Joglo Tertimpa Lindu

sumber: https://majalah.tempo.co/read/lingkungan/121019/joglo-tertimpa-lindu

PADA usia 98 tahun, Mbah Djojo Suwarno ha-nya bisa memandang nanar reruntuhan ru-mah joglonya. Lindu telah memboyakkan ke-utuhan bangunan tua itu. Inggih mestinipun ajrih, kedadosan lindu tasih terus-terusan (Saya masih takut, lindu masih terus terjadi),” katanya.

Joglo milik Mbah Djojo itu dibangun oleh kakek buyutnya, Mertodirdjo, pada 1836. Selama 170 tahun, Joglo itu diwariskan turun-temurun. Mbah Djojo adalah ahli waris keenam. Pada masanya, Mertodirdjo adalah juragan emas kaya-raya sehingga mampu membangun beberapa joglo di Kotagede. Joglo yang ditempati Djojo diba-ngun dengan tiang dari kayu berkualitas tinggi. Atap-nya mirip sirap, terbuat dari tanah liat.

Joglo Kotagede adalah incaran pencinta barang kuno yang berani membeli dengan harga ratusan ju-ta. ”Para pembeli bahkan ada yang datang dari Si-ngapura dan Malaysia,” kata Kepala Dinas Ke-bu-dayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta-, Djo-ko Budhi Sulistyo. Menurut Dr Laretna T. Adhi-shak-ti, dosen arsitektur Universitas Gadjah Mada, jo-glo adalah puncak pencapaian arsitektur Jawa.

Tak hanya menyimpan nilai ekonomis, joglo mengandung kekayaan budaya. Rumah itu diba-ngun berdasarkan perhitungan yang cermat: hari pembangunan, ukuran, sesaji, kerangka, pembagian ruangan, dan lingkungan. Tujuannya agar penghuninya memperoleh ketenteraman, kesejah-teraan, dan kemakmuran.

Rumah joglo Jawa memiliki tata ruang baku: pendapa (ruang depan terbuka), pringgitan (peng-hubung), lalu dalem ageng (rumah induk). Di bela-kang rumah induk terdapat gandok (bangunan penghubung) menuju dapur dan kamar mandi. Itu-lah yang juga masih tersisa pada bangunan kuno Kotagede saat ini.

Joglo boleh dibilang menjadi perintis arsitektur bangunan di Kotagede. Achmad Charris Zubair, dosen filsafat UGM, membagi perjalanan arsitektur bangunan Kotagede dalam tiga periode. ”Tiap periode memiliki ciri khusus,” katanya.

Periode pertama disebut arsitektur Mataram, yang ditandai kehadiran joglo sejak sekitar tahun 1700-an. Rumah-rumah joglo dibangun setelah ibu kota Mataram pindah ke Plered, Bantul.

Sepeninggal Sultan Agung, terjadi perubahan besar. Masyarakat Kalang, yang sebelumnya menjadi pegawai kerajaan, membangun rumah mewah. Arsitekturnya merupakan campuran gaya Hindu dan Jawa. Orang Kalang memang berasal dari era Majapahit dan Bali. Sisa peninggalan arsitektur campuran ini masih bisa dilacak pada pintu gerbang makam Kotagede yang mirip pura Bali.

Periode berikutnya ditandai dengan masuknya pengaruh Islam. Pemilik rumah biasanya me-nambahkan langgar atau musala di sekitar rumah-n-ya. Pada dinding langgar biasa terdapat tulisan atau ornamen Arab. Bangunan ini marak pada era 1800-1900.

Perubahan besar terjadi pa-da periode 1920-1930. Ketika itu orang Kalang mendesak ke depan dalam peta interaksi sosial. Karena kedekatannya dengan Belanda, masyarakat Kalang dipercaya menangani pegadaian, perdagangan berlian, dan opium. Pada periode ini, orang Kalang membangun rumah mewah dengan arsitektur campuran Jawa-Eropa.

Di Kotagede, rumah milik keluarga Pawiro Sentiko di Jalan Kemasan, misalnya, adalah salah satu rumah Kalang yang masih bertahan. Selain itu, ada pula rumah milik keluarga Proyodranan.

Bangunan yang berdiri pada 1857 tersebut tampak meriah oleh ornamen. Ha-nya, bangunan dasar tak lagi berbentuk bujur sangkar khas joglo, tapi lebih sempit dan memanjang. Soko gurunya juga bukan kayu, melainkan berupa pilar semen. Tak ada lagi aroma pelitur karena diganti cat warna-warni dengan dasar kuning. Mozaik kaca aneka warna menghiasi bagian atas pendapa. Sinkretisme budaya tak terelakkan. ”Rumah-rumah kuno itu menjadi tonggak perjalanan sejarah budaya masyarakat Kotagede,” kata Zubair.

Kini lebih dari separuh rumah joglo yang ada tak lagi mulus. Data terakhir mencatat ada 150-an rumah joglo di Kotagede yang masih ”segar” sebelum gempa melanda. Setelah gempa, Jogja Heritage Society (JHS) dan Yayasan Kantil menemukan sekurangnya 88 bangunan rusak. Itu pun pencatatan belum tuntas. ”Rata-rata lepas soko gurunya, dan dinding temboknya runtuh,” kata Dr Laretna T. Adhishakti.

TW/LN Idayanie, Syaiful Amien (Yogyakarta)