sumber: IG Sejarah Jogya

NGGONMU ANA KAUMAN ORA LUR ?
Mengapa Kauman ada di hampir selalu ada di kota, dan kabupaten di Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur? Bahkan mungkin di Jawa Barat ?
Kauman atau Pekauman merujuk pada permukiman atau kampung bagi “kaum”, perangkatnya (modin, khatib, qoyim dll) beserta keluarga dan murid-muridnya pada era Mataram Islam. Kata kaum berasal dari bahasa Arab “qaum” (kumpulan) dan ada pula yang berpendapat “qaimuddin” (penegak agama).
Keberadaan kampung ini terkait erat dengan pola standar tata ruang pusat pemerintahan di masa itu, yakni ada keraton, alun-alun, masjid, dan pasar.
Dalam standar tata kota tersebut, masjid agung biasanya terletak di sisi barat alun-alun. Sedangkan Kauman umumnya terletak di sebelah utara masjid agung (atau barat dan melingkupinya). Alun-alun sendiri selalunya berada di depan kraton.
Konon sejarah kauman dimulai saat kraton berpindah dari Kotagede ke Kerta atau Pleret. Di Kotagede memang tidak ada Kauman, karena saat itu didominasi ulama dari Kudus, sehingga dikenal “Kudusan”. (Sekarang di Kudusan, Sayangan, Jagalan, Kotagede).
Kampung Kauman pertama kali hanya ada di sekitar keraton sebagai pusat pemerintahan Mataram Islam. Dusun Kauman di Desa Pleret, di mana sisa-sisa reruntuhan Masjid Agung Kauman Pleret ditemukan barangkali merupakan Kauman paling awal. Pleret adalah ibukota Mataram Islam ketiga.
Tatanan seperti ini diteruskan ketika pemerintahan Mataram berpindah lagi ke Kartasura dan kemudian Surakarta (1745), termasuk setelah Giyanti (1755) ke Yogyakarta. Setelah terpecah dengan berdirinya Kadipaten Mangkunegaran (1757) dan Kadipaten Pakualaman (1812). Di semua tempat tadi pasti ada Kauman.
Pada masa berikutnya, setiap bupati di wilayah eks Mataram mengadopsi konsep ini. Yaitu :
Pendopo, kediaman bupati atau di era sekarang biasanya sebutan bagi kantor kabupaten, representasi kraton.
Alun-alun di sebelah utara pendopo,
Masjid agung kabupaten di sebelah barat alun-alun (dengan Kaumannya)
Pasar yang berada tak jauh dari alun-alun.
