Seri Cerita Kenangan Nh. Dini #14 | Dari Ngalian ke Sendowo

sumber: http://trulyrudiono.blogspot.com/2015/07/2015-dari-ngalian-ke-sendowo.html


Penulis: Nh Dini
Desain sampul: Suprianto
Ilustrasi Menara Kudus: Ade Pristi
Setter: Fitri Yuniar
ISBN: 9786020316512
Halaman: 268
Cetakan: Pertama-25 Mei 2015
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Harga: Rp 65.000

Garis nasib tidak selalu lurus. Juga tidak selalu mulus. Di samping kepuasan-kepuasan, kegembiraan-kegembiraan, tentu tersuguh juga kerumpilan dan kekecewaan dalam kehidupan manusia. 
~hal 244

ke.rum.pil.an
Nomina (kata benda) perihal rumpil; kesukaran; kesulitan; kesusahan: berbagai kerumpilan yang dihadapi untuk mencapai keberhasilan

Salah satu keuntungan membaca karya Eyang Nh. Dini adalah bertambahnya kosakata saya. Tentunya selain hiburan membaca kisah dalam Seri Cerita Kenangan.  Bagi banyak orang yang berkecimpung di dunia sastra, kata kerumpilan mungkin bukan kata yang baru. Tapi bagi saya yang hanya sekedar hobi membaca, kata tersebut menjadi tambahan kosakata baru.

Sebanyak  xxi + 268 +  xxi halaman berisi  autobiografi si penulis, saya meyebutnya dengan sapaan eyang.  Buku ini memaparkan tentang kehidupan eyang di usia sepuh. Meski berusia senja, eyang seakan memiliki energi yang tidak pernah habis untuk mengurusi pondok baca, menjadi pembicara serta berbagai keiatan yang terkait dengan dunia sastra di tanah air. 

Kisah dalam buku ini terjadi antara kurun tahun 2000-2006 saat eyang memutuskan untuk tinggal di rumah jompo Yayasan Wredha Mulya di Sendowo, Sleman, DIY, YWM. 

Tidak hanya kisah, jika diperhatikan dengan lebih seksama, eyang juga memasukan tambahan ilmu saat mengulas tentang suatu hal.  Saat menerima hadiah dari Ratu Sirikit di Bangkok misalnya, eyang juga memberikan ulasan singkat mengenai latar belakang Thailand. Selain membuat pembaca memiliki bayangan mengenai lokasi kisah, ikut merasakan apa yang dirasakan penulis, pembaca juga menjadi tahu tentang negara Thailand, meski hanya garis besar saja. 

Saya terbuai dengan paduan rangkaian kata dan sikap eyang yang mandiri meski usia sudah sepuh. Tak ada alasan untuk tidak mandiri. Eyang justru memilih tinggal di YWM karena memiliki keinginan untuk tidak merepotkan orang lain. Kontras memang, saat banyak penghuni panti jompo yang merasa dibuang oleh keluarganya karena dikirim ke sana.

Satu lagi prinsip hidup eyang yang sangat saya kagumi adalah cara berpikir yang sangat realitis. Perihal keuangan eyang sangat mandiri, segala pengeluaran tentunya menjadi pemikirannya. Tak terkecuali Pondok Baca. Saat menerima hadiah songket, eyang meminta seorang pembesar daerah menukar songket itu dengan sejumlah uang. Bukan tidak menghargai pemberian, eyang sangat sadar tidak akan mampu mempergunakan kain tebal tersebut. Uang bermanfaat bagi pengembangan serta kelangsungan Pondok Baca.

Saya jadi teringat sebuah tas jinjing halus yang saya hadiahkan saat bertemu. Melihat eyang yang kerepotan membawa aneka barang, saya aturi tas tersebut kebetulan masih baru. Jika dipakai, tentunya saya bersyukur, jika nasibnya seperti songket itu, saya juga bersyukur karena telah berpartisipasi dalam urusan Pondok Baca, meski secara tidak langsung.

