Miranda Risang Ayu | Mencari Senyum Tuhan

3714645

sumber:
https://ruangkecil.wordpress.com/2009/08/09/resensimencari-senyum-tuhan/

Judul : Mencari Senyum Tuhan, Catatan hati seorang muslimah pendamba Ridha Allah (Miranda Risang Ayu)
Penerbit : Zaman
Cetakan : I thn. 2008
186 hlm

…Peringatan Allah hadir dalam berbagai cara. Ia bisa juga berwujud kesulitan, penolakan atau kegagalan. Dia juga hadir sebagai sang Maha Pemberi pelajaran. Intinya, Tuhan itu Ada. Begitu dekat …

Saya penggemar tulisan Miranda. Ketiga bukunya sudah saya khatamkan: Cahaya rumah kita, Permata hati, dan purnama hati. Maka sejak tahu beliau menerbitkan buku baru, dengan semangat 45 saya mencarinya di setiap toko buku yang saya datangi : Social Agency, Toga Mas, hingga Gramedia.

Mungkin karena belum beruntung, saya belum mendapatkannya meski sudah berbulan-bulan. Hingga hari rabu kemarin, saya menemukannya di stan penerbit Robani di Jogja Book Fair di J.E.C. Dan Miranda masih saja seperti dulu, menyajikan tulisannya dengan kata yang tak cukup sekali dibaca.

Buku ini berisi 16 tulisan lepas Miranda yang pernah dimuat di beberapa media—kebanyakan ditulis ketika beliau menempuh study-nya di Australia—ditambah satu tulisan pembuka bertajuk ‘merindukan Tuhan’ dan tulisan penutup berjudul ‘mencari Tuhan’.

Secara keseluruhan buku ini sama dengan buku-buku sebelumnya, mencatat kegelisahan seorang pencari, mencatat perjalanan pencarian, hingga menemukan bahwa perjalanan itu sesungguhnya proses seumur hidup. Sebuah proses yang begitu panjang.

Miranda bicara tentang sampah, tentang bunga, tentang cihampelas, juga tentang lukanya terkait peristiwa kartunisasi Nabi Muhammad di Denmark. Secara khusus ia memberi judul, ‘Menjadi Kekasih Allah’ pada tulisan ini. Bagaimana bisa? Rasulullah yang tidak pernah menduakan Khadijah disaat banyak lelaki Arab memiliki istri tak berbilang.

Rasulullah yang menyanjung puteri perempuannya sebagai puteri kesayangan ketika banyak lelaki arab mengubur anak perempuan hidup-hidup. Rasulullah yang memuliakan perempuan di sekitarnya ketika perempuan arab waktu itu hanya menjadi pemuas kebutuhan lelaki. Sementara pada bagian lain.

Miranda (mengutip kata-kata Muhammad Zuhri) menyebut bahwa hijab itu seperti kacamata. Ia menutup yang harus ditutup, yakni bola mata dan memperjelas yang harus diperjelas yakni objek pandangan. Hijab menutup daya tarik fisikal perempuan supaya tidak memperdaya dan terangkat nilainya sekaligus memperjelas potensi perempuan yang seharusnya memang tersiar. (hal.100)

Tentang kesederhanaan dan proses pencarian, Ia menulis, ‘ Saya menemukan tidak ada gunanya memang, menolak sesuatu yang sudah menjadi kadar pelajaran yang ditetapkan. Tak ada tempat di dunia ini yang bisa melindungi mata hati seseorang untuk tidak bersibrok dengan pelajaran hidup yang itu-itu lagi, selama ujiannya belum terlewati dengan sempurna.

Dia maha Melihat dan Maha memberikan pelajaran. Mau lari kemana? Saya harus bisa mengatakan bahwa jauh-jauh merantau ke Australia itu bukan untuk menghindar, melainkan untuk menemukan dan menyelesaikan, sesuatu yang memang sudah ditetapkan menjadi kadar pelajaran hidup saya. Belajar sederhana. Padahal belajar sederhana itu sungguh tidak sederhana’ (hal 137)

Dibanding tulisan lain, saya lebih tertarik membaca bagian akhir yang berjudul ‘mencari tuhan’. Beliau menceritakan proses pencariannya. Kegelisahannya akan Tuhan sejak kuliah, pertemuannya dengan Muhammad Zuhri—tokoh tasawuf dari Pati jawa tengah, perjalanannya sejak SMA hingga menempuh pasca sarjana di Australia, sampai proses kelahiran ketiga puteranya—Sadra, Majma dan Mahatma.
Di tengah keramaian, jalan ini sunyi. Tetapi tidak pernah dibiarkanNya pencariNya sunyi sendiri.


Tambahan: (kutipan buku dari sebuah diskusi)

kalo ngomongin poligami, aku paling suka penjelasannya Miranda Risang Ayu dalam Mencari Senyum Tuhan.”Dalam hubungan perkawinan dengan kepemimpinan laki-laki, menurut hemat saya ada empat sistem. Pertama, ada sistem monogami mutlak; kedua, monogami dengan perkecualian; ketiga, poligami dengan perkecualian; keempat, poligami mutlak…….” (hal.115)

Lalu dijelaskanlah arti dari masing-masing sistem tersebut. Setelah mba miranda menikah dan suaminya menikah lagi. akhirnya inilah yang beliau pilih.”….Saya ingin menjadi tua berdua saja, saling menertawakan sulitnya mengurus pasangan, biar hanya seorang, dan bersyukur.

Memetik tiga-empat bunga itu indah, tetapi menumbuhkan sekuntum bunga dan tumbuh bersamanya, tidakkah itu lebih unik dan indah?” (hal.116) Mau milih sistem yang mana, sepenuhnya menjadi keputusan si laki-laki dan perempuan. karena semuanya halal.