Bermula dari Alas Mentaok

sumber: https://majalah.tempo.co/read/selingan/121020/bermula-dari-alas-mentaok

Secara harfiah, Kotagede berarti kota b-esar. Dan kisah kota besar ini berawal dari sebuah hutan bernama Alas Mentaok. Kegigihan Ki Ageng Pemanahan-lah yang membuat kawa-san terpencil itu menjadi kondang-bahkan hingga empat abad kemudian sejak bangunan pertama didirikan di sana.

Syahdan, penguasa Kerajaan Pajang-sebuah kera-jaan Hindu di Jawa Timur-Sultan Hadiwijaya, menyerahkan kawasan itu kepada Ki Ageng Pemanahan pada akhir abad ke-16. Anugerah itu diberikan karena Pemanahan berjasa menumpas pemberontakan Adi-pati Tuban, Arya Penangsang.

Bersama anaknya, Sutawijaya, Pemanahan lalu mem-buka hutan itu dan mendirikan Mataram. Untuk tem-pat menetapnya, ia mendirikan rumah-nya berlo-ka-si- di dekat Pasar Gede. Saat Pemanahan meninggal pa-da 1584, Sultan Pajang mengangkat Sutawijaya se-bagai penggantinya dengan gelar Ngabehi Loring Pa-sar. Nama itu dipilih karena keluarga Sutawijaya tinggal di sisi utara pasar-lor dalam bahasa Jawa berarti utara.

Namun, Sutaw-ijaya adalah pangeran muda yang menyimpan mimpi kekuasaan lebih besar. Dia tak i-ngin seperti ayahnya, yang merunduk di ha-dapan Pajang. Sutawijaya pun bertekad mengobarkan pem-be-rontakan.

Tentu saja Hadiwijaya murka. Ia segera meng-irim pasukan menyerang Mataram pada 1587. Beruntung-lah Sutawijaya: Merapi meletus dan pasukan Pajang- porak-poranda.

Sutawijaya kemudian mengangkat dirinya sebagai Raja Mataram, bergelar Senapati Ingalaga Sayidin Panatagama. Kotagede ditetapkan sebagai ibu kota Mataram Islam. l l l

Banyak sejarawan berpendapat keraton pertama Kesultanan Mataram dibangun bersamaan dengan Masjid Plered, yakni pada 1509 tahun Jawa Jima-wal atau 1587 Masehi. Tapi Kotagede tak lama menjadi pusat kekuasaan. Sultan Agung, Raja Mataram ke-tiga, naik takhta pada 1613 dan memindahkan pusat kerajaan ke Plered (kini masuk wilayah Bantul, DI Yogyakarta). Kotagede ditinggalkan, namun sekelompok abdi dalem menetap di sana untuk merawat makam dan masjid kerajaan.

Pada akhir abad ke-17, suksesi kekuasaan tak berlangsung mulus. Perpecahan pun meletup, yang ber-ujung pada Perjanjian Gianti pada 1755. Apa b-oleh buat, Mataram kemudian dibagi dua menjadi Ke-sunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Kotagede turut terbelah. Bagian selatan milik Su-rakarta dan sisi utara dikuasai Yogyakarta. Tetapi, secara keseluruhan, wilayah Kotagede tetap dihormati sebagai kawasan perdamaian.

Lalu, pecah Perang Diponegoro pada 1825-perang- besar melawan Belanda. Pada masa ini banyak peng-huni baru berdatangan ke Kotagede karena kawasan enclave ini dinilai aman. Sejak itulah perekonomian- Kotagede berkembang pesat. Dosen sejarah UGM, Bambang Purwanto, dalam sebuah makalahnya menggambarkan kerajinan di Kotagede dikembangkan oleh para pendatang. Lalu, “Secara perlahan mulai berkembang kelompok perajin dan pedagang di Kotagede,” tulisnya.

Kehadiran pendatang ini, menurut Bambang, me-ming-girkan para abdi dalem yang tidak memiliki kemampuan ekonomi memadai. Mereka akhir-nya bertahan menjadi buruh dan petani. Itu terjadi teruta-ma setelah reorganisasi Praja Kejawen. Ketika itu peng-usaha perkebunan Eropa mengambil paksa apanage (tanah kerajaan) yang menjadi sumber ekono-mi- para abdi dalem.

Versi cerita lain datang dari Achmad Charris Zu-bair, dosen filsafat UGM. Menurut dia, para abdi da-lem-lah yang mengembangkan perekonomian kerajin-an di sana. Dia menunjuk nama-nama perkampung-an di Yogya yang bertahan sejak Mataram, misalnya Kemasan (tempat perajin emas dan perak), Sayangan (tempat perajin tembaga), Mranggen (tempat perajin bungkus keris), dan Samakan (tempat menyamak kulit). “Jadi, boleh dibilang, sejak awal potensi kerajin-an memang sudah ada,” ujar pendiri Yayasan Pusat Studi Dokumentasi dan Pengembangan Budaya Kota Gede ini. Dia sepakat, elan bisnis baru marak setelah pusat kerajaan pindah ke Plered.l l l

Masa keemasan Kotagede kian mon-cer pada awal abad-20 ketika- orang-orang Kalang yang tinggal di sana mendapat hak monopoli dari pemerintah Hi-ndia Belanda untuk mengembangkan kerajinan emas dan perak, kain mori (kain putih untuk bahan batik), ke-rajinan batik, serta candu atau opium. Mereka juga dibe-ri- kewenangan membuka rumah ga-da-i.

