sumber: http://jogjakubanget.blogspot.com/2011/08/jogja-toponim-banget_7651.html
Babon Aniem merupakan salah satu landmark kota yang dimiliki Kotagede. Babon Aniem adalah gardu listrik yang berada di sudut barat laut PASAR KOTAGEDE.
Gardu listrik ini dibangun di awal tahun 1900 an. Disebut Babon karena gardu listrik di pojok PASAR KOTAGEDE ini adalah gardu induk (babon). Sedangkan tambahan nama Aniem digunakan karena gardu pusat kontrol listrik tersebut merupakan warisan perusahan listrik Pemerintah Belanda, NV ANIEM (Algemeen Nederlands Indische Electriciteit Maatschappij).
Saat ini, di Kota Yogyakarta masih ada empat gardu listrik yang tersisa, yaitu yang terletak di Kotabaru, di timur Hotel Garuda, di dekat Pojok Beteng Wetan dan di barat laut PASAR KOTAGEDE. (ERWITO WIBOWO, HAMID NURI, AGUNG HARTADI: TOPONIM KOTAGEDE, 2011)

PORTAL JOGJA – Gardu listrik atau transformator ini oleh masyarakat sering disebut babon ANIEM. Bangunan babon ANIEM ini berada di salah satu sudut di Kompleks Pasar Kotagede Yogyakarta.
Babon adalah kata Bahasa Jawa yang berarti induk. Sedangkan ANIEM adalah singkatan nama sebuah perusahaan listrik di masa penjajahan Belanda yaitu Algemeene Nederlandsche Indische Electriciteit Maatschappij.
Pada awal abad 19, ANIEM adalah perusahaan besar di Hindia Beland. Tahun 1914, ANIEM mendapat hak untuk mengusahakan jaringan listrik untuk Kota Yogyakarta. Empat tahun kemudian, pembangunan infrastruktur dasar telah selesai dan siap dioperasikan.
Instalasi pertama yang dibangun adalah gedung pabrik listrik ANIEM di Wirobrajan. Selanjutnya beberapa transformator atau gardu listrik menyusul dibangun di beberapa lokasi strategis seperti di Kotabaru, Danurejan, Pengok, Pingit dan Kotagede.
Menurut catatanm tahun 1939 seluruh wilayah Karesidenan Yogyakarta telah teraliri listrik.
Bentuk bangunan Babon ANIEM biasanya berupa empat persegi panjang,yang dibangun dengan tembok batu bata. Keberadaan bangunan ini tentu menjadi bagian bagian sejarah hadirnya listrik di Kota Yogyakarta.
Babon ANIEM di Kotagede sempat mengalami kerusakan saat terjadi gempa bumi tahun 2006 lalu. Namun akhirnya direkonstruksi kembali dan hingga kini masih tegak berdiri.
Sayang, gardu listrik di Kotagede,ini terkesan sedikit kumuh. Ya, karena pagi, siang, sore dan malam hari disekitar gardu digunakan para pedagang untuk berjualan.
Hanya saat larut malam hingga dini hari, gardu listrik ini terbebas dari aktivitas pedagang. Padahal, seperti halnya gardu listrik peninggalan NV ANIEM yang lain, babon ANIEM Kotagede yang sudah tidak dipergunakan lagi ini merupakan bangunan cagar budaya.
