Kambing Murah Tahun 2026

Sebagai pelaku kecil-kecilan di dunia perkambingan 🐐 saya lumayan takjub mendapati berita di pulau jawa ada yang membeli kambing 1 juta dapat 3 ekor. Padahal dahulu, peternakan domba sempat ada di masa keemasannya. Sekarang banyak peternak kambing yang sudah lama jadi blantik, terpaksa banting setir. Dari menjual domba hidup, sekarang harus menjual domba sembelih.

Dari akun thread @omahsebumi dirangkum bahwa ada 4 momentum utama penopang penjualan domba/kambing yang sudah lemah dan mungkin tidak akan kembali menguat dalam jangka panjang.

  1. Kuliner olahan domba/kambing. Ini sangat erat dengan selera pasar. Faktanya, selera itu berubah. Generasi milenial bisa jadi adalah generasi terakhir yang masih akrab dengan sate, gulai, atau tengkleng. Lihatlah Gen Z ke bawah, pilihan mereka berbeda: saikoro, daging slice, sushi, dessert, kopi kekinian. Ini bukan sekadar tren sementara. Ini perubahan pola konsumsi. Dalam jangka panjang, peminat kuliner domba tidak akan sebesar dulu.
  2. Acara pernikahan. Hari ini, resepsi pernikahan bukan lagi “keharusan” bagi semua orang. Dan kalaupun menikah, konsepnya berubah. Lebih simpel, lebih personal, lebih efisien. Coba perhatikan, masih sering lihat menu tengkleng di pernikahan anak muda sekarang? Pilihan menu kembali lagi ke poin pertama: selera konsumsi berubah.
  3. Aqiqah. Kita juga sedang menghadapi penurunan angka kelahiran.Tekanan ekonomi membuat banyak orang menunda, bahkan menghindari pernikahan. Fenomena child-free mulai diterima.Kalaupun punya anak, satu anak sering dianggap cukup. Konsep “banyak anak banyak rejeki” tidak lagi relevan bagi sebagian besar generasi hari ini. Artinya? Pasar aqiqah juga ikut tertekan.
  4. Idul Qurban. Kurban adalah ibadah yang sangat bergantung pada kemampuan ekonomi. Saat ekonomi menekan, jumlah orang berkurban cenderung turun. Idul qurban tahun 2026 akan mengalami tekanan besar, imbas kenaikan harga bbm. Ditambah lagi ada pergeseran preferensi.  Biaya patungan sapi sekarang seringkali tidak jauh berbeda dengan membeli kambing/domba sendiri, tapi hasil dagingnya lebih banyak. Baik dari sisi pekurban maupun penerima, sapi sering dianggap lebih “menguntungkan”.

Membaca dari realita yang sedang terjadi, peternak harus beradaptasi sebelum dipaksa keadaan. Beruntung kami di Sumatera Barat tidak merasakan harga anjlok tersebut secara tiba-tiba. Terakhir transaksi jual beli kambing menjelang Idul Adha ini, harga kambing masih normal. Normal dan harus diakui cenderung melemah, berkurangnya semangat para peternak kambing karena fenomena ini memang nyata terjadi.

Sekarang kambing kami tersisa 4 ekor saja. Sekedar hiburan untuk sehari-hari. Jika ada rezeki mudah-mudahan bisa beralih dan fokus pelihara sapi. Tantangan yang lebih berat pastinya.

Leave a comment