
sumber: Pituluik
Dari Kernet dan Penjual Pisang Goreng Jadi Pemilik Ratusan Restoran: Mengenal Bustaman, Sosok di Balik Meledaknya Restoran Sederhana.
Siapa yang tidak kenal logo rumah gadang dengan tulisan “Sederhana SA”? Hampir di setiap sudut kota, kita bisa menemukan restoran ini. Namun, di balik kemegahan jaringan restoran Padang terbesar di Indonesia ini, ada sosok H. Bustaman, seorang putra Lintau yang memulai segalanya bukan dari modal besar, melainkan dari peluh dan kerja keras di jalanan.
Titik rendah hidupnya dilewati dengan menjalani profesi apa pun demi menyambung nyawa. Lahir di Lubuak Jantan, Tanah Datar pada tahun 1942, masa kecil Bustaman sangatlah prihatin. Ia memulai langkah perjuangannya dengan berjualan pisang goreng hingga menjadi kernet bus di kampung halaman.
Saat merantau ke Jakarta, nasibnya tidak langsung membaik; ia sempat menjadi pedagang asongan sebelum akhirnya memberanikan diri membuka warung makan kecil di pinggir jalan kawasan Bendungan Hilir pada tahun 1972.
Titik balik kesuksesannya terjadi ketika ia berinovasi menyesuaikan rasa masakan Padang dengan lidah nasional. Dari seorang pedagang kaki lima, ia bertransformasi menjadi pebisnis visioner yang menciptakan menu ikonik “Ayam Pop”. Keberaniannya mematenkan merek “Sederhana” pada tahun 1997 dan mulai mewaralabakannya adalah langkah besar yang mengubah warung kecil menjadi imperium kuliner.
Melalui PT Sederhana Citra Mandiri, kini lebih dari 100 cabangnya telah menembus pasar Malaysia dan hadir di hampir seluruh provinsi di Indonesia.
Kisah Haji Bustaman adalah bukti nyata bahwa nama “Sederhana” bukan sekadar merek, tapi adalah prinsip hidup. Meskipun telah sukses besar dan menjadi besan dari pengusaha ternama Andi Syamsuddin Arsyad (Haji Isam), ia tetap peduli pada pendidikan dengan mendirikan Akademi Komunitas Negeri di Tanah Datar.
Perjalanan hidupnya mengajarkan kita: tidak masalah seberapa rendah kita memulai, selama kita punya rasa “Sederhana” dalam hati dan kerja keras yang luar biasa, dunia bisa kita taklukkan.

Bustaman (lahir 11 September 1942) adalah seorang pengusaha asal Indonesia. Dia merupakan pendiri sekaligus pemilik jaringan Restoran Sederhana.
Kehidupan
Semasa kecil Bustaman hidup susah. Bermacam-macam pekerjaan telah ia jalani, dari menjual pisang goreng hingga sebagai kernet. Setelah cukup umur, ia pergi merantau ke Jakarta. Disini ia mengawali kariernya sebagai pedagang asongan, dan pada tahun 1972 membuka Warung Makan Padang di kawasan Bendungan Hilir, Jakarta.
Dalam mengelola restoran, Bustaman selalu menyesuaikannya dengan lidah orang kebanyakan. Sehingga ia mengurangi rasa pedas dalam masakannya. Ia juga memiliki hidangan khusus, yakni Ayam Pop yang telah dikenal luas. Pada tahun 1997, Bustaman mematenkan merek dagang “Sederhana” ke Direktorat Jenderal Hak atas Kekayaan Intelektual, dan mewaralabakan merek tersebut. Sejak itu usahanya terus berkembang. Bersama Fasli Djalal, Mufidah Jusuf Kalla, dan tokoh Lintau lainnya, ia mendirikan Akademi Komunitas Negeri Tanah Datar.
