
sumber: jadesta.kemenpar.go.id
Nagari Guguak Tabek Sarojo merupakan salah satu dari Nagari yang ada di Kabupaten Agam, yang telah lebih 14 Tahun menyelenggarakan Pemerintahan Nagari semenjak Peraturan Daerah Kabupaten Agam Nomor 31 Tahun 2001 diberlakukan.
Tabek Sarojo dan Guguak IV Suku, dahulunya adalah dua buah Nagari sesuai yang tersebut dalam Tambo yaitu : Guguak, Tabek Sarojo, Sianok dan Koto Gadang. Semenjak Pemerintahan Kolonial Belanda, dua Nagari tersebut disatukan dinamakan Nagari Guguak Tabek Sarojo, sampai sekarang tidak dapat dipisah-pisahkan lagi.
Sebelah Utara adalah Tabek Sarojo, dan sebelah Selatan adalah VI Suku yaitu Tabek Sarojo juga. Guguak IV Suku terletak ditengah-tengah, yaitu sebelah Selatan dinamakan Pamandian Kudo Balang, dan sebelah Utara dinamakan Galanggang Sipatuang. Nan IV Suku adalah Guguak Randah dan Guguak Tinggi.
Mengenai VI Suku menurut keterangan nan tuo-tuo terdahulu (keterangan Pangulu nan tertua yaitu Manan Dt Marajo, Undik Dt Marajo, Inyiak Mudo dan Inyiak H.M.Ali) setelah warga bermukim di Tabek sarojo yang sekarang ini, kemudian berusaha lagi mencari tanah permukiman. Pada waktu itu sepakatlah Urang Tuo Nan baranam berangkat ke Selatan menuju kaki Gunung Singgalang dan terdapatlah permukiman didaerah VI Suku sekarang ini, kemudian tidak beberapa lama urang Tuo Nan baranam, lima diantaranya kembali ke Tabek Sarojo dengan meninggalkan seorang Pangulu (Urang Nan Baranam yaitu Dt Marajo) untuk menghuni daerah VI Suku dengan membawa seluruh keluarganya ke VI Suku.
Maka dinamakan VI Suku, urang Tuonya Enam, suku waktu itu juga Enam, di Tabek Sarojo juga sama. Seorang urang Tuo nan baranam yang tinggal di VI Suku tersebut di atas sukunya adalah Pisang, dan semua suku Pisang bersatu dengannya, sebab itu di VI Suku, sama -sama suku pisang tidak boleh kawin mengawini.
Kemudian dari itu terjadi penambahan Pangulu di VI Suku sebagaimana yang berada pada saat ini: PANGULU DI TABEK SAROJO & VI SUKU. PANGULU NAN BARANAM (URANG TUO NAN BARANAM)
- Datuak Marajo Suku Pisang di VI Suku
- Datuak Panduko sinaro Suku Salayan di Tabek Sarojo
- Datuak Rajo Api Suku Caniago di Tabek Sarojo
- Datuak Galagah/Tumangguang Suku Suku Koto di Tabek Sarojo
- Datuak Rangkayo Basa Suku Payobada di Tabek Sarojo
- Datuak Palindih/Rajo Agam Suku Sikumbang di Tabek Sarojo
URANG BASA / PANGULU
- Datuak Nan Labiah Suku Salayan di Tabek Sarojo
- Datuak Indo Marajo Suku Salayan di Tabek Sarojo
- Datuak Maka Suku Pisang di Tabek Sarojo
- Datuak Maka Suku Pisang di Anam Suku
- Datuak Nan Labiah Suku Pisang di Anam Suku
- Datuak Maninjun Suku Pisang di Anam Suku
- Datuak Tan Malano Suku Pili di Anam Suku
- Datuak Bungsu Suku Sikumbang di Anam Suku
- Datuak Maruhun Suku Salayan di Anam Suku
Yang datang dari Kalampaian dan Tabek Cu ke Guguak IV Suku ini adalah empat macam suku yaitu : Suku Guci, Suku Sikumbang, Suku Caniago dan Suku Pisang. Keempat suku tersebut mengambil Lokasi tempat tinggal pada dua tempat yaitu di Guguak Randah, dan Guguak Tinggi sekarang .