Sebuah bagian yang mengisahkan bagaimana eyang  merasa wajar jika ia memasang tarif sebagai pembicara, membuat saya seakan-akan berkaca pada kondisi sekitar. Saya sangat setuju dengan hal itu, wujud profesionalisme. Kecuali saat eyang memang sedang membagi ilmu dan tenaga untuk amal. Di halaman 244, eyang menyebutkan nama beberapa universitas yang menghargai kehadiran eyang. Termasuk soal honorarium yang amat layak disamping biaya transpor yang dermawan.

Entah kebetulan atau bagaimana, beberapa hal yang sedang ramai dibicarakan orang juga diungkap dalam buku ini. Pertama perihal pengeras suara alias toa di mesjid. Di halaman xix, ditulis, ” Pendek kata, ketenangan dan kenyamanan yang kuharapkan sebelum pindah ke ota itu, tidak kudapatkan. Itu masih ditambah seruan pengeras suara 17 Mesjid di keliling kompleks YWM yang mulai memasang kaset berisi entah doa entah ceramah pada pukul 3 dinihari! Perasaanku sungguh-sungguh terhimpi.” 

Kedua tentang kisah bagaimana seorang wartawan suka sensasi kena batunya ketika membuat tulisan tentang istri Ajip Rosidi. Belakangan, sering kita temui judul berita penuh sensasi di media. Ketika kita membaca, isi  beritanya sekedar membuat suasana ramai dengan sensasi semata. Ternyata dari dahulu sudah ada tipe wartawan seperti itu, meski banyak juga yang menjalankan profesinya dengan benar. 

Selanjutnya, film Minions yang ramai dibicarakan juga membuat nama sutradara film  Pierre-Louis Padang Coffin ikut terangkat. Anak bungsu eyang ini, disebutkan sebagai pemakan daging dalam buku. “Pikiranku melayang kepada Padang, anakku yang bungsu. Dialah ‘pemakan daging’….Tidak jauh dari Kampung Sekayu, ada penjual sate ponorogo. Kekhasan sate ini ialah menggunakan daging sapi sebagai bahan. Irisan-irisan persegi yang cukup besar tertata di tiap tusuk batang bambu. Anakku mampu menghabiskan 20 hingga 30 tusuk! Mungkin lebih seandainya aku mampu membelinya.” Begitulah seorang ibu, ia akan membeli matahari jika mampu untuk sang anak.

Pesan moral seorang ibu yang sering dikutip eyang membuat buku ini memiliki nilai lebih lagi.

Anggaplah sebagai wacana dalam menghadapi hidup ini. Contohnya saat eyang kehilangan benda sepele tapi saat dibutuhkan . Kita harus iklas, merelakan barang yang diambil orang karena mungkin saja barang-barang tersebut bisa membuat bahagia yang mengambil. Eyang tidak saja kehilangan seprei, sarung bantal dan selimut. Tapi juga jacket, payung serta sandal. Seperti barang-barang itu diambil oleh calon-calon asisten rumah tangga yang hanya tinggal beberapa hari. Nelongso, Untungnya eyang selalu mengingat pesan ibundanya, “Ya, meskipun kamu atau yang kehilangan merasa rugi atau sedih, kebalikannya, yang mendapatkan benda itu tentunya merasa senang, malahan mungkin bahagia …! 

Namanya juga pengarang besar, tentunya tetap ada bagian yang menguraikan tentang buku. Dalam hal ini eyang menguraikan tentang suasana nyaman yang dikenalnya saat di Jepang. Kebanyakan orang Jepang di dalam kereta atau bus selalu mengambil dua sikap, memejamkan mata atau membaca. Jarang kita temui penumpang yang termenung-menung dengan mata terbuka di kereta atau bus. Dalam urusan membaca, bangsa Jepang merupakann pembaca yang sangat handal. Perpustakaan besar dan kecil tersebar di seluruh kota hingga pelosok desa. Jumlah perpustakaan yang dikelola oleh swasta serta pribadi adalah sebesar sepertiga dari keseluruhan jumlah perpustakaan yang ada. Bagi bangsa Jepang membaca adalah sebuah budaya.