Pada periode 1920-1930 Kotagede berkembang menjadi kota yang kaya-makmur. Kerajinan daerah ini dikenal dan dicari-cari tidak hanya oleh pribumi kaya, tapi juga kaum Eropa yang datang ke Jawa.

Kota yang sentosa itu juga memikat para pelancong. Salah satunya adalah seorang Indologie kelahir-an Semarang, Hubertus Johannes van Mook. Dalam artikelnya Koeta Gede, yang diterbitkan dalam Kolonial Tijschrift XV di Den Haag, pada 1926, Van Mook melukiskan Kotagede sebagai lorong-lorong yang sibuk. “…Terdengar suara para perajin emas-perak, tembaga, tanduk, penyu, dan kulit,” tulis Letnan Gubernur Jenderal Hindia Belanda itu. Koeta Gede telah diterjemahkan oleh Lembaga Pengetahu-an Indonesia bekerja sama dengan lembaga sejenis di Belanda, Koninklijk Instituut voor Taal, Land en Volkenkunde.

Van Mook menambahkan, “Lorong-lorongnya, terutama pada bagian kota sebelah barat di dekat pa-sar, memiliki sifat sangat elok. Lorong-lorong itu berkelak-kelok di antara deretan tembok setengah usang, sesekali terputus oleh gapura kecil atau relung, tempat pemilik warung bekerja di atas tikar anyaman bambu yang dibentangkan di tanah.”

Kekayaan melimpah membuat orang Kalang mampu membangun rumah-rumah mewah (joglo) yang dilengkapi berbagai aksesori bergaya Eropa dan Cina. Mereka kebanyakan berdiam di Jagalan, tepatnya di Tegal Gendu, sebelah barat Kali Gajah Wong (lihat, Joglo Tertimpa Lindu). Saking kayanya, ada yang bilang mereka orang Jawa pertama yang mampu membeli mobil Roll Royce!

Dari manakah datangnya orang Kalang itu? Sejauh ini ada berbagai penjelasan mengenai asal-usul me-reka. Beberapa kisah lisan mengatakan merekalah para saudagar yang berbondong datang ke Kotagede pada masa Perang Diponegoro. Orang Kalang terpaksa menetap di Tegal Gundu karena diusir Sultan Agung. Soalnya, ada salah satu dari mereka yang “main mata” dengan selir keraton.

Versi lain, menurut Charris Zubair, kaum Kalang adalah keturunan salah seorang abdi dalem Sultan Agung. Kata kalang berasal dari istilah serupa yang berarti lingkaran-dipakai untuk menyebut para abdi dalem kesultanan yang bertanggung jawab mengurusi bangunan di keraton. Kebanyakan mereka datang dari Bali.

Peran klan Kalang mulai memudar bersamaan usainya perang kemerdekaan. Satu per satu mereka menjual rumah-rumah mewahnya dan pergi entah ke mana. “Mereka mulai meninggalkan Kotagede dan tak pernah kembali,” tulis Bambang Purwanto.

Zaman berpihak pada Kotagede: bersamaan de-ngan dilarangnya pegadaian swasta dan candu, ke-rajinan perak berkembang menjadi produk primadona. Orang-orang luar daerah berdatangan, tersedot pesona perak. Kotagede segera punya nama alias baru, yakni Kota Perak.

Berbagai situs sejarah yang masih ada kian menambah eksotis kawasan ini. Selain bangunan-ba-ngunan kuno, di sini terdapat pula kompleks makam dinasti pendiri Mataram, seperti Ki Ageng Pemanah-an dan Panembahan Senopati l l l

Zaman berlari. Ketika krisis ekonomi melanda pada 1997, kerajinan perak Kotagede ikut nyungsep. Koperasi Produksi Pengusaha Perak Yogyakarta (KP3Y) mencatat, pada tahun 2000, 2.000 orang bekerja untuk usaha ini. Kini jumlah mereka kurang dari 500 orang. Mereka yang tersingkir beralih profesi menjadi kusir andong, pengusaha warung, atau kuli bangunan.

Selama beberapa tahun terakhir, muncul gejala- p-erbu-ruan bangunan joglo di Kotagede. B-anyak orang ber-duit dari kota besar datang untuk me-nguasai warisan leluhur itu. Charris Zubair deng-an yaya-sannya be-rusaha melakukan perlawanan. Mei lalu, misalnya-, me-reka memasang spanduk-span-duk b-esar ber-tuliskan “Selamatkan bangunan-bangun-an kuno di Kotagede”.

Sayang, poster itu tak awet berkibar. Pengumuman itu akhirnya lantak bersama tiang-tiang rumah kuno yang dihajar gempa bumi berkekuatan 5,6 pada skala Richter.

Philipus Parera