Di Guguak Randah:
- Suku Guci Dt Marajo
- Suku Sikumbang Dt Panduko Basa
- Suku Pisang Dt Nan Garang
- Suku Caniago Dt Nan Gadang
Di Guguak Tinggi:
- Suku Guci Dt Rangkayo Mulia
- Suku Sikumbang Dt Tantejo Maharajo
- Suku Pisang Dt Rajo IV Suku
- Suku Caniago Dt Cindo Mangkuto
Sebagai kesimpulan Nagari Guguak IV Suku, urang Tuo/Pangulunya delapan orang karena telah berbagi tempat tinggal\permukiman. Kesemuanya itu adalah serombongan /Kaum yang datang dari Pariangan Padang Panjang melalui Kalampian dan Tabek Cu,dan suku yang tersebut diatas itulah yang pertama bermukim di Guguak IV Suku ( Guguak Randah dan Guguak Tinggi ).
Walaupun kesemuanya datang melalui Kalampaian dan Tabek Cu, dan sehubungan dengan suku tersebut yang pertama menempati Nagari Guguak, suku tersebut disebut juga Guguak. Rombongan Guguak lainnya setelah bermukim di Kalampaian dan Tabek Cu, ada juga yang mencari tempat didaerah Banuhampu yang sekarang, seperti Cingkariang, Sariak, dan banyak pula diantara mereka yang pindah ke Guguak mencari Kaumnya, dan ada pula yang tidak mau pindah selalu bertahan disana menyatu dengan pendatang baru.
Di masa orang tua kita dahulu hubungan keluarga atau Kaum dengan yang tinggal didaerah Banuhampu dan Kurai sekarang selalu ada, yaitu dengan jalang manjalang, akan tetapi pada waktu ini tidak ada lagi berhubungan seakan-akan sudah putus. Kemungkinan penyebabnya adalah nan Tuo-tuo tidak ada menurunkan sejarah pertalian keluarga tersebut kepada anak-anaknya tentang simpang balahan kedaerah lain.
Berikutnya yang menyusul dari Kalampaian dan Tabek Cu untuk bermukim di Guguak IV Suku adalah terdiri dari Suku yang tersebut dibawah ini:
- Suku Koto dipimpin oleh Datuak Marajo
- Suku Koto dipimpin oleh Datuak Maka
- Suku Sikumbang dipimpin oleh Datuak SuluBalang
- Suku Sikumbang dipimpin oleh Datuak Basa
- Suku Caniago dipimpin oleh Datuak Perpatiah
- Suku Pili dipimpin oleh Datuak Sinaro
- Suku Pisang dipimpin oleh Datuak Sati
- Suku Pisang dipimpin oleh Datuak Rajo Api
- Suku Melayu dipimpin oleh Datuak Tan Bagindo
- Suku Guci dipimpin oleh Datuak Rajo Endah
- Suku Tanjuang dipimpin oleh Datuak Manindiah
- Suku Tanjuang dipimpin oleh Datuak Gunuang Rajo Pangulu
Pangulu yang disebut diatas dinamakan Urang Nan Duo Baleh atau Urang Tigo Jurai :
- Jurai Kalampaian : 1. Suku Pili Dt Sinaro 2. Suku Sikumbang Dt Sulu Balang 3. Suku Tanjuang Gunuang Rajo 4. Suku Koto Dt Marajo
- Jurai Kalampaian : 1. Suku Pisang Dt Rajo Api 2. Suku Tanjuang Dt Manindiah 3. Suku Koto Dt Maka 4. SukuMalayu Dt Tan Bagindo
- Jurai Kalampaian : 1. Suku Pisang Dt Sati 2. Suku Guci Dt Rajo Endah 3. Suku Sikumbang Dt Basa 4. Suku Caniago Dt Perpatiah
Dikanagarian Guguak Tabek Sarojo terdapat tiga tempat bersejarah yang populer waktu itu (di masa dahulu kala):
- Balai Janggo: Terletak di Koto Marapak Guguak Randah, yang terkenal dengan Empat buah batu besar ukuran tinggi sebagai sandaran tempat duduk Urang Tuo Nan Barampek diwaktu sidang.