Untuk mereka yang dengan santainya “nodong” buku baru ke sahabat yang kebetulan penulis, mungkin kisah di halaman 234-237 bisa membuat kalian (eh saya juga meski kadang-kadang) berpikir dua kali ketika akan melakukan hal tersebut lagi.

Jika di luar negeri seorang pengarang bisa kaya raya dengan sebuah buku best seller, tidak demikian di tanah air. Eyang bahkan sempat menolak penghargaan  karena merasa panitia tidak fair. Mereka dengan mudahnya memberikan penghargaan  pada orang yang belum cukup berkarya tapi sering muncul di koran.

Kover buku dengan nuansa bunga aneka warna ini menawarkan pemandangan yang neyejukan hati bagi yang melihatya. Ditambah dengan warna judul dan penulisnya. Menurut saya eyang sangat rendah hati karena membiarkan nama beliau ditulis secukupnya, tidak seperti penulis lain yang namanya dicetak dengan huruf berukuran besar melebihi judul. Meski demikian saya agak bingung dengan ilustrasi Menara Kudus. Apakah sekedar untuk memperjelas  lokasi kisah atau hal lainnya,

Buku ini berjodoh dengan cara yang unik. Setelah melakukan pembayaran, saya lupa melakukan konfermasi pada si penjual. Setelah nyaris dua minggu baru saya ingat. Untunglah buku ini masih ada dalam persediaan.

Sebelum saya makin ngelantur ngalor-ngidul, ada baiknya saya akhiri review ala curhatan saya dengan menawarkan sebuah perenungan yang bersumber dari buku ini.

Apa pun yang tidak diasah, akhirnya selalu menjadi tumpul. Segumpal batu atau berlian yang memiliki nilai jual tinggi sekalipun harus diasah lebih dahulu, dipotong dan dikikis dengan pertimbangan sudut serta segi tertentu agar memantulkan sinar sehingga berkilauan. Demikian pula halnya akal manusia, alat terpenting karunia Yang Maha Kuasa. Bakat yang dimiliki seseorang tidak akan matang, kemudian mewujudkan sesuatu hasil jika tidak dipupuk dan diasah. 

________________________________

sumber: https://www.kompasiana.com/artieahmad/55c3765804b0bdf80b7687f8/resensi-novel-baru-milik-nh-dini-dari-ngalian-ke-sendowo

oleh: Arti Ahmad

Setelah menerbitkan ulang 6 bukunya di tahun 2014 yang bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke 78 tahun. Tahun ini Nh. Dini kembali dengan menerbitkan seri cerita kenangan terbarunya.

Seperti seri cerita kenangan yang lain, ‘Dari Ngalian ke Sendowo’ tetap menyuguhkan serangkaian perjalanan spiritual kehidupan seorang Nh. Dini. Dengan gaya penyampaian yang masih menarik seperti seri cerita kenangan pendahulunya, ‘Dari Ngalian ke Sendowo’ menceritakan perpindahan penulis dari Ngalian, Semarang ke Sendowo, Yogyakarta. Banyak hal yang disampaikan seorang Nh. Dini lewat buku terbarunya.

Masih menggunakan gaya bahasanya yang lembut ‘miyayeni’ tapi menyengat, Nh. Dini menceritakan serangkaian perjalanan kehidupannya di ambang usia 70 tahun. Perjalanan kehidupannya yang didasari oleh dorong-dorongan pemikiran yang gamblang, pilihan yang didasari dari hati diceritakan begitu bening di buku ini. Bahkan serangkaian pandangan penulis tentang sesuatu hal yang dia lihat, mampu diresapi dengan apik lewat tulisan yang sebisa dapat dikemas dalam kesederhanaan rangkaian kata, guna menggiring pembaca agar tidak jenuh dengan apa yang disuguhkan penulis dalam tiap jengkal cerita di lembaran-lembaran halaman buku setebal 268 halaman ini.

Misal kutipan tentang pandangan penulis terhadap pola pikir seseorang yang dia tangkap melalui asahan pikiran yang bersangkutan.

