TEMPO Interaktif, Jakarta:Budayawan Umar Kayam, Sabtu (16/3) sekitar pukul 07.45 WIB menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit MMC, Kuningan, Jakarta. Menurut salah satu perawat di ruang ICU, Kartini, Umar Kayam sempat dioperasi tetapi kondisinya semakin memburuk dan akhirnya meninggal.
Umar Kayam memang sudah terbaring sakit di kamar 304 rumah sakit MMC, Kuningan, Jakarta, sejak 1 Maret lalu. Penulis novel Para Priyayi itu terjatuh di rumahnya yang terletak di Jalan Nusa Indah Raya, Cipinang, Jakarta. Akibatnya, tulang di pangkal pahanya patah. Setelah dioperasi, ternyata muncul masalah kesehatan lainnya.
Pada 6 Maret, Umar Kayam mengalami pendarahan hebat. Setelah itu, 10 Maret malam, Umar Kayam kembali mengalami pendarahan. Bahkan kondisinya mendekati kritis. Operasi yang dilakukan sesaat sebelum pemeran Bung Karno dalam film Pemberontakan G30S/PKI ini meninggal, adalah pengangkatan usus.
Budayawan ini lahir 30 April 1932 di Ngawi, Jawa Timur. Umar memperoleh gelar doktor pada 1965. Guru Besar Fakultas Sastra UGM yang pensiun pada tahun 1997 ini juga pernah menjabat sebagai dirjen Radio Televisi dan Film (RTF). Selain itu, ia juga pernah menjadi Rektor IKJ, Ketua Dewan kesenian Jakarta dan menjadi anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia.
Sebagian dari hasil karyanya adalah kumpulan cerpen Seribu Kunang-kunang di Manhattan ( 1972), novelet Sri Sumarah dan Bawuk (1975), kumpulan kolom Mangan Ora Mangan Kumpul (1990), Sugih Tanpa Banda, dan Madhep Ngalor Sugih, Madhep Ngidul Sugih. Selain itu, ia juga menerbitkan Satrio Piningit ing Kampung Piningit ( 2001).
Sementara itu, novel yang pernah dibuatnya adalah Para Priyayi yang diterbitkan oleh PT. Pustaka Utama Grafiti pada tahun 1992 dan Jalan Menikung:Para Priyayi 2. Dari pihak keluarga diperoleh informasi, Umar Kayam akan dimakamkan di pemakam umum Karet, sekitar pukul 15.00 WIB. (Dari berbagai sumber/Purwanto-Tempo News Room)
