
Reda Gaudiamo, Bukan Hujan Sudah Reda
oleh: Dea https://www.salamatahari.com (Februari 20, 2014)
Teman-teman yang akrab dengan Sastra Indonesia, tentu tidak asing dengan musikalisasi puisi “Aku Ingin” dan “Hujan Bulan Juni” – Sapardi Djoko Damono. Versi yang paling populer dibawakan oleh duet Reda Gaudiamo dan Ari Malibu.
Karena http://www.salamatahari.com edisi 152 mengangkat tema “Reda”, zine-zine-an ini menanggap Mbak Reda Gaudiamo sebagai penyalamatahari. “Oya, penyebutan nama saya bukan seperti ‘hujan sudah reda’, tetapi seperti ‘dia memang beda’. Huruf ‘e’ nya tidak sama,” jelas Mbak Reda di tengah-tengah wawancara.
Lalu apa arti nama “Reda” dan apakah hujan bulan Juni sudah reda?
Halo, Mbak Reda, cerita, dong tentang kegiatan Mbak sehari-hari …
Kegiatan saya…
Senin sampai Jumat saya bekerja di perusahaan Minyak dan Gas asal Prancis, TOTAL E&P INDONESIE (E&P = EXPLORATION & PRODUCTION), di Jakarta (wilayah operasional kami di Delta Mahakam, Kalimantan Timur). Saya baru dua tahun bekerja di perusahaan ini. Saya bekerja sebagai Corporate Communication Manager, menangani internal & external communications dan media relations.
Sebelumnya saya menjadi Publisher/Pemimpin Umum dari 7 majalah perempuan dari Kelompok Kompas Gramedia: InStyle, Martha Stewart Living, More, Kawanku, Chic, Sekar, Prevention.
Widiiih … banyak … katanya Mbak Reda juga udah nerbitin beberapa buku kan, ya? Boleh tau nggak judulnya apa aja?
Bisik-bisik (2004), Pengantin Baru (2010), Na Willa, Serial Catatan Kemarin (2012), dan di luar tiga buku di atas, cerpen saya juga dimuat di kumpulan cerpen Gallery of Kisses dan China Moon, terbitan EKI Press.
Dari antara semua buku itu, mana yang paling Mbak Reda suka?
Wah, susah tuh jawabnya. Karena semua punya keistimewaan masing-masing. Mulai dari proses awal sampai akhir, ketiganya amat mengesankan buat saya.
Ngomong-ngomong, Reda Gaudiamo itu nama asli atau nama pena?
Itu nama asli banget. Nama pena saya: Muti dan Kemala, yang saya pakai ketika menulis cerpen jaman kuliah dan sebelum kawin dulu.
Hooo … justru nama asli, ya. Artinya apa, Mbak?
Nama itu sebetulnya nama Ibu saya, yang berasal dari Pulau Sabu, di Nusa Tenggara Timur. Nama itu, adalah nama yang turun-temurun diberikan kepada cucu perempuan nomor satu. Harusnya, saya tidak boleh memakai nama itu karena ibu saya juga bernama sama. Kalau pun nama itu harus muncul, anak saya baru bisa. Tetapi ayah saya sangat suka pada nama itu. Maka jadilah saya bernama Reda.
Hahahaha … gitu, toh, ceritanya. Kirain artinya sama dengan reda untuk “hujan sudah reda” …
Ada masanya saya ‘sebel’ kalau ada orang menyebut nama saya dengan ‘reda’ seperti di hujan sudah reda itu. Karena itu bukan nama saya. Kalau mau disama-samain, yang sama cuma cara penulisannya saja 😀 Penyebutannya beda dan artinya pun beda.
Baiklah. Kalau gitu, buat Mbak Reda, “reda” itu maknanya apa?
Buat saya, reda itu adalah keteduhan yang datang setelah sebuah keriuhan. Apa pun bentuk riuhnya, mulai dari angin, suara, musik, badai … apa saja. Kadang-kadang situasi keteduhan itu baik. Tapi kadang juga tidak. Untuk kegiatan kreatif, misalnya…. suasana reda menjadi kurang seru. Buat saya, kegiatan kreatif justru harus menggebu, riuh, seru sampai kapan pun juga.
