
sumber: JIKMA-Volume 3 (Meriza Geovany dan Eko Purnomo)
Parabuangan merupakan makanan penutup khas daerah Kurai, Bukittinggi, yang memiliki nilai budaya dan adat yang kuat dalam masyarakat Minangkabau. Kota Bukittinggi memiliki kekayaan budaya yang masih dijaga oleh masyarakatnya, terutama di Kanagarian Kurai Limo Jorong. Salah satu warisan budaya yang masih dipertahankan adalah parabuangan, yakni makanan penutup khas yang disajikan dalam
berbagai upacara adat.
Namun, seiring dengan perkembangan zaman, generasi muda, khususnya Generasi Z, semakin kurang mengenal keberadaan dan makna dari parabuangan ini.
Parabuangan adalah makanan penutup khas daerah Kurai, kota Bukittinggi, yang disajikan dalam acara adat seperti pernikahan dan keagamaan. Masyarakat Kurai menyebutnya paminum kupi, yang menjadi simbol kesempurnaan suatu acara serta bentuk penghormatan kepada tamu.
Lima parabuangan wajib khas Kurai adalah kalamai, ajik, inti, pinyaram, dan pisang gadang, yang masing-masing memiliki kepunyaan, serta makna simbolis dalam adat. Seiring perkembangan zaman, generasi muda semakin kurang mengenal parabuangan akibat minimnya edukasi dan perubahan pola konsumsi ke makanan modern. Oleh karena itu, dibutuhkan media edukasi yang menarik agar parabuangan tetap dikenal dan dilestarikan.
Terdapat sepuluh jenis parabuangan khas Kurai, Kota Bukittinggi, yang terdiri dari lima parabuangan wajib dan lima parabuangan tambahan, masing-masing memiliki makna budaya tersendiri.

Lima parabuangan wajib
- Pinyaram
Pinyaram merupakan kue tradisional berbahan dasar tepung beras dan gula putih yang berbentuk pipih. Pinyaram melambangkan proses penyelesaian yang hampir mencapai kesempurnaan, sebagaimana tertuang dalam pepatah adat kok picak lah buliah dilayangkan. Pinyaram dimiliki oleh Dt. Sati dari suku Sikumbang. - Kalamai
Kalamai dibuat dari tepung ketan, gula merah, dan santan. Makanan ini disajikan dalam potongan besar, melambangkan proses berpikir dan analisis dalam penyelesaian suatu masalah (mangalamai), yang dalam adat dikaitkan dengan Dt. Rajo Endah dari suku Tanjuang. - Ajik
Ajik adalah makanan berbahan ketan kukus yang dimasak dengan santan dan gula merah hingga menghasilkan tekstur lembut dan berminyak. Santan berkualitas dalam ajik berperan penting dalam menciptakan cita rasa yang kha. Ajik menyimbolkan proses yang hampir selesai tetapi masih membutuhkan penyempurnaan, dan dikaitkan dengan Dt. Rajo Mantari dari suku Jambak. - Inti
Inti merupakan kue yang terbuat dari tepung ketan putih, kelapa parut, vanili dan garam (Jannah, dkk., 2015). Melambangkan permasalahan yang telah bulat dalam penyelesaiannya. Dalam filosofi adat, konsep ini dikenal dengan pepatah kok bulek lah buliah digolongkan, yang dikaitkan dengan Dt. Bandaro dari suku Guci. - Pisang Gadang
Pisang gadang merupakan buah yang disajikan dengan kulit terbuka pada empat sisi dan isinya yang berwarna putih sepenuhnya dimakan habis. Hal ini melambangkan penyelesaian masalah yang telah sempurna serta kesepakatan yang bulat dalam adat Nagari Kurai Limo Jorong. Penyajian pisang ini dikaitkan dengan Dt. Yang Pituan dari suku Pisang.

Lima parabuangan tambahan
- Kue Gadang
Kue gadang merupakan sejenis bolu yang dibuat dari tepung terigu, telur, gula pasir, vanili, dan bahan tambahan lainnya. Kue ini mencerminkan prinsip kehidupan masyarakat Minangkabau yang berpijak pada ajaran agama dan adat. - Raga-raga
Raga-raga yang dikenal sebagai agar-agar oleh masyarakat Minangkabau, berfungsi sebagai makanan penutup dalam acara baralek atau pernikahan. Raga-raga berperan dalam melegakan tenggorokan setelah mengonsumsi makanan berat dan disajikan dalam satu piring yang berisi enam potong. - Katan Sarikayo Talua
Makanan yang terdiri dari ketan kukus dan sarikayo berbahan telur, santan, gula merah, dan kayu manis. Dalam adat, makanan ini melambangkan peran Malin sebagai pendidik agama dan penjaga nilai budaya Minangkabau, sebagaimana dinyatakan dalam pepatah adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah, syarak mangato, adat mamakai. - Pisang Goreng
Salah satu hidangan ringan yang umum ditemukan di Indonesia, dalam adat Kurai disajikan secara khusus untuk ninik mamak saat menunggu anak daro pulang setelah menikah. Pisang goreng melambangkan penghulu dalam suku dan perannya dalam adat. - Kipang Gulo Anau
Makanan berbahan dasar beras ketan yang dikeringkan, digoreng, lalu dimasak dengan gula merah dan gula pasir. Kipang sering disajikan dengan warna merah putih dan melambangkan urang sumando (menantu laki-laki) yang harus mampu beradaptasi dengan lingkungan sosial masyarakat Minangkabau.

catt: Parabuangan adalah dessert, hidangan penutup atau pencuci mulut yang disajikan di akhir santap hidangan utama, umumnya bercita rasa manis untuk menyegarkan atau membersihkan sisa rasa dari hidangan sebelumnya. Merujuk pada hidangan terakhir yang disajikan setelah meja “dibersihkan”.
Isi dan Makna:
- Komposisi: Ketan (pulut) dengan sarikaya, pinyaram, gelamai, wajik, inti (bola ketan isi kelapa), dan pisang.
- Simbolisme: Melambangkan kesempurnaan acara adat (belum tuntas jika tidak ada parabuangan) dan penghormatan tertinggi untuk tamu.
- Fungsi: Menyatukan rasa makanan sebelumnya, menciptakan suasana santai dan akrab, serta menjadi penutup resmi acara adat.
Konteks Acara:
- Sering muncul dalam acara adat besar seperti pernikahan (baralek), pengangkatan penghulu, dan perayaan Hari Jadi Kota Bukittinggi.
- Disajikan setelah makan bajamba, menandai transisi ke momen santai dan kebersamaan.
Secara harfiah, “parabuangan” berasal dari kata “rebung” (tunas bambu), pucuk rebung yang menguncup merujuk pada ritual penutup hidangan adat yang sangat penting dalam budaya Minang. Sebagaimana filosofi (pucuak rabuang) pucuk rebung adalah pertumbuhan, harapan, dan kebermanfaatan.
