangat tepat untuk melukiskan kondisi yang terjadi dalam Rumah Kita Bersama yang bernama Kompasiana ini,serta sekaligus mengadopsi pesan moral yang tersirat dalam peribasa Minang tersebut diatas .

“Biduak Lalu Kiambang Batauik” merupakan kearifan dari ranah Minang.

  • biduak – biduk – sampan – perahu kecil
  • lalu – lewat – berlalu
  • kiambang- sejenis tanaman hidup diair
  • batauik- bertaut – menyatu

Arti secara harfiah atau Literally bermakna :”Setelah biduk berlalu,maka kiambang akan bertaut kembali” Yang dapat dianalogikan,bahwa hidup itu selalu mengalami perubahan ,sesuai dengan tuntutan zaman. Dan setiap perubahan,pasti akan menimbulkan gejolak dan beragam reaksi .Tetapi dalam peribahasa ini ,tersirat pesan moral mendalam,yakni:’Setelah masalah yang menyebabkan sahabat kompasianers menjadi terpisah ,akhirnya akan kembali bertaut menjadi satu” Karena kita semuanya tumbuh diair yang sama,yakni sama sama hobi menulis,apapun latar belakangnya. Dari mulai mahasiswa hingga professor,dari mulai kernet angkot ,hingga pengusaha dan seterusnya,sama sekali tidak ada masalah. Karena kita berada di Rumah Bersama ini adalah lantaran memiliki hobi yang sama.

Tulisan ini merupakan dedikasi saya untuk semua sahabat Kompasianer tanpa ada yang dikecualikan. Karena belakangan ini terasa benar suasana yang tidak nyaman telah terjadi di Kompasiana. Mari kita sikapi secara arif dan bijak,bahwa semua yang terjadi merupakan bagian dari romantika kebersamaan kita sebagai sesama hobi menulis. Sesaat lagi”biduk” akan berlalu dan kita semua akan bertaut kembali. Sebuah harapan dan doa .

Catatan Tambahan :

Saya adalah orang Padang, bukan dari suku Minang. Tulisan ini saya tulis berdasarkan sudut pandang dari seorang yang lahir di Padang. Boleh jadi,ada penjelasan yang tidak pas,maka hal tersebut adalah merupakan kekurangan saya Mohon maaf lahir batin,seandainya hal tersebut terdapat dalam tulisan saya tentang petatah petitih dalam bahasa Minang.

Leave a comment