Mitos Kyai Bulus, Wasilah, dan Playstation

sumber: https://majalah.tempo.co/read/selingan/121021/mitos-kyai-bulus-wasilah-dan-playstation?read=true

MARDIYEM menatap tenda komando warna hijau di depannya dengan lesu. Terpancang di atas sebidang lapangan badminton, terpal militer yang kini dihuni sejumlah keluarga pascalindu 27 Mei itu seperti barikade yang memisahkan tubuh uzurnya dengan masa silam Kotagede. ”Sebelum jadi lapangan badminton, lapangan itu tempat bermain saya dan teman-teman sewaktu kecil,” ujar nenek 67 tahun itu seraya menyebutkan nama-nama permainan seperti gobak sodor, benthik, gangsing sebagai contoh. Di lapang-an dekat kuburan Desa Bodon itu, Mardiyem melihat bagaimana anak-anak seperti Bagas, 10 tahun, dan Danang, 15 tahun, kini sudah sepenuhnya le-bur pada daya tarik playstation ketimbang mengguna-kan sepetak tanah kerontang di musim kemarau, atau becek di musim hujan, untuk bermain. Gobak sodor bukan lagi kosakata favorit anak-anak sekarang.

Namun, bukan hanya tradisi permainan ra-kyat yang nyaris punah, kebiasaan nyadran yang lazim dilakukan menjelang bulan Ramadan, misalnya, praktis hanya tinggal kenangan. Ini bahkan terjadi sebelum gempa menggoyang Yogya. ”Dulu warga satu kampung bisa semuanya datang ke kuburan untuk membersihkan makam dan berdoa bersama. Tapi sekarang kebiasaan itu sudah tidak ada lagi,” ujar Widarmadi, Kepala Dusun Bodon. Tahun ini Ramadan jatuh menjelang akhir September, yang tak sampai dua bulan lagi. Menarik ditunggu, apakah gempa memang merontokkan nyadran selamanya dari tradisi masyarakat Kotagede atau justru menjadi awal kesadaran baru untuk kembali pada tradisi.

Keluhan berbeda dilontarkan oleh Warjono, seorang warga di RW 4. ”Sekarang semuanya serba dibayar.” Yang ia rabankan adalah tulang punggung interaksi sosial yang selama ini selalu dibanggakan sebagai ciri khas bangsa Indonesia: gotong-royong. Dulu, untuk mendirikan rumah, mengangkat pendapa untuk diletakkan di atas fondasi, atau memasang genting, penduduk Kotagede akan bersukacita mengulurkan bantuan. ”Sekarang orang-orang berduit lebih suka mencari tukang dan membayarnya harian atau borongan. Tak ada lagi gotong-royong seperti saya alami ketika masih SMP pada tahun 1980-an,” Warjono menambahkan. Tradisi lainnya yang sudah tak pernah lagi ditemui Warjono adalah tahlilan 7, 40, dan 100 hari yang dilakukan oleh keluarga yang kehilang-an seorang anggotanya.

Darwis Khudori, penulis cerpen yang pernah me-nulis tentang Kotagede, menyebut Muhamma-diyah punya peran dalam menenggelamkan tradisi abang-an ini—terutama melalui praktek pembabatan sinkre-tisme alias khurafat (lihat, Membangun Kembali Kotagede). Contoh yang sangat benderang dikemu-ka-kan oleh Sholahudin, Kepala Desa Jagalan Kecamatan Banguntapan, Kotagede. ”Yang paling terasa itu pada malam 1 Suro,” ujar Sholahuddin.

Malam 1 Suro, atau 1 Muharam dalam penanggal-an Islam, adalah hari pertama yang mengawali tahun. Pada saat itu biasanya berduyun-duyun pezia-rah mendatangi makam Panembahan Senopati, raja pertama Mataram yang memerintah pada 1579-1601, yang berada di kompleks Masjid Panembahan. Begitu para peziarah sampai di gerbang masjid, mereka langsung membelah dalam dua arus besar. Sebagian ada yang mengalir ke arah makam untuk berdoa dan mencari wasilah, sedangkan sebagian lagi langsung memasuki masjid dan membaca Al-Quran sepanjang malam. ”Dua perayaan ini sangat kontras, namun bisa hidup rukun,” Sholahuddin mengenang.

