Kukuran Alat Parut Kelapa Khas Minang

kukuran (alat memarut kelapa khas minang)

src: jamgadang04.com+RRI.co.id

Kukuran karambia adalah alat parut kelapa tradisional khas Minangkabau yang terdiri dari dudukan kayu (kloi) dan mata parut besi bergerigi tajam. Alat ini digunakan dengan cara duduk di atas papan kayu sambil memarut belahan kelapa secara manual.

Hasil parutannya cenderung kasar, lebih disarankan untuk digunakan sebagai kelapa tabur. Sedangkan untuk menghasilkan santan kental yang khas untuk rendang lebih baik menggunakan parutan mesin yang hasilnya lebih halus. Tentu saja, di zaman dahulu umumnya  menggunakan alat manual karena keterbatasan listrik dan bahan bakar mesin.

Berikut adalah karakteristik dan detail kukuran alat parut kelapa tradisional Minang:

  • Desain Tradisional: Alat ini dirancang dengan dudukan kayu yang panjang, memungkinkan pengguna duduk di atasnya saat memarut, memberikan kestabilan.
  • Mata Parut: Mata pisau terbuat dari besi baja berigi-rigi yang tajam untuk mengerok daging kelapa.
  • Ukuran: Umumnya memiliki panjang sekitar 35-50 cm, tergantung model (portable atau konvensional), dengan lebar 10-15 cm dan tinggi 13-16 cm.
  • Fungsi: Pada masanya, alat ini krusial untuk persiapan bumbu masakan Minang seperti rendang yang memerlukan banyak kelapa parut.
  • Kelebihan: Tidak bergantung pada listrik dan bahan bakar mesin.
  • Variasi: Saat ini terdapat versi portable yang bisa dilipat, memudahkan penyimpanan. 

Kukuran ini sering ditemukan di perkampungan di Sumatra Barat sebagai bagian dari kelestarian budaya tradisional. 

Saya masih menemukan kukuran (alat parut kelapa khas Minang) di rumah saudara di Bukittinggi. Ia masih menggunakan alat itu untuk memarut kelapa. Saya foto untuk jamgadang04.com. Kukuran itu terbuat dari kayu dan besi. Kayu tempat duduknya sudah berlumut, tapi ujung pisau parut yang terbuat dari besi, masih tajam.

Sebelum ada mesin memarut kelapa di pasar, ibu rumah tangga memarut kelapa dengan menggunakan kukuran. Cara memarut kelapa menggunakan kukuran ; kelapa dibagi dua sama besar, duduk di bangku kayu, lutut yang kanan menahan batang besi pisau parut, agar stabil, tidak bergerak. Kedua tangan memegang kelapa dan mulai memarut dari sisi pinggir kelapa secara merata. Setelah itu parut bagian tengah. Kenapa? Agar semua sisi kelapa terparut dengan rapi dan mudah dalam pengerjaannya.

Sesekali harus memperhatikan sisa kelapa yang masih menempel di batok kelapa, untuk menghindari bagian sisi kelapa yang keras yang berwarna coklat ikut terparut (hanya daging kelapa yang diparut).

Beberapa kali saya mencoba memarut kelapa dengan kukuran, terkadang parutannya terlalu keras sehingga menghasilkan daging kelapa yang kasar. Cara memarut kelapa dengan kukuran harus pelan dan terukur, sehingga hasil parutan sempurna (halus). Mengukur kelapa menggunakan kukuran mulai ditinggalkan, karena tidak praktis dan lama. Parutan kelapa menggunakan kukuran digunakan sekali-sekali untuk taburan makanan (tidak untuk gulai yang membutuhkan kelapa dan santan yang banyak).

Dengan menggunakan mesin parutan kelapa, pengerjaan memarut kelapa lebih cepat dan hasilnya lebih halus. Santan yang dihasilkan lebih banyak dan lebih kental. Penjual kelapa memberikan banyak pilihan pada pembeli antara lain; (1) dapat membeli kelapa saja, (2) kelapa yang sudah diparut (sehingga dapat memeras sendiri kelapa hingga menjadi santan di rumah) atau (3) membeli santan yang sudah jadi. Membeli santan jadi mempunyai resiko. Santan yang dibeli tidak segar, karena sudah diperas beberapa jam sebelum dibeli, kecuali penjual memeras kelapa pada saat dibeli.

Kukuran (atau kukuran karambia) adalah alat parut kelapa tradisional khas Minangkabau yang telah digunakan secara turun-temurun untuk mengolah santan, terutama untuk masakan bersantan pekat seperti rendang. Pada saat ini tugas kukuran sudah digantikan dengan mesin parutan yang hasilnya lebih halus sehingga santan yang keluar juga lebih banyak dan kental.

Berikut adalah ciri khas dan cara kerjanya:

1. Bentuk dan Struktur

  • Dudukan Kayu: Berbentuk memanjang seperti kursi rendah atau bangku kecil (sering disebut kuda-kuda) tempat orang duduk saat memarut. Panjang dudukan ini dirancang agar pas dengan posisi duduk orang dewasa (berjongkok atau duduk rendah) sehingga beban tubuh dapat menahan alat agar tetap stabil saat memarut kelapa yang keras. 
  • Mata Kukur: Terbuat dari lempengan besi atau baja dengan ujung bergerigi tajam yang menonjol di bagian depan kayu. Mata kukur atau lempengan bergeriginya sendiri biasanya memiliki panjang sekitar 6 inci (15 cm) dengan lebar ujung gerigi sekitar 2 hingga 2,5 inci. 
  • Desain Lipat: Versi modern yang praktis kini tersedia dalam bentuk Kukuran Lipat yang mudah disimpan. 

2. Cara Penggunaan

  • Posisi Duduk: Pengguna duduk di atas badan kayu untuk menahan alat agar tidak bergeser.
  • Teknik Memarut: Belahan kelapa dipegang dengan kedua tangan, lalu dagingnya digesekkan ke mata kukur yang bergerigi dengan gerakan memutar atau maju-mundur.
  • Hasil Parutan: Teksturnya cenderung lebih kasar dibanding mesin listrik.

3. Istilah Lokal

  • Karambia: Sebutan untuk kelapa dalam Bahasa Minang.
  • Mamangua/Kukur: Proses memarut kelapa menggunakan alat ini.

Meskipun saat ini banyak beralih ke mesin parut listrik, kukuran tetap dianggap memiliki nilai nostalgia dan estetika budaya yang tinggi di Sumatera Barat. 

Leave a comment