
sumber: wikipedia
Khong Guan merupakan perusahaan berskala internasional yang bergerak dibidang industri makanan khususnya produk biskuit dan wafer. Produk ini pertama kali muncul di tahun 1947, tepatnya di Singapura.
Sejarah
Khong Guan diciptakan oleh kakak beradik Chew Choo Keng dan Chew Choo Han. Keduanya adalah imigran asal Fujian, Tiongkok, yang bekerja di pabrik biskuit Singapura untuk menghidupi keluarganya di kampung. Saat Jepang menginvasi Singapura, Keng dan Han mengungsi ke Perak, Malaysia. Di sini mereka membuat biskuit sampai persediaan tepung dan gula habis. Mereka lalu membuat dan menjual garam dan sabun untuk bertahan hidup. Setelah Jepang mundur, Keng dan Han kembali ke Singapura dan menjual biskuit buatan sendiri. Suatu hari Han menemukan mesin pembuat biskuit yang sudah rusak dari pabrik tempat mereka bekerja dulu. Ia pun menciptakan lini produksi biskuit semiotomatis dengan rantai sepeda. Mesin ini menggerakkan biskuit dengan sistem konveyor melalui oven bata yang telah diakali sedemikian rupa.
Penjualan meningkat seiring tingginya kemampuan produksi. Pada 1947, Khong Guan Biscuit Factory (Singapore) Limited didirikan, menyusul pabrik di Malaysia, Indonesia, Thailand, dan Filipina. Di awal 1980-an, pabrik Khong Guan didirikan di beberapa kota pesisir di Tiongkok. Tak hanya di Asia Tenggara dan Tiongkok, Khong Guan juga bisa ditemukan di supermarket lebih dari 40 negara. Diantaranya Timur Tengah, Hong Kong, Jepang, Australia, Eropa, Kanada, dan Amerika Serikat.
Sejarah Khong Guan di Indonesia
PT Khong Guan Biscuit Factory Indonesia Ltd. adalah perusahaan berskala nasional yang bergerak di bidang industri makanan khususnya produk biskuit, wafer dan wafer stik. Perusahaan ini dirintis oleh tiga orang, yaitu Ong Kong Ie, Kwee Boen Thwie (Hidayat Darmono) dan Go Swie Kie (Dasuki Angkosubroto) di 6 September 1956, dengan nama awal NV Giok San Kongsie. Mulanya perusahaan tersebut hanya mengimpor biskuit Khong Guan dari Singapura saja.[1] Baru pada tahun 1969 setelah masuknya Ira Susanti dan Hartono Kweefanus dalam kepemilikan perusahaan, di tahun 1971 dimulai produksi biskuit Khong Guan dalam negeri di Surabaya, Jawa Timur. Pada Juni 1972 NV Giok San Kongsie berganti nama menjadi PT Khong Guan Biscuit Factory Indonesia, dan di tanggal 2 Maret 1976 nama perusahaan menjadi namanya saat ini.[2][3][4]
Bisnis keluarga ini kemudian berkembang dengan pendirian perusahaan lainnya, yaitu PT Nissin Biscuit Indonesia (1975), PT Monde Mahkota Biscuit dan PT Jaya Abadi Corak Biscuit Indonesia (1983), serta PT Serena Indopangan Industri (1991). Ditambah dengan dua pabrik PT Khong Guan yang ada di Ciracas (Jakarta) dan Cibinong (Jawa Barat), maka saat ini “Khong Guan Group” sudah memiliki 6 pabrik. Setiap pabrik memproduksi merek dan produk tersendiri, kecuali Khong Guan Merah yang diproduksi beberapa pabrik mengingat banyaknya peminat.[2] Hingga kini Khong Guan Group masih ditangani dan dimiliki oleh keluarga Darmono. Adapun Hartono Kweefanus menjabat sebagai Direktur Utama PT Khong Guan Biscuit Factory; Hoediono Kweefanus duduk sebagai Direktur Utama PT Monde Mahkota Biscuit dan PT Serena Indopangan Industri (keduanya putra Hidayat Darmono);[5] sedangkan anggota keluarga lainnya Kataline Darmono, Emil Darmono dan Hartono Darmono duduk sebagai pimpinan di berbagai posisi.[2][6] Adapun Hoediono Kweefanus sendiri memiliki istri bernama Betty Ang dari Filipina, yang dikenal sebagai salah satu orang terkaya di negara itu dengan bisnis keduanya yang memiliki nama hampir sama (namun berbeda strukturnya dengan yang ada di Indonesia) bernama Monde Nissin yang sudah mencatatkan saham di Bursa Efek Filipina. Selain di sana, bisnis keluarga Darmono-Kweefanus juga tersebar ke beberapa negara seperti Selandia Baru dan Thailand.[1]