- Lapangan Maru: Terletak di Guguak Tinggi, yang terkenal waktu itu sebagai lapangan permainan anak Nagari sesuai menurut Adat.
- Pacaturan: Terletak di Anam Suku, yang terkenal pula dengan sebuah batu besar dan lebar tempat Pangulu bermusyawarah.
Dahulunya di Guguak ada sebuah balai adat yang bentuknya menurut Katumanggungan (Bajanjang Naiak Batanggo Turun), dan di Tabek Sarojo juga ada sebuah balai adat bentuknya Parapatiah datar saja (Duduak Sahamparan Tagak Sapamatang, Bulek Aia Kapambuluah, Bulek Kato Kamufakat). Setelah Nagari ini digabung menjadi satu, dengan kesepakatan pangulu, imam dan khatib, adat di duo buah Nagari ini dijadikan satu balai adat yang terletak di Rambuti dengan bentuknya datar saja (duduak samo randah, tagak samo tinggi, putuih kato kamufakat, putuih gayuang kababaleh).

Guguak Tabek Sarojo adalah nagari di IV Koto, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Nagari ini merupakan gabungan dari 2 buah jorong, yaitu Jorong Guguak Randah dan Jorong Guguak Tinggi. Nagari ini terkenal sebagai tempat perajin emas. Di Jorong Guguak Randah terdapat sebuah Pondok Pesantren yang dibangun tahun 2003 yaitu Pondok Pesantren Haji Abdul Karim Syua’ib. Di nagari ini terdapat aliran Sungai Batang Agam yang memisahkan kedua jorong sehingga pemerintah membangun sebuah jembatan gantung untuk menghubungkan dua jorong yang terpisah tersebut. Jembatan gantung ini banyak dikunjungi oleh pengunjung lokal.
Geografis
Guguak Tabek Sarojo berada pada ketinggian 920 m dari permukaan laut dengan suhu rata-rata berkisar antara 27 °C dan pada malam hari mencapai 22 °C. Nagari Guguak Tabek Sarojo memiliki luas wilayah 250 Ha dengan batas-batas sebagai berikut:
- Sebelah Utara dengan Kota Bukittinggi
- Sebelah Selatan dengan Nagari Koto Tuo dan Kecamatan Banuhampu
- Sebelah Timur dengan Kecamatan Banuhampu
- Sebelah Barat dengan Nagari Koto Gadang dan Nagari Koto Tuo
Pemerintahan
Sistem pemerintahan di Nagari Guguak Tabek Sarojo sejak disahkannya Perda Provinsi Sumatera Barat No. 9 tahun 2000 dan ditindak lanjuti dengan Perda Kabupaten Agam No. 31 tahun 2001 adalah pemerintahan nagari. Dengan kepala pemerintahan yang bernama Wali Nagari.
Secara administrasi Nagari Guguak Tabek Sarojo terdiri dari dua jorong:
- Jorong Guguak Tinggi
- Jorong Guguak Randah
Kependudukan
Jumlah penduduk Nagari Guguak Tabek Sarojo 4.154 jiwa dengan rincian 1.986 laki-laki dan 2.101 perempuan. Anak nagari yang berada di perantauan diperkirakan mencapai 6.000 jiwa. Mata pencaharian yang utama adalah perajin emas, pedagang emas, jahit & bordir.
Tokoh terkenal
- Irman Gusman, ketua DPD-RI
- Tifatul Sembiring, Menteri Komunikasi dan Informatika
- Sofyan Ponda, pengusaha hotel
- Marshanda, pemain film dan sinetron

Pesona Jembatan 5,5 Miliar di Atas Crazy Rich Village Sumatra Barat.
sumber: topsumbar.co.id
Guguak Tabek Sarojo, tempat berdirinya jembatan terpanjang di Sumatera Barat, merupakan sebuah kampung yang kaya akan keindahan alam.
