
src: berbagai sumber
“Bari maaf” adalah ungkapan dalam Bahasa Minang yang berarti “beri maaf” atau “minta maaf”, sering digunakan untuk memohon pengampunan, seperti “bari mauh” atau “mo’o” (maaf) dalam konteks yang lebih luas. Ini adalah ungkapan tulus untuk menunjukkan penyesalan dan meminta seseorang untuk memaafkan kesalahan.
“Memasuki bulan suci Ramadan ini, mohon bari maaf badan denai” (Memasuki bulan suci Ramadan ini, mohon beri maaf diri saya)
Kebiasaan mengucapkan permohonan maaf menjelang bulan Ramadan adalah tradisi yang sangat kental di Indonesia, sering dikaitkan dengan budaya lokal seperti munggahan atau silaturahmi. Meskipun bukan bagian dari kewajiban ajaran Islam secara khusus (bukan sunnah yang didasarkan pada dalil kuat), tradisi ini telah mendarah daging sebagai cara menyucikan hati sebelum memasuki bulan puasa.
Tradisi ini kemungkinan besar berasal dari kebiasaan masyarakat nusantara yang suka melakukan silaturahmi dan saling bermaafan sebelum memasuki bulan suci. Seperti di Jawa Barat, ada tradisi munggahan (dari kata munggah yang berarti naik), yaitu berkumpul bersama keluarga atau kerabat untuk makan bersama dan bermaafan, sering dilakukan satu-dua minggu sebelum Ramadhan.
Tradisi ini bergeser menjadi kebiasaan mengirim pesan singkat, WhatsApp, atau media sosial berisi permohonan maaf lahir dan batin, yang dirasa mempermudah, terutama di era modern ini. Sebagian masyarakat meyakini adanya keharusan bermaafan berdasarkan hadits yang tidak memiliki dasar kuat (lemah), namun secara esensi sosial-keagamaan, ini dianggap baik untuk memperbaiki hubungan antarmanusia.
Meminta maaf agar puasa yang dilakukan lebih fokus dan tidak terbebani dosa kepada sesama manusia. Menyambut Ramadhan dengan suasana yang tenang dan damai. Menyiapkan diri agar ibadah Ramadhan maksimal dan mendapatkan pengampunan Allah.
Secara syariat, meminta maaf jika berbuat salah dianjurkan kapan saja, tidak harus menunggu Ramadhan tiba. Namun, menjadikan momen menjelang Ramadhan sebagai waktu untuk bermaafan adalah hal yang baik (tradisi yang baik) untuk menjaga hubungan baik (ukhuwah).