Khong Guan Group merupakan salah satu pemimpin pasar dalam industri makanan dan minuman nasional (khususnya biskuit), dimana diperkirakan pernah mencapai 70% dari pangsa pasar.[2][7] Produk-produk yang telah dihasilkan selalu diminati pasar dalam negeri atau bahkan sudah menjadi sebuah keharusan menyantap biskuit Khong Guan. Seperti “Khong Guan Red Assorted” atau lebih dikenal dengan nama “Khong Guan Merah” sudah lama menjadi sebuah tradisi bagi masyarakat Indonesia sebagai makanan atau oleh-oleh khas lebaran yang harus ada untuk disajikan kepada para saudara dan kerabat pada hari raya. Produk lain dari Khong Guan Group yang dikenal pasar seperti biskuit Monde Butter Cookies, Nissin Crispy Crackers dan wafer Nissin; sedangkan dalam merek Khong Guan, selain ada biskuit merah, juga ada Top Biscuit, Top Ekonomi, One One, Assorted Flowers, Big Royal, Marie Susu, Malkist, Ozlo Cookies, Rica Rici, Saltcheese, Saltines, dan Superco. Diperkirakan ada sekitar 400 merek dari aneka jenis biskuit yang diproduksi oleh perusahaan-perusahaan tersebut; selain itu, pernah juga diproduksi mi instan.[8] Masing-masing merek juga menargetkan pasar sendiri, seperti Khong Guan untuk pasar bawah, Nissin untuk pasar menengah dan Monde untuk pasar kelas atas.[2] Dengan mesin yang modern, sertifikasi halal, HAACP dan ISO 22000 ditambah kerja keras, Khong Guan hingga kini tetap menjadi merek pilihan utama masyarakat Indonesia saat membeli produk biskuit. Slogan Khong Guan adalah “Tak Asing Lagi dan Tak Ada Duanya” dan “Biskuit Khong Guan Untuk Semua”.
Budaya populer
Salah satu aspek paling dikenal dari biskuit Khong Guan adalah ilustrasi keluarga (ibu beserta dua orang anaknya di meja makan) yang sedang makan biskuit di sisi kaleng, baik yang bulat maupun kotak, suatu yang dipertahankan sejak awal kemunculannya. Gambar lukisan Bernardus Prasodjo tersebut diadaptasi dari buku cerita anak “Telling the Time” terbitan Ladybird di Inggris tahun 1962 yang kemudian diubah dan dilukis ulang dengan beberapa modifikasi di era 1970-an. Adapun gambar ibu dipilih mengingat pembeli kebanyakan didominasi perempuan. Selain desain kaleng Khong Guan, kaleng Monde dan Nissin Wafer yang masih satu atap dengan biskuit merah ini juga didesain oleh Bernardus.
Khong Guan, Biskuit Nostalgia Dalam Kaleng Merah
oleh: Fitria Rahmadianti
‘Biskuit Khong Guan, Biskuit Lebaran’. Slogan ini sering kita dengar di televisi menjelang Hari Raya Lebaran. Selama berpuluh-puluh tahun, merek biskuit asal Singapura ini menjadi suguhan khas acara silaturahmi tahunan kita.
Ya, Khong Guan bukanlah merek asli Indonesia. Biskuit ini diciptakan oleh kakak beradik Chew Choo Keng dan Chew Choo Han. Keduanya adalah imigran asal Fujian, China, yang bekerja di pabrik biskuit Singapura untuk menghidupi keluarganya di kampung.
Saat Jepang menginvasi Singapura, Keng dan Han mengungsi ke Perak, Malaysia. Di sini mereka membuat biskuit sampai persediaan tepung dan gula habis. Mereka lalu membuat dan menjual garam dan sabun untuk bertahan hidup. Setelah Jepang mundur, Keng dan Han kembali ke Singapura dan menjual biskuit buatan sendiri.
Suatu hari Han menemukan mesin pembuat biskuit yang sudah rusak dari pabrik tempat mereka bekerja dulu. Iapun menciptakan lini produksi biskuit semiotomatis dengan rantai sepeda. Mesin ini menggerakkan biskuit dengan sistem conveyor melalui oven bata yang telah diakali sedemikian rupa.
