Merayakan apa yang ada

sumber: IG yufidtv

Tidak lagi sibuk mencari apa yang “hilang”, tapi merayakan apa yang “ada” adalah bentuk tertinggi dari rasa syukur.

Dengan rasa syukur, kenikmatan akan bertambah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.’” (QS. Ibrahim: 7).

Para Nabi juga memerintahkan kaum mereka untuk senantiasa bersyukur. Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam berkata kepada kaumnya:

فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“Maka mintalah rezeki dari sisi Allah, sembahlah Dia, dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya kamu akan dikembalikan.” (QS. Al-Ankabut: 17).

Ini juga menjadi wasiat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam kepada para sahabat, beliau bersabda:

أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ! لَا تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ تَقُولُ: “اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Wahai Muadz! Janganlah kamu sekali-kali meninggalkan doa di setiap akhir shalat: ‘Ya Allah berilah pertolongan kepadaku untuk berzikir, bersyukur, dan beribadah dengan baik kepada-Mu.’” (HR. Abu Daud dan An-Nasa’i).

Leave a comment