“Asahan bacaan dan pemikiran atau perenungan atau kotemplasi membuat orang semakin peka namun siaga, tanggap dalam menghadapi berbagai peristiwa. Orang itu juga bisa menjadi pengarang yang baik.” (Halaman 54).

Dari buku ini pula, bisa dilihat betapa jeli penulis dalam menceritakan kembali hal-hal yang pernah ia temui. Penggambaran tentang suatu tempat, keadaan lingkungan, bahkan orang-orang di sekitarnya mampu diceritakan kembali dengan tajam dan jernih. Tempat-tempat yang pernah dikunjunginya bertahun silam masih disuguhkan secara apik lewat beberapa bagian cerita lewat penggambaran yang gamblang. Contoh konkrit saat penulis berkunjung ke Tanah Melayu. Setiap tempat yang dikunjungi mampu diceritakan secara detail dengan gambaran yang mampu ditangkap pembaca. Bahkan asal-usul suatu nama tempat dituliskan penulis sebagai tambahan informasi juga dijelaskan secara terang.

“Pulau Penyengat Indrasakti lebih kecil dari pulau Bintan atau Pulau Batam. Menurut legenda, pulau tersebut merupakan pilihan tempat singgah para pelaut dan saudagar untuk mengambil air bersih. Jika ada yang melanggar suatu pantangan, orang itu akan langsung diserang sejumlah serangga penyengat. Konon dari situlah asal muasal nama Pulau Penyengat.” (halaman 54).

Buah pemikiran tentang Nh. Dini kepada sesuatu hal juga sangat ketara di beberapa bagian. Hal semacam keluhan dengan suatu keadaan, bahkan budaya atau kebiasaan tentang sesuatu yang tak sesuai dengan pola pikirnya dikeluarkan dengan cara yang cukup elegan tapi ‘menyentil’. Bukan sebatas tentang sifat dan perilaku seseorang yang ditemuinya, melainkan hal lebih rumit dibanding itu.

“Aku tidak dapat menahan diri mengutarakan pendapatku mengenai kegiatan terakhir itu. Dalam bidang sastra, di bagian dunia mana pun, secara tersebar orang tidak hanya menyajikan bacaan puisi. Semua kreasi sastra, termasuk novel dan cerita pendek, bahkan fragmen atau penggalan drama pun disuguhkan pada saat-saat pertemuan gelaran karya. Bahasa internasionalnya readings. Tapi di Indonesia, tidak pernah terjadi hal itu. Selalu deklamasi sajak, pembacaan puisi-lah yang menjadi ‘obsesi’ panitia penyelenggara kegiatan pertemuan-pertemuan kesenian. Entah ini disebabkan karena mereka kurang menaruh perhatian terhadap novel, cerita pendek dan drama, ataukah karena mereka picik, tidak mengetahui bahwa genre atau jenis-jenis ciptaan dalam sastra juga sangat dihargai di luar negeri.” (halaman 86).

Buku yang dapat dimasukkan sebagai jenis novel autobiografis ini tak ubahnya tolok ukur penulis dalam memandang kehidupan yang pernah ia lalui. Meski tentu saja, tak sekomplek yang benar-benar penulis alami. Tak hanya pengalaman yang mengesankan atau menyenangkan yang diceritakan penulis, melainkan tentang kehilangan, ketidak nyamanan, bahkan kemuraman perasaan ketika menghadapi sesuatu hal yang tak sesuai dengan yang dikehendaki penulis diceritakan dalam alur yang runtut dan jelas.

Selalu menarik ketika membaca seri cerita kenangan dari Nh. Dini. Bagaimana cara Nh. Dini mengemas memori masa lalunya menjadi sebuah cerita yang runtut selalu manis untuk dinikmati dalam seri cerita kenangan yang hanya Nh. Dini seorang saja yang bisa menyuguhkan seperti itu.

Melalui seri cerita kenangan terbarunya, ‘Dari Ngalian Ke Sendowo’ tak ubahnya pembuktian dari Nh. Dini, meski di ambang usia 80 tahun, ia masih setia dengan susastran yang lebih dari 60 tahun ditekuninya. Dan staminanya dalam menulis belum luntur sedikitpun.