Penjualan meningkat seiring tingginya kemampuan produksi. Pada 1947, Khong Guan Biscuit Factory (Singapore) Limited didirikan, menyusul pabrik di Malaysia, Indonesia, Thailand, dan Filipina. Di awal 1980-an, pabrik Khong Guan didirikan di beberapa kota pesisir di China.
Tak hanya di Asia Tenggara dan Cina, Khong Guan juga bisa ditemukan di supermarket di lebih dari 40 negara. Di antaranya Timur Tengah, Hong Kong, Jepang, Australia, Eropa, Kanada, dan Amerika Serikat.
Sampai sekarang, kaleng Khong Guan klasik masih sama seperti dulu. Bentuknya kotak, warnanya merah, dan menampilkan ibu beserta dua orang anaknya di meja makan sedang menyantap biskuit. Adapula kaleng silinder yang lebih kecil, serta varian biskuit kalengan lain seperti Top Biscuit, Top Ekonomi, One One, Assorted Flowers.
Di dalamnya terdapat aneka bentuk dan rasa biskuit serta wafer. Namun, biasanya yang paling ditunggu-tunggu adalah wafernya karena hanya ada dua bungkus dan letaknya tersembunyi di bawah.
Meski terkenal akan biskuit assortment-nya, Khong Guan juga memproduksi biskuit jenis lain seperti Big Royal, Marie Susu, dan Malkist. Selain merek Khong Guan, Khong Guan Group di Indonesia juga membawahi merek Monde, Nissin, dan Serena.
Lebaran nanti, kaleng Khong Guan akan kembali tersaji di meja. Biskuitnya siap dinikmati oleh para tamu, sedangkan wafernya yang berjumlah terbatas siap diperebutkan oleh anak-anak. Asyiknya!
Kamuflase Rengginang dalam Kaleng Khong Guan
oleh: Muhaimin Yasin
Momen lebaran selalu membawa kehangatan yang sulit dideskripsikan dengan kata-kata. Setiap tahun, mudik ke rumah nenek menjadi titik temu bagi sanak saudara, kerabat, dan handai taulan. Suasana riuh suara anak-anak berlarian di halaman, semerbak aroma opor ayam yang menggoda dari dapur, serta tawa renyah para orang tua yang saling bertukar cerita setelah sekian lama tak bersua. Di tempat inilah segala kisah bermula, di rumah nenek yang selalu menjadi pusat keakraban dan kehangatan keluarga.
Sebagai cucu yang beranjak dewasa, saya merasa bahwa rumah nenek bukan sekadar tempat singgah semata. Akan tetapi, sebuah arena petualangan masa kecil yang penuh tantangan. Mulai dari berburu buah-buahan di pekarangan hingga menjelajah dalam lorong permainan tradisional, semuanya menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Beragam seru yang memiliki makna tersendiri hanya bisa ditemukan di sini. Seolah rumah nenek menyimpan ribuan cerita yang siap untuk diajak bernostalgia setiap kali kami berkunjung.
Namun di balik keseruan itu, ada satu momen lebaran di rumah nenek yang selalu menjadi kejutan tak terduga. Yakni fenomena “kamuflase rengginang dalam kaleng Khong Guan”. Sejak belia, saya bersama kerabat seumuran sudah terbiasa melihat kaleng legendaris ini terpajang manis di meja ruang tamu. Gambarnya yang ikonik—seorang ibu dan dua anaknya menikmati biskuit dengan penuh kebahagiaan. Pemandangan yang seolah memberikan harapan besar dalam benak kami. Bagaimana tidak? Biskuit Khong Guan adalah simbol kemewahan masa kecil, kenikmatan yang selalu dinanti saat lebaran tiba.
Namun, harapan itu sering kali berujung pada kekecewaan. Dengan penuh antusias, kami membuka tutup kalengnya, berharap menemukan aneka biskuit yang renyah dan menggugah selera. Tapi, apa yang terjadi? Bukannya menemukan biskuit lezat, yang kami lihat justru tumpukan rengginang yang tersusun rapi. lebih parah lagi, jajanan pasar seperti keripik singkong dan kacang bawang yang mengintip dari dalam.
“Nah kan, Kena prank!” seru salah satu sepupu dengan nada sedikit putus asa.
Drama itu selalu terjadi hampir setiap tahun. Rasa penasaran, ekspektasi, dan akhirnya kepasrahan menjadi ritual yang terus berulang. Lucunya, meskipun kami tahu bahwa peluang menemukan biskuit di dalam kaleng itu kecil, tetap saja kami tak kapok.