Setelah tahun 1965, yang ditandai dengan menyusutnya pengaruh komunis di pedesaan, gerakan tajdid (pemurnian) yang dilakukan Muhammadiyah menemukan tajinya sehingga jumlah peziarah yang berdoa di makam semakin surut dari tahun ke tahun. ”Saat ini masih ada tapi tidak sebanyak dulu lagi, dan kebanyakan dilakukan oleh pendatang dari luar Kotagede,” tutur Sholahuddin. ”Meski begitu, penduduk asli Kotagede masih bisa toleran terhadap kegiatan seperti itu.”

Peran makam Panembahan Senopati yang sangat sentral itu diakui profesor antropologi Amerika Serikat, Suzanne A. Brenner. Dalam disertasinya, Competing Hierarchies: Javanese Merchants and the Priyayi Elite in Central Java, Suzanne mengungkapkan bahwa, bagi orang Kotagede, Panembahan Senopati terasa tak pernah mati.

Ketika hendak memasuki kompleks pemakaman, ia harus memereteli seluruh perhiasan dan arloji yang dikenakan. Alasan sang abdi dalem yang dikemukakan kepada Brenner adalah agar mereka tak menampilkan diri ”pada tingkatan yang sama” dengan tokoh di dalam makam. Jadi, bukan saja Brenner harus melepas alas kaki dan berjalan sebagaimana la-yaknya rakyat Kotagede di hadapan raja mereka, sang antropolog dari Cornell ini juga harus menghaturkan sowan—sebuah ekspresi terhadap seseorang yang dianggap mempunyai kelas sosial lebih tinggi.

Pada malam Jumat Kliwon, peziarah bahkan umum-nya lebih membludak. Mereka bahkan datang dari luar Kotagede, seperti Demak, Cirebon, dan pesisir utara Jawa lainnya, untuk ngalap berkah. Setelah bersuci, mereka berziarah ke makam Panembahan Senopati dan Ki Ageng Pemanahan, yang juga terletak di sana. Setelah itu, mereka berdoa di sekitar kolam, yang disebut penduduk setempat sebagai Sendang Selirang.

Ada kepercayaan yang melekat kuat bahwa dikabulkan-tidaknya doa bisa dilihat saat itu juga. Jika pendoa melihat Kyai Bulus Kuning Dudo melintas di dalam sendang, itu pertanda doa-nya makbul. Kyai Bulus Kuning Dudo adalah seekor kura-kura berwarna kuning dengan garis tengah tempurung sekitar 75 sentimeter. Meski Kyai Bulus ditemukan mati tahun 1994—dan dibuatkan patungnya di sisi sendang—masih banyak yang meyakini bahwa bulus kuning itu masih sesekali terlihat melintas di dasar sendang. ”Ada saja yang bilang mereka melihat Kyai Bulus, meskipun saya tahu Kyai Bulus sudah mati,” ujar Sulistiyono, seorang penduduk yang tinggal di dekat Masjid Panembahan.

Selain Kyai Bulus, pertanda diterimanya doa peziarah adalah penampakan Nyai Reges Truno Lele, seekor ikan lele betina yang konon memiliki tubuh transparan sehingga tulang-belulangnya kelihatan dari atas sendang. ”Banyak warga yang melihatnya tidak hanya sebagai mitos,” Sulistiyono menambahkan.

Mitos memang tak sepenuhnya mati di Kotagede. Bersama tra-disi petak umpet dan galah asin, ia sedang bersaing dengan deru playstation di pojok-pojok kota.

Akmal Nasery Basral dan Syaiful Amin (Yogyakarta)