Dia sempat bersengkata dengan Djamilus Djamil, salah seorang kerabatnya yang juga menggunakan merek dagang “Sederhana” pada restoran yang dikelolanya. Namun akhirnya mereka berdamai, dan Djamilus diwajibkan untuk menambahkan merek dagangnya menjadi “Sederhana Bintaro”. Untuk melindungi merek Sederhana, pada tahun 2000 ia membentuk perusahaan berbadan hukum yang diberi nama PT. Sederhana Citra Mandiri. Saat ini lebih dari 100 restoran miliknya tersebar di berbagai kota di Indonesia dan Malaysia. Kini Restoran Sederhana telah membuka outletnya di setiap provinsi, kecuali Provinsi Papua.
RM. Sederhana adalah perusahaan waralaba Indonesia yang bergerak di bidang jasa boga atau makanan dengan ciri khas masakan Padang. Restoran ini masuk dalam 10 besar restoran dengan penjualan terlaris di Indonesia.
Sejarah
Restoran Sederhana berawal pada tahun 1972 dari sebuah rumah makan Padang kecil milik Bustaman di Pasar Bendungan Hilir, Jakarta. Dalam mengelola restorannya, Bustaman yang berasal dari Lintau, Sumatera Barat, selalu menyesuaikannya dengan lidah orang kebanyakan, sehingga ia mengurangi rasa pedas dalam masakan Padang buatannya. Ia juga memiliki hidangan khusus, yakni Ayam Pop yang telah dikenal luas.
Pada tahun 1997, Bustaman mematenkan merek dagang “Sederhana” ke Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual, dan mewaralabakan merek tersebut. Sejak itu usahanya terus berkembang. Bustaman sempat bersengkata dengan Djamilus Djamil, salah seorang kerabatnya yang juga menggunakan merek dagang “Sederhana” pada restoran yang dikelolanya. Namun akhirnya mereka berdamai, dan Djamilus diwajibkan untuk menambahkan merek dagangnya menjadi “Sederhana Bintaro”. Untuk melindungi merek Sederhana, pada tahun 2000 Bustaman membentuk perusahaan berbadan hukum yang diberi nama PT Sederhana Abadanmitra.
Saat ini, lebih dari 100 restoran Sederhana tersebar di berbagai kota di Indonesia dan Malaysia. Hingga saat ini, jaringan Restoran Sederhana adalah jaringan rumah makan Padang terbesar di Indonesia.
Reputasi
Berdasarkan penelitian Roy Morgan tahun 2018, Restoran Sederhana merupakan restoran yang paling banyak dikunjungi masyarakat Indonesia. Menurut hasil penelitian tersebut, sebanyak 28,4 juta orang pada rentang waktu April 2017 hingga Maret 2018 telah mengunjungi restoran tersebut. Jumlah itu di atas pengunjung restoran cepat saji lainnya, seperti Kentucky Fried Chicken dan McDonald’s.
Sederhana Bintaro
Restoran Padang Sederhana Bintaro merupakan pecahan dari Restoran Sederhana. Sederhana Bintaro didirikan oleh Djamilus Djamil pada tahun 2004. Sampai tahun 2007, usahanya telah berkembang menjadi 28 restoran dengan berbagai pola, seperti waralaba (franchise), kerja sama, dan yang dimiliki sendiri. Restoran Sederhana Bintaro tersebar di berbagai kota, seperti Jakarta, Bandung, Medan, Semarang, dan lainnya.
Setelah mendirikan Sederhana Bintaro, Djamilus Djamil kemudian bersengketa dengan Bustaman, pendiri jaringan Restoran Sederhana yang masih berkerabat dengannya, dalam hal pemakaian merek dagang “Sederhana”. Pengadilan Niaga Jakarta Pusat sesuai keputusan Mahkamah Agung tanggal 5 Oktober 2009 menetapkan H. Bustaman sebagai pemilik sah merek dagang dengan kata “Sederhana” pada bulan September 2014. Sepeninggal Djamilus Djamil, pengelolaan Sederhana Bintaro kemudian dilanjutkan oleh istrinya, Purnama Sari Djamilus.
