
Bangunan Bioskop Eri terletak di Jalan Perintis Kemerdekaan yang berbatasan dengan Gedung Parkir Kota Bukittinggi di sebelah kiri dan Gedung Pegadaian di sebelah kanan. Di seberang jalan terdapat sebuah bangunan rumah peninggalan masa kolonial yang dimiliki oleh keluarga pelukis terkenal Wakidi yang sempat menjadi guru di Sekolah Raja dan kemudian di SMA N 2 Kota Bukittinggi. Bagian belakang bangunan berupa tebing yang mengarah ke Jl. Khatib Sulaiman yang di seberangnya terdapat Taman Tugu Pahlawan Tak Dikenal.

Bangunan Bioskop memiliki ciri khas arsitektur kolonial yang tampak pada fasad bangunan dengan ruangan utama ialah ruang pertunjukan. Kursi tempat duduk masih asli yang terbuat dari rotan. Ruang pertunjukan ini berada memanjang pada bagian belakang. Adapun pada bagian depan terdiri atas tiga ruangan berlantai dua. Bagian tengah merupakan aula tempat masuk, bagian kiri merupakan ruang penjualan karcis, sedangkan pada ruang bagian kanan terdapat tangga menuju ke lantai atas. Lantai atas terbagi kepada dua ruangan, ruangan pertama yang terhubung dengan tangga ke lantai bawah ialah tempat shalat sedangkan ruangan kedua ialah tempat proyektor filem.
Bangunan bioskop terbuat dari bata berspesi dengan lantai ubin, bagian dinding telah kusam, demikian juga langit-langit.
Bioskop ini merupakan satu-satunya biskop yang masih beroperasi di Kota Bukittinggi hingga kini. Secara umum bagunan masih utuh namun tidak terawat dikarenakan kurangnya pemasukan akibat monopoli yang dilakukan oleh salah satu jaringan bioskop yang ada di Indonesia terhadap peredaran pemutaran filem.
Merupakan salah satun gedung bioskop di Kota Bukittinggi yang telah ada semenjak Zaman Kolonial Belanda. Berdasarkan plakat yang tertempel pada dinding bagian depan bangunan didapat keterangan bahwa Gedung Bioskop ini didirikan oleh kontraktor yang bernama Marah Mohd. Joesoef pada tahun 1939.
Tidak didapat keterangan pasti perihal proses pendirian bioskop serta pemilik mula-mula, namun pada peta lama Kota Bukittinggi tahun 1945 yang diterbitkan oleh tentara Sekutu terdapat data tentang keberadaan Bioskop (Bioscoop) ini.
Bioskop Eri pada masa kemerdekaan sempat mengalami masa jaya pada tahun 1970an. Bioskop yang normalnya beroperasi dua kali sehari yakni pada petang (sore) dan malam hari dapat mengalami penambahan jam beroperasi. Terutama sekali tatkala hari raya dimana untuk dapat menonton mesti memesan tiket terlebih dahulu serta harus melalui antrian.
Pengunjung bioskop tidak hanya dari rakyat kebanyakan namun juga terdapat beberapa pejabat di lingkungan Kota Bukittinggi saat itu.
Foto-foto:







Bioskop Eri, salah satu bioskop legendaris yang ada di Kota Bukittinggi. Bioskop yang menjadi primadona pada tahun 80an hingga 90an ini masih aktif hingga saat ini meskipun berada pada titik nadir perjalanannya.Saat ini Bioskop Eri hanya buka pada waktu-waktu tertentu dengan stok film jadul yang masih diputar dengan tiket murah meriah.
Bioskop Bukittinggi
Bioskop Eri merupakan salah satu dari tiga bioskop yang menjadi sentra perfileman pada masa jayanya di kota Bukittinggi pada tahun 1980. Bioskop Eri bersama Bioskop Sovia dan Bisokop Gloria menjadi tujuan para penikmat filem di Kota Bukittinggi untuk menikmati rilisan audio visual pada dekade 1970an hingga 1990an.
Bioskop Eri
Bioskop Eri ini adalah satu-satunya bioskop jadul berkonsep PHR (Panggung Hiburan Rakyat) dengan kursi kayu rotan yang masih beroperasi di Bukittinggi. Menayangkan filem Indonesia dan film impor yang waktu rilisnya 5-6 tahun lalu dengan HTM 15 Ribu Rupiah.
Saat beroperasi, Bioskop Eri cenderung memutarkan film impor seperti film INdia dan filml-film misteri lokal dengan poster yang luar biasa.
Bioskop Sovia
Bisokop Sovia lebih dekat dengan filem-filem drama Indonesia macam Catatan Si Boy (1987), sementara Bioskop Gloria banyak menayangkan film-film Barat seperti Breakdance (1987) dan Top Gun (1987).
Disalin dari IG Info Sumbar dan https://cultureandbukittinggi.blogspot.com/



