
src: berbagai sumber
Istilah “Qaulan Sadida” (قَوْلًا سَدِيدًا) memang sering kali disebut oleh para pakar pendidikan Islam sebagai fondasi utama parenting atau pengasuhan. Secara harfiah, Sadid berasal dari akar kata yang berarti “lurus”, “tepat sasaran”, atau “menutup celah”.
Jika dibedah lebih dalam, ada 5 tips parenting yang tersirat dalam istilah Qaulan Sadida untuk mencegah anak menjadi “lemah”:
- Akurasi dan Kejujuran (Truthfulness). Sadid berarti kata-kata yang benar, bukan kebohongan.
- Penerapan: Jangan pernah membohongi anak, bahkan untuk alasan sepele (misal: “Ayo tidur, nanti ada hantu”). Ketika orang tua jujur, anak belajar tentang kepastian hukum. Anak yang sering dibohongi akan tumbuh menjadi pribadi yang penuh keraguan (lemah mental) karena ia tidak punya standar kebenaran yang tetap di rumah.
- Efektivitas (To the Point). Sadid diibaratkan seperti anak panah yang meluncur lurus ke sasaran.
- Penerapan: Dalam parenting modern, ini disebut komunikasi efektif. Hindari mengomeli anak berjam-jam (ceramah panjang lebar) yang justru membuat anak “tuli” terhadap nasihat. Gunakan kata-kata yang singkat, jelas, dan langsung pada intinya. Anak yang dididik dengan komunikasi efektif akan memiliki logika yang tajam.
- Kesesuaian Konteks (Right Words at the Right Time). Kata Sadid juga berarti “tepat”. Kata yang benar, tapi diucapkan di waktu yang salah, tidak bisa disebut Sadid.
- Aplikasi: Menasihati anak di depan teman-temannya (mempermalukan) meskipun isinya benar, itu bukan Qaulan Sadida. Tipsnya adalah: Puji di depan umum, tegur secara pribadi. Ini membangun harga diri (self-esteem) anak agar tidak menjadi pribadi yang rendah diri/lemah secara sosial.
- Konsistensi (Alignment). Sadid berarti lurus. Antara ucapan dan perbuatan harus selaras.
- Aplikasi: Jika orang tua melarang anak main HP tapi orang tuanya sendiri terus-terusan memegang HP, maka itu bukan Qaulan Sadida. Ketidakkonsistenan orang tua menciptakan kebingungan nilai pada anak. Anak yang bingung nilainya akan menjadi lemah karakter.
- Membangun Solusi (Problem Solving). Akar kata Sadid juga berhubungan dengan Sadd yang berarti “menyumbat/menutup celah”.
- Aplikasi: Kata-kata orang tua seharusnya bersifat solutif, bukan hanya menghakimi. Saat anak berbuat salah, alih-alih mengatakan “Kamu ini nakal sekali!”, gunakan Qaulan Sadida seperti: “Apa yang bisa kita lakukan supaya kesalahan ini tidak terulang lagi?”. Ini melatih anak untuk memiliki daya juang (resilience).
Hubungannya dengan “Anak yang Lemah” (Dhi’afan)
Mengapa setelah membahas “takut meninggalkan anak yang lemah”, Allah langsung memerintahkan “berkata-katalah dengan Qaulan Sadida”? Karena kekuatan mental seorang anak dibangun dari kata-kata yang ia dengar dari orang tuanya setiap hari.
- Kata-kata yang kasar dan menjatuhkan akan membuat anak “lemah” (penakut, minder).
- Kata-kata yang Sadid (tepat, jujur, menguatkan) akan membuat anak “kuat” secara psikis, meskipun orang tuanya mungkin sudah tidak ada atau tidak kaya secara materi.
Logika Al-Qur’an: Harta bisa habis karena inflasi atau dicuri, tapi “kekuatan mental” yang dibangun lewat Qaulan Sadida adalah modal abadi yang akan membuat anak bisa bertahan di kerasnya dunia.
