KALI LARANGAN – Bagian 2

sumber: Narasi @sejarahJogya

Kembali ke Yogyakarta, catatan kraton dalam bentuk Sengkalan (Candra maupun Surya Sengkala) dapat digunakan untuk merekonstruksi kapan Kali ini dibuat.

ANALISA BERDASAR LINIMASA PEMBANGUNAN

1. Tamansari selesai dibagun pada 1758, tetapi saat itu belum dilengkapi “Segaran/danau utama dan Pulo Kenanga”. Boleh jadi yang dianggap siap adalah Gapura Hageng (disebelah barat, sebagai pintu masuk tamu) dengan 3 Umbul (yang hari ini tersisa) dan terutama daerah Pasareyan Ledoksari serta Kolam Garjitawati (kompleks di timurnya).

2. Pada 1764 dibuat sebuah bendungan kecil di Badran, menyaring Kali Winongo yang mengalir di barat Kuthagara (daerah Wirobrajan sekarang) dan diarahkan menuju Kraton. Kali ini disebut “Kali Larangan” yang bermakna “dilarang digunakan atau dikotori, agar terjaga kebersihannya”. Untuk apakah Kali Larangan ini dibuat? Jika kita lihat lagi linimasa berdasar sengkalan, saat Kali ini dibuat, Masjid Gede belum selesai dibangun, Benteng Baluwarti juga belum dibangun. Jadi kemungkinan yang paling ‘make sense’ memang untuk mengairi Tamansari, Water Castle (kemungkinan mengairi umbul2 sekitar gapura hageng, walaupun Segaran dan Pulo Kenanga saat ini masih dalam tahap pengerjaan).

3. Aliran Kali Larangan yg pertama ini (hulu di Badran) terlihat dengan melihat peta lama yang terlampir.

4. Tiga tahun setelah Kali Larangan dibuat, pada 1767 Komplek ‘masterpiece’ Tamansari yaitu Segaran (danau buatan) dengan Pulo Kenanga di tengah, Gedhong Kenanga, Sumur Gumuling dengan kanal yang terhubung ke segaran lain di timur (antara Magangan dan Sitihinggil Kidul) telah siap. Dilengkapi taman dan kebun (sekarang tinggalannya berupa Kampung Taman dan adanya bekas dermaga di komplek Magangan). Dengan kompleks seluas 10 hektar diperlukan suplai air yang banyak dan ini dapat dicukupi dengan adanya aliran air dari Kali Larangan.

5. Fungsi Kali Larangan diperluas pada 1773, saat Masjid Gede Kauman secara resmi selesai pembangunannya. Masjid ini –mengikuti pola Masjid Demak- dilengkapi blumbang/kolam di sisi selatan, timur dan utara yang berfungsi untuk bersuci/wudhu sekaligus tempat ‘padusan’ dan suplai air diambil dari Kali Larangan.

6. Saat Raden Mas Sundara menjadi putra mahkota, beliau mengusulkan kepada ayahandanya (Sultan HB I) agar dibangun Benteng yang mengitari Kraton. Sebenarnya kraton sudah dilengkapi benteng dari kayu, tetapi mengingat Benteng Vredeburg (saat itu namanya Rustenburg) yang juga hanya berupa benteng kayu mulai dibangun dengan batu (dimulai 1767) maka putra sultan tersebut mengusulkan agar Benteng Kraton juga dibangun dengan bahan batu.

7. Pada 1782 Benteng ini selesai dibangun, mengikuti pola Benteng kraton2 sebelumnya di Kotagede, Kartasura dan Surakarta (sama2 bernama ‘Baluwarti’). Bedanya benteng ini dilengkapi 4 Bastion (pojok beteng sebagai tempat jaga), 5 gerbang yang berbentuk ‘plengkung’ dengan pintu gerbang angkat.

8. Di depan benteng dibuat jagang (jurang) sedalam 3,7 meter, jagang ini diisi dengan air dari aliran Kali Larangan yang sebelumnya telah digunakan untuk mengairi Tamansari (1767) dan Blumbang Masjid Gede (1773).

9. Aliran dibuang ke selatan kraton melewati sekitar Nagan, ke selatan hingga kembali ke Kali Winongo.(lihat peta 1833)

10. Berdasarkan peta lainnya, tampaknya ada lagi Kali Larangan dengan hulu lebih ke utara, sekitar Kricak, yaitu sesudah aliran Kali Winongo terpecah ke Kali Boentoeng. Terdapat semacam bendungan. Barangkali ada 2 hulu ? Silakan diskusikan

11. Berdasar info pembaca, jejak kali larangan bisa dilihat di sekitar Candi, Pathoek (Ngampilan) yang sekarang masih dipakai sebagai pemandian umum.

Peta lama dari Leiden diperkirakan peta 1833

Dalam tulisan jawa & latin (hulu di Badran)

Plattegrond van de Benteng Kraton en van de verdere Kota Jogjakarta. “De transcriptie van ‘t Jav[aans] orgineel in ‘t Holl[ands], door mij er later bijgevoegd, G.P. Rouffaer, 1897″[ca. 1833]

Peta versi hulu di Kricak, bersumber dari postingan di Pentas Tradisi Yogyakarta.

Peta versi 1833 dengan tulisan jawa dan latin ini menunjukkan hulu Kali Larangan ada di barat Sindunegaran atau Badran sekarang. Agak selatan dibanding versi hulu di Kricak/Bendungan.

Kali Larangan mengalir ke selatan melewati barat permukiman yang saat itu ditempati para Mantri Jawi, lalu terdapat dua jembatan di utara (reh mantri njawi kiwa) dan sekitar kampung bagi “Koemetir Danoeredjan” barangkali pengantar surat bagi pepatih Danoerejan. Sekarang Kumetiran lor, Pringgokusuman, Kemantren Gedong Tengen.

Terdapat lagi 2 jembatan kali larangan, tertulis Djaganegara dan gandek. Kemungkinan disekitar Jalan Jogonegaran dan Jalan Gandekan sekarang. Wilayah Sosromenduran, Gedongtengen.

Aliran menuju loji kebun dan juga baratnya

Kemudian aliran ke selatan melewati Ngabean menuju masjid dan segaran tamansari serta jagang Baluwarti

Aliran sebelah selatan kraton di sebelah barat Ndalem Pugeran, kemudian jalan bantul dibuat jembatan di alirkan ke barat kembali ke Kali Winongo. Tertulis “jalan ke Bantoel Karang”. Nama lama Bantul.