https://www.kompas.com/food/read/2021/11/21/110400775/warung-soto-lenthok-legendaris-di-yogyakarta-sejak-1987-eksis-sampai?page=all.
Penulis : Lea Lyliana

KOMPAS.com – Soto lenthok merupakan soto khas Yogyakarta yang disajikan dengan lenthok atau perkedel singkong.
Sajian ini cocok disantap untuk sarapan dalam segala suasana, baik ketika hujan atau sedang terik.
Penjual soto lenthok di Yogyakarta cukup banyak. Salah satu yang terkenal yaitu Soto Ayam Lumayan Kang Sarman. Warung soto ini tak pernah sepi pembeli, bahkan saat akhir pekan banyak pesepeda yang mampir menikmati sajiannya.
Kepada Kompas.com, Sarman, pemilik Soto Ayam Lumayan Kang Sarman membagikan kisahnya memulai usaha ini. Berikut penuturannya.

Buka sejak 1987
Saat ditemui Kompas.com di warungnya Sarman menjelaskan bahwa ia memulai usaha sotonya sejak tahun 1987.
“Saya itu aslinya Wonosari, terus pindah ke Jogja itu tahun 1985. Saya dulu aslinya bengkel elektronik, saya bengkel itu dari SMP terus saya jualan itu dari 1987,” ungkap Sarman kepada Kompas.com, Minggu (14/11/2021).
Sebelumnya Sarman bekerja sebagai tukang servis elektronik. Namun karena kerap capek, Sarman pindah haluan berjualan soto.
“Ya sebetulnya kalau bengkel elektronik itu capek banget, kadang makannya itu enggak teratur, karena banyak kesibukan, banyak pekerja. Saya terus haluannya pindah ke soto ini,” tambahnya.
Ketrampilan membuat soto lenthok sebetulnya sudah Sarman dapatkan sejak lama. Sebab, dulu Sarman juga sempat berjualan soto keliling.
Sarman mengklaim bahwa ia adalah orang pertama yang membuat soto lenthok di Yogyakarta. Kemudian, setelah itu mulai banyak yang mengikutinya.
“Itu soto lenthok itu yang paling pertama saya,” ujar Sarman.

Inspirasi membuat lenthok Sarman dapatkan karena tempat tinggal di Wonosari adalah daerah penghasil singkong. Lalu, Sarman pun coba mengkreasikannya dengan soto.
Tak disangka, perkedel singkong tersebut ternyata enak disantap dengan soto. Sejak saat itulah Sarman lalu menambahkan lenthok pada soto ayam buatannya.
“Sebelumnya dulu itu pakai tahu, pakai tempe, tapi setelah itu saya kok nyoba-nyoba” terang Sarman.
“Kalau perkedel kan sudah banyak, tapi terlalu mahal. Sekarang kentangnya itu mahal, kalau ketela kan sangat terjangkau,” tambahnya.
Seiring berjalannya waktu, Sarman juga membuat lenthok goreng yang mirip dengan bakso goreng. Lenthok tersebut juga disajikan sebagai pelengkap soto.
“Terus itu meskipun ketela kalau diolah bener-bener yo enak, sama ini, ini kan dari lenthok juga tapi digoreng. Mungkin belum ada, daerah sini belum ada, lenthok goreng jarang,” kata Sarman.

Bisa habiskan 25 ekor ayam
Selain berjualan di tempat sekarang, Sarman juga memiliki warung di Pasar Kotagede. Sayangnya karena pandemi warung soto tersebut tutup.
Menurut penuturan Sarman, warung di Kotagede juga merupakan warung soto pertamanya.
“Pertamanya di Pasar Kotagede, tapi sekarang kan selama pandemi itu di Pasar Kotagede itu kan digusur terus, sana sekarang-sekarang belum buka,” ungkap Sarman.
Dalam sehari, Sarman bisa menghasilkan sekitar 25 ekor ayam atau sekitar 50 kilogram. Menurut Sarman, saat pandemi jumlah tersebut sudah cukup banyak.
Sebab, sebelumnya Sarman bahkan bisa menghabiskan 70-80 ekor ayam untuk dua warung sotonya. “Kalau biasanya, patokannya ayam, kalau ayam itu biasanya sampai 25.
Kalau pandemi itu, sekarang segitu itu sudah banyak banget,” tuturnya.
“Iya ayamnya itu sekitar 25 ekor, berarti sekitar 50 kilogram. Kalau dulu saya tuh sampai 80 ekor, 70 ekor, sebelum pandemi ini, sekitar tahun 2019, 2018. Penurunannya lumayan itu, kan itu dikurangi satu warung yang di pasar itu,” tambah Sarman.

Pembeli di warung Soto Ayam Lumayan Kang Sarman cukup beragam, mulai dari mahasiswa hingga keluarga.
Sesekali Sarman juga menerima pesanan untuk acara hajatan pernikahan atau lembaga. Pemesanannya mulai dari 100 hingga 2000 porsi.
“Kalau hajatan di kampung itu saya bawa alat sendiri kalau jauh, kadang sampai ribuan mangkuk, 1000-2000 itu masak di sana,” kata Sarman.
“Itu sering juga pemerintahan. Kalau ada acara tv itu kan saya sering, dari UGM sering, UII sering. Kalau UGM itu sampai delapan tahunan langganan itu, asal ada acara jalan sehat itu mesti banyak,” tambahnya.

Cara menjaga kualitas
Walau sudah ada sejak lama, warung Soto Ayam Lumayan Kang Sarman tak pernah sepi pembeli. Barangkali karena kualitasnya yang terus dijaga sejak dulu.
Untuk mempertahankan kualitas rasanya, Sarman selalu menggunakan takaran bumbu yang sama. Pembuatan lenthok dan nasinya pun ia kerjakan sendiri.
“Tapi kalau saya, sejak dulu itu memang bumbu saya takar, ditimbang terus. Sejak dulu timbangannya seperti itu, ya segitu. Dan alhamdulillah, dari 85-87 itu sampai sekarang masih laku,” ungkap Sarman.
Meski warung sotonya selalu ramai, Sarman tak tinggi hati. Bahkan Sarman pun tak segan mendukung pegawainya yang ingin membuka warung soto sendiri.
Pemberian nama ‘Lumayan’ dalam merek sotonya pun karena Sarman menyadari bahwa di sekitarnya masih ada soto lain yang enak.
“Makanya soto saya itu saya namakan Soto Ayam Lumayan, karena lumayan itu di tengah-tengahnya, enak tidak, tidak enak juga tidak, memang saya ngambil di tengah-tengah,” terang Sarman.
“Bilang punya saya enak gitu enggak, enggak berani saya seperti itu, karena mungkin banyak orang itu banyak yang pinter, banyak yang enak, memang saya bikin itu di tengah-tengah sajalah, lumayan,” tambahnya.
Kedepannya Sarman berharap warung sotonya masih eksis hingga anak dan cucunya nanti. Dalam waktu dekat, Sarman juga ingin membuka satu warung lagi di rumahnya.
Jika ingin menikmati sajian sotonya, kamu bisa datang ke warung Soto Ayam Lumayan yang ada di Jalan Kemasan Nomor 17, Prenggan, Kecamatan Kotagede, Kota Yogyakarta.
Harga satu porsinya mulai Rp12.000. Untuk lauk pendamping, tersedia lenthok, tempe goreng, serta aneka sate. Menariknya, di sini juga disediakan daun kemangi yang bisa digunakan untuk pelengkap sotonya. Jadi, aromanya dan rasanya lebih khas.
