Bukittinggi · Saisuak

Bukittinggi tahun 1895 dan sekarang. Jalan Haji Usmar Ismail, arah simpang DPRD.

sumber: IG Roman Saisuak

Dulunya, tata kota Bukittinggi memang memiliki nuansa asri yang terpengaruh oleh gaya Eropa, terutama pada masa penjajahan Belanda. Hal ini terlihat dari beberapa aspek arsitektur dan tata ruang kota yang dibangun pada masa itu. 

Berikut beberapa hal yang menunjukkan pengaruh Eropa pada tata kota Bukittinggi:

  • Arsitektur Bangunan: Banyak bangunan di Bukittinggi, termasuk Jam Gadang, dirancang dengan gaya Eropa, khususnya arsitektur kolonial Belanda. 
  • Tata Ruang Kota: Tata ruang kota Bukittinggi juga dipengaruhi oleh perencanaan kota Eropa, dengan jalan-jalan yang teratur dan beberapa fasilitas publik yang dibangun dengan gaya yang sama. 
  • Jam Gadang: Sebagai ikon Bukittinggi, Jam Gadang adalah menara jam yang dibangun dengan gaya arsitektur Eropa dan menjadi penanda penting kota tersebut. 
  • Nama Kota: Bukittinggi dulunya dikenal dengan nama Fort de Kock, sebuah nama yang mencerminkan keberadaan benteng Belanda di kota tersebut. Benteng ini berfungsi sebagai pusat pengendalian militer Belanda di Sumatera, bahkan hingga ke Singapura dan Thailand. 
  • Pusat Administrasi: Bukittinggi berkembang menjadi pusat administrasi yang maju pada masa kolonial. Selain menjadi pusat perdagangan, kota ini juga menjadi tempat awal mula pendidikan modern di Indonesia, dengan berdirinya sekolah-sekolah yang melahirkan tokoh-tokoh pejuang. 
  • Parijs van Sumatra: Julukan “Parijs van Sumatra” diberikan kepada Bukittinggi karena keindahan alamnya, udara yang sejuk, dan tata kota yang dianggap rapi dan indah, mirip dengan kota Paris di Eropa. 

Meskipun Bukittinggi merupakan bagian dari wilayah Minangkabau dengan ciri khas arsitektur rumah adatnya, pengaruh Eropa pada masa lalu tetap memberikan warna tersendiri pada tata kota Bukittinggi. 

catt:
saisuak = sisuak = tempo dulu