Setiap tahun, skenario yang sama terulang. Ada yang berusaha mengintip ke dalam sebelum membuka secara utuh, ada pula yang mengguncang kalengnya dengan harapan bisa menebak isinya. Namun, ujung-ujungnya tetap sama, kecewa bercampur tawa.
ADVERTISEMENT
Suatu ketika, salah seorang sepupu mencoba strategi baru. “Mungkin kalau kita buka kaleng yang belum tersentuh, kita akan menemukan biskuit asli” katanya penuh semangat. Kami pun berburu kaleng Khong Guan yang terlihat masih tersegel rapat. Tapi nyatanya? Isinya tetap rengginang. Bahkan ada satu kaleng yang berisi benang dan jarum, warisan nenek yang disimpannya dengan rapi.
Kami pun menyerah. Hal ini sudah menjadi bagian dari kehidupan keluarga kami. Bukan lagi tentang biskuit atau rengginang, melainkan tentang kebersamaan yang dibangun di sekitarnya. Kekecewaan yang diiringi gelak tawa adalah perekat yang membuat momen-momen kecil ini begitu berharga.
Kaleng Khong Guan yang selalu menjadi “jebakan” di rumah nenek sebenarnya bukanlah misteri yang tak terpecahkan. Faktanya, biskuit di dalamnya memang pernah ada, tetapi habis lebih dulu sebelum kami sempat membukanya. Kemungkinan besar, para orang tua atau bahkan nenek sendiri telah lebih dulu menikmati isinya sebelum Lebaran tiba.
ADVERTISEMENT
Biskuit Khong Guan ini memang terkenal sebagai camilan favorit yang sering disantap pelan-pelan saat bersantai, menemani obrolan ringan, atau sekadar menemani teh hangat di sore hari. Maka, tidak heran jika sebelum kami tiba, kaleng-kaleng itu sudah dalam kondisi kosong. Namun, alih-alih membuangnya, nenek dengan bijak memanfaatkannya sebagai wadah penyimpanan untuk berbagai makanan lain seperti rengginang, keripik, hingga jajanan pasar lainnya.
Mungkin nenek berpikir bahwa wadah yang kokoh dan kedap udara seperti kaleng Khong Guan adalah tempat terbaik untuk menjaga camilan tetap renyah. Atau bisa jadi, ini hanyalah kebiasaan yang diwariskan dari generasi ke generasi, kaleng biskuit selalu berubah fungsi begitu isinya habis.
Jadi, setiap kali kami membuka kaleng itu dengan penuh harapan, sebenarnya kami hanya terlambat datang. Biskuitnya sudah lebih dulu dinikmati orang lain. Yang tersisa hanyalah “kejutan” yang membuat kami tertawa setiap tahun. Dan pada akhirnya, meskipun ekspektasi kami pupus, tradisi ini justru menjadi bagian paling manis dari kenangan Lebaran di rumah nenek.
Namun, jika dipikir-pikir lagi, kejadian ini sebenarnya adalah gambaran kecil dari kehidupan. Kadang kita berharap sesuatu yang besar dan indah, tetapi kenyataannya bisa sangat berbeda. Kita menantikan kemewahan, tetapi justru menemukan kesederhanaan. Dan di balik itu semua, ada hikmah yang bisa dipetik. Rengginang yang keras saat belum digoreng, tetapi mekar dan renyah setelah matang, bisa diibaratkan sebagai kesabaran dan proses dalam hidup. Bahkan, di balik kekecewaan karena tak menemukan biskuit, ada kehangatan yang lebih besar. Momen kebersamaan yang membuat semua tawa dan keluhan menjadi kenangan indah yang akan kami rindukan di kemudian hari.
Lebaran di rumah nenek memang selalu penuh kejutan. Ada tradisi, ada kenangan, dan ada kehangatan yang tak tergantikan. Meskipun kami sering mengeluh soal isi kaleng Khong Guan yang mengecewakan, dalam hati kami tahu bahwa justru di sanalah letak keistimewaannya. Setiap tahun, kami akan kembali, duduk bersama di ruang tamu, dan mengulangi ritual yang sama. Kami akan membuka kaleng dengan penuh harap, meski tahu bahwa isinya kemungkinan besar bukan biskuit.
Dan pada akhirnya, tak peduli apa pun isinya, satu hal yang selalu pasti: kaleng Khong Guan akan selalu ada di meja ruang tamu, siap menyambut siapa pun yang datang dengan sejuta ekspektasi dan sejuta cerita yang akan menyertainya.

