
src: Wikipedia+FB Pituluik
Prof. dr. Aleina Roesma Datuk Indo Kayo (13 Juli 1896 – 25 Oktober 1964) adalah seorang tokoh pengajar dan ahli kesehatan Indonesia. Ia merupakan presiden (rektor) yang ke-2 pada Universitas Andalas (Unand), Padang, Sumatera Barat. A. Roesma menggantikan presiden (rektor) sebelumnya, Prof. dr. M. Syaaf, pada tahun 1958. Ia menjabat rektor selama 6 tahun, dan kemudian digantikan oleh Prof. Drs. Harun Alrasjid Zain pada tahun 1964.
Aleina Roesma dilahirkan di Palembayan, Agam, Sumatera Barat pada 13 Juni 1896. Ia adalah putra tunggal dari pasangan Ahmad Datuk Maroehoem Basa dan Radjimah. Ahmad ketika berusia muda terpilih menjadi verpleger (perawat pria) dari pemerintah Hindia Belanda. Suatu masa Ahmad ditawarkan oleh Kepolisian Hindia Belanda untuk menjadi polisi di Tanah Datar, dan selanjutnya ia terpilih menjabat Demang (bupati) pertama di Bangko, Sarolangun, Karesidenan Jambi.
Prof. dr. Aleina Roesma Datuk Indo Kayo adalah sosok dokter dan cendekiawan Minangkabau yang memiliki kisah hidup dramatis, penuh perjuangan pribadi, dan pengabdian luar biasa, meskipun namanya kini hampir terabaikan dari catatan sejarah resmi. Roesma muda telah menunjukkan semangat pantang menyerah. Ia awalnya mengenyam pendidikan di STOVIA Batavia namun pindah ke NIAS (Nederlandsche Indische Artsen School) di Surabaya, dan berhasil lulus sebagai Indisch Arts pada tahun 1923. Keputusan besar dalam hidupnya muncul ketika ia ditolak berobat oleh seorang Controleur Belanda di Kalimantan karena statusnya hanya sebagai Indisch Arts (dokter pribumi lulusan sekolah kolonial). Merasa tersinggung dan didiskriminasi, Roesma bertekad melanjutkan studi ke Medische Fakulteit, Leiden Universiteit, Belanda, dan berhasil lulus pada tahun 1935, membuktikan bahwa kemampuan pribumi setara dengan bangsa Eropa.
Perjuangan Pribadi dan Filosofi Anti-Stagnasi.
Kisah kehidupan pribadi Roesma mencerminkan semangat revolusioner yang ia miliki. Selama studi di Belanda, ia membuat keputusan yang mengakhiri pernikahan pertamanya dengan Badariah Malik; uang yang seharusnya digunakan Badariah untuk menyusul ke Belanda justru diberikan Roesma kepada sepupu perempuannya untuk mendirikan rumah gadang. Keputusan ini, meski menyebabkan perceraian, menunjukkan prioritasnya yang tinggi terhadap pemberdayaan keluarga dan adat Minangkabau di atas kenyamanan pribadinya. Selanjutnya, pernikahannya dengan gadis Jerman, Annita Schonstadt, yang kemudian menjadi mualaf, memperlihatkan keterbukaan pikirannya terhadap dunia luar. Setelah Annita meninggal muda, Roesma rujuk dengan Badariah, yang dengan penuh kasih merawat kedua anaknya dari Annita, menunjukkan kompleksitas hubungan yang sarat pengorbanan.
Pendiri Institusi dan Penyelamat Pendidikan.
Semangat juang Roesma semakin berkobar di tengah gejolak kemerdekaan. Merasa risau karena pemuda di Sumatera hanya bisa bersekolah sampai MULO dan harus ke Jawa untuk pendidikan tinggi, ia khawatir tidak akan ada lagi pemimpin Minang yang berpendidikan. Maka, ia bergerak cepat: bersama guru-guru lain, ia mendirikan Sekolah Menengah Tinggi (SMT) Bukittinggi (yang kemudian menjadi SMA ABC Birugo) dan Sekolah Asisten Apoteker (SAA) Bukittinggi. Jasa-jasa ini menunjukkan komitmennya sebagai seorang pejuang pendidikan yang visioner, melengkapi peran sebelumnya sebagai dokter swasta dan kemudian dokter pemerintah di masa penjajahan Jepang.
Rektor Unand di Masa Krisis dan Warisan Abadi.
Puncak pengabdiannya adalah sebagai Rektor (Presiden) ke-2 Universitas Andalas (Unand) dari 1958 hingga pensiun pada 1964. Masa jabatannya diisi dengan tantangan besar pasca-pergolakan PRRI yang sempat membubarkan Unand. Dengan bantuan panglima, Roesma gigih membangun kembali Unand. Ia bolak-balik ke Jakarta, secara khusus membujuk dosen-dosen berkualitas dari UI dan UGM—terutama yang berasal dari Minang—untuk pulang dan mengajar di Padang. Tindakan ini sangat krusial dalam menjamin kualitas akademik Unand dan mencegah brain drain. Meskipun meninggal tak lama setelah pensiun, namanya diabadikan sebagai Asrama Mahasiswa Unand dan dianugerahi penghargaan Pejuang Pendidikan Sumatera Barat (1976), sebuah pengakuan yang terlambat namun penting, menegaskan bahwa ia adalah tokoh yang berjuang untuk masa depan generasi Minang.