Luas wilayahnya mencapai sekitar 250 hektar dan terletak pada ketinggian 930 meter di atas permukaan laut.Suhu udara yang sejuk berkisar antara 22 hingga 27 derajat Celsius.
Dua jorong yang ada di kampung ini, Guguak Randah dan Guguak Tinggi, dipisahkan oleh Sungai Agam.Jembatan gantung dibangun untuk menghubungkan keduanya, dan hasilnya sangat memudahkan mobilitas masyarakat sehari-hari.
Selain kekayaan alamnya, Guguak Tabek Sarojo juga dikenal sebagai “crazy rich” Sumatera Barat.Mayoritas penduduknya berprofesi sebagai pengrajin dan pedagang emas.Masyarakat kampung ini terkenal pandai dalam mengelola keuangan, yang menjadikan mereka maju dalam bidang emas, perak, dan kuliner.Kesuksesan Guguak Tabek Sarojo juga terlihat dari kualitas sumber daya manusianya.
Tak heran jika kampung ini telah melahirkan tokoh-tokoh nasional seperti Ketua DPD RI Irman Gusman dan Menkominfo Tifatul Sembiring.Dengan keajaiban jembatan Guguak Tabek Sarojo dan pesona alam Guguak Tabek Sarojo, Sumatera Barat terus memukau para pengunjungnya.
Kesuksesan dan keindahan kampung ini menjadi bukti nyata potensi luar biasa yang dimiliki Indonesia dalam hal pariwisata dan pembangunan lokal.
Jembatan “Hati” Guguak Tabek Sarojo yang memiliki peran penting untuk nagari yang mana sebagai jembatan penghubung antar dua jorong yaitu Jorong Guguak Randah dan Guguak Tinggi yang selama ini terpisah karena ngarai yang terbentang antar kedua jorong.
Posisi Jembatan ini berada pada ketinggian 150 meter dengan panjang 125 meter, jembatan yang melintasi ngarai Sianyia ini merupakan anggaran dari pemerintah pusat APBN dengan nilai kontrak 6.5 Milyar dengan kurun waktu pengerjaan selama 8 Bulan yang dimulai dari bulan April 2016, Jembatan ini sebenarnya diperuntukkan untuk mobil namun karena adanya kesepakatan antar dua jorong maka jembatan tersebut hanya boleh dilalui oleh kendaraan roda dua alias sepeda motor saja.
Posisi jembatan gantung ini sangat strategis yang memiliki pesona tersendiri, dengan tampilan jembatan yang membentang panjang antara Jorong Guguak Randah dengan Guguak Tinggi membuat para wisatawan turut serta untuk menikmati keindahan jembatan gantung ini terutama dengan adanya pemandangan dengan panorama yang masih asli dan asri.
Jembatan yang memiliki fungsi utama sebagai pemersatu bagi dua Jorong ini berubah drastis menjadi tempat wisata yang saat ini dikunjungi oleh banyak wisatawan dari berbagai kota, yang awalnya nformasi jembatan ini dari mulut ke mulut bahkan juga tersebar di berbagai Media Sosial hingga kabar jembatan yang baru saja selesai dilaksanakan 2 minggu lalu dikunjungi banyak orang.
Keindahan jembatan ditambah dengan pemandangan alam yang masih asli dan posisi yang berada diatas ngarai yang cukup dalam membuat adrenalin pengunjung terpacu khususnya yang tidak biasa dengan diketinggian.
Cukup gampang menuju jembatan gantung ini, jika anda dari Bukittinggi hanya berjarak sekitar enam kilometer saja. Disarankan lewat dari Simpang Bangkaweh, setelah sampai disana, belok kanan hingga Parabek. Dari sana, selanjutnya belok kanan hingga memasuki Guguak Tinggi. Namun jika anda dari agam barat bisa melalui Jorong Guguak Randah atau lewat Koto gadang
Bagi para pengunjung yang ingin mengunjungi kami sangat merekomendasikan Keindahan jembatan ini ditambah dengan pemandangan alam yang masih asli dan posisi yang berada diatas ngarai yang cukup dalam membuat adrenalin pengunjung terpacu khususnya yang tidak biasa dengan di ketinggian.