Kapan masa riuh dan reda yang Mbak Reda paling inget di idup Mbak Reda?
Hmmmm… masa ‘reda’ buat saya terjadi tidak akhir-akhir ini, tetapi sekitar 12-15 tahun lalu. Sebelum itu, jujur nih, saya adalah orang yang amat sangat sulit mengendalikan rasa amarah. Amat sangat tidak sabar. Kalau kata emak saya sih, saya ini sumbu pendek. Segala sesuatu bisa membuat saya naik darah dengan mudahnya. Dan kalau sudah marah, aduh….. nggak lucu banget deh. Beberapa teman bahkan masih ingat kelakuan saya jaman itu.
Sampai pada suatu hari, saya berpindah kerja, menangani majalah franchise pertama di Indonesia, Cosmopolitan Indonesia, sebagai chief editornya. Nah, saat menangani majalah itulah saya belajar ‘meredakan’ sikap amarah, gampang naik darah dan memperpanjang sumbu emosi….. biar nggak gampang nyala dan mledug, hihihihihi….
Hihihi … terus siapa yang paling berperan di proses peredaan ini?
Suami saya. Dia melihat tulisan-tulisan yang saya buat dan edit di majalah itu. Saya juga mulai membaca banyak buku tentang pengembangan diri –untuk keperluan membuat artikel di Cosmo—lalu dia bilang…. menulis itu gampang. Tetapi hidup sesuai dengan apa yang ditulis dan disampaikan ke pembaca, itu baru betul.
Waduh … gimana rasanya dibilangin kayak gitu, Mbak?
Waks, saya berasa seperti ditabok, tuh Dea. Saya marah karena merasa dituduh berkata bohong kepada pembaca. Saya sebel karena….. SAYA TAHU SUAMI SAYA ITU BERKATA BENAR. Bohong banget kalau saya menyuruh pembaca untuk sabar, hidup penuh cinta, berpikiran positif, kalau saya tidak melakukan dan mempraktekkannya sendiri lebih dahulu.
Saya perlu waktu untuk ‘menyurutkan’ emosi yang sangat huru-hara di dalam. Dan proses ‘mereda’ itu sendiri sampai sekarang –menurut saya- belum mencapai titik ‘teduh’ atau tenang. Masih ada waktu-waktu yang membangkitkan angin ribut emosi jiwa, yang kalau keluar bikin orang sekantor kaget, anak buah gemetar, hahahahahaha… Tapi udah nggak sesering dulu. Nggak percaya? Boleh tanya suami (#ngarep-diomongin-yang-oke-sama-suami).
Hahahaha … bener, ya, nanti ditanya.
Kita bisa berpanjang lebar nih membahas proses ‘reda’ saya, Dea. Tapi mendingan dihentikan dulu di sini ya. Nanti jadi artikel psikologi pun.
Baiklah. Kalo gitu kita ngebahas reda yang lain, deh. Hujan Bulan Juni udah reda belum, Mbak?
Ini pertanyaan yang sulit. Karena pemahaman saya akan puisi ini tidak mengandung unsur ‘reda’. Sebaliknya, buat saya (sekali lagi, ini buat saya, lho), justru puisi “Hujan Bulan Juni” ini menggambarkan suasana hati dan cinta yang begitu hebat, sehingga ketika matahari sedang panas-panasnya bersinar, dia memaksa diri untuk turun, membuat jejak di tanah yang kering dan diserap dengan begitu kuat oleh akar pohon.
Jadi, tidak reda sama sekali.
Wow. Gimana ceritanya Mbak Reda bisa ngebawain musikalisasi puisi “Hujan Bulan Juni”-nya Sapardi Djoko Damono?
Saya pertama kali ‘terbawa’ dalam kegiatan musikalisasi puisi tahun 1987. Ketika itu teman-teman saya diminta oleh pak Sapardi Djoko Damono untuk membuat lagu dari puisi karya sastrawan Indonesia.
Lagu sudah selesai, musti ada yang nyanyi. Maka diajaklah saya yang waktu itu kedoyanan nyanyi (nggak dapat honor, nggak soal. Yang penting NