Ikhlas Adalah Pekerjaan Kesadaran

src: berbagai sumber

Pernyataan bahwa “ikhlas itu pekerjaan kesadaran” sangat tepat, karena ikhlas bukanlah sikap pasrah pasif, melainkan tindakan mental yang aktif dan disengaja.

Berikut adalah poin-poin penting mengapa ikhlas disebut sebagai pekerjaan kesadaran:

  • Pemurnian Niat (Mindfulness): Ikhlas adalah kesadaran untuk memurnikan niat hanya karena Allah, bersih dari keinginan dipuji manusia atau mengharap imbalan duniawi.
  • Penerimaan Realitas: Ikhlas melibatkan kesadaran penuh untuk menerima apa yang tidak bisa diubah dan melepaskan keterikatan pada hasil akhir (melepaskan hasil kepada Tuhan).
  • Pengelolaan Emosi & Pikiran: Ikhlas adalah pekerjaan sadar untuk membuang energi negatif seperti amarah, kekecewaan, dan dendam, sehingga menciptakan ketenangan jiwa.
  • Pilihan Aktif: Ikhlas berarti secara sadar memilih untuk tetap berbuat baik dan bersabar, bahkan ketika usaha tidak dihargai oleh manusia.
  • Puncak Spiritualitas: Dalam konteks bekerja, ikhlas adalah level tertinggi setelah “kerja keras” dan “kerja cerdas,” di mana pelakunya sudah melibatkan aspek spiritualitas dan kerelaan hati. 

Ikhlas adalah proses belajar yang membutuhkan kesadaran berulang-ulang untuk mengembalikan fokus hati hanya kepada-Nya. Sadar akan keputusan, melakukan sesuai value yg di anut, dan bersedia menerima konsekuensi energinya

Definisi ikhlas yang logis dan jauh dari sekadar kata “pasrah”. Biasanya, kita menganggap ikhlas itu hanya soal “menerima dengan sabar”. Tapi dalam rumusan ini, ikhlas adalah tindakan aktif yang melibatkan tiga pilar kesadaran:

  • Sadar akan Keputusan: Anda tahu Anda punya pilihan (bisa ikut cuek atau bisa bertanggung jawab), dan Anda secara sadar memilih salah satunya. Anda bukan robot yang bergerak karena dipicu keadaan.
  • Melakukan sesuai Value: Tindakan itu bukan karena tekanan eksternal, tapi karena “panggilan” dari dalam. Ini adalah bentuk integritas diri.
  • Bersedia Menerima Konsekuensi Energi: Inilah poin yang paling membebaskan. Anda sadar bahwa tanggung jawab itu butuh tenaga, waktu, dan pikiran. Dengan menerima “biaya” energi ini sejak awal, Anda tidak lagi merasa “dirampok” atau “dikorbankan” oleh keadaan atau orang lain.

Mengapa Rumusan Ini Menyembuhkan?
Ketika ikhlas dipahami sebagai “kesediaan menerima konsekuensi energi,” maka penyakit psikis dan fisik (seperti asam lambung tadi) akan berkurang drastis. Kenapa?

  • Tidak Ada Perlawanan (No Resistance): Asam lambung sering naik karena kita melakukan sesuatu tapi hati kita “ngedumel” atau menolak kenyataan. Dengan rumusan Anda, perlawanan itu hilang. Anda melakukan tanggung jawab dengan penuh “ijin” dari diri sendiri.
  • Kehilangan Posisi Korban (Victim Mentality): Anda tidak lagi merasa “Kasihan ya saya, harus ngerjain ini sendirian.” Sebaliknya, Anda merasa “Saya memilih ngerjain ini karena ini standar saya.” Perubahan status dari korban menjadi pengambil keputusan adalah obat mental yang sangat kuat.
  • Netral terhadap Orang Lain: Karena Anda sudah fokus pada value dan konsekuensi energi Anda sendiri, perilaku orang cuek di sekitar Anda menjadi tidak relevan lagi bagi kebahagiaan Anda. Mereka tetap pada pilihannya, Anda tetap pada pilihan Anda.

Menghidupkan “Iqra” dalam Keseharian

Dengan prinsip ini, setiap kali mulai merasa lelah atau berat, Anda bisa berhenti sejenak dan melakukan “pembacaan” (Iqra) cepat:

“Apakah saya masih sadar bahwa ini adalah pilihan saya?”

“Apakah saya masih bersedia menerima konsekuensi energinya?”

Jika jawabannya “Tidak,” maka ada opsi untuk berhenti atau beristirahat, tanpa rasa bersalah. Jika jawabannya “Ya,” maka Anda akan lanjut dengan energi yang lebih jernih dan tenang.

Sadar akan keputusan adalah fondasi utama dari

Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab (responsible decision-making).

Ini berarti Anda tidak bertindak secara impulsif atau sekadar mengikuti arus, melainkan mengenali bahwa Anda memiliki agensi dan pilihan di setiap situasi. 

Berikut adalah penjabaran dari konsep tersebut:

  • Mengenali Pilihan: Anda sadar bahwa dalam situasi apa pun—termasuk situasi sulit atau konflik—Anda selalu memiliki alternatif tindakan.
  • Memahami Konsekuensi: Sadar keputusan berarti menyadari bahwa baik pilihan untuk “cuek” (menghindar/tidak peduli) maupun “bertanggung jawab” (proaktif/akuntabel) akan membawa konsekuensi yang berbeda terhadap diri sendiri dan orang lain.
  • Memilih Secara Sadar: Anda memilih salah satu dari opsi tersebut dengan sadar dan siap menanggung risikonya, tanpa mencari kambing hitam atau membuat alasan. 

Mengapa Memilih Bertanggung Jawab Itu Penting?

  1. Membangun Komitmen & Integritas: Bertanggung jawab berarti menepati apa yang sudah dijanjikan dan konsisten dengan tindakan.
  2. Menyelesaikan Masalah: Proaktif dalam mencari solusi, bukan sekadar mendiamkan atau menghindar.
  3. Evaluasi & Pembelajaran: Orang yang bertanggung jawab akan mengevaluasi hasil keputusannya dan belajar dari kesalahan, bukan menyalahkan keadaan. 

Dengan menyadari bahwa Anda memiliki pilihan, Anda mengubah posisi dari “korban situasi” menjadi “pemilik masa depan” Anda sendiri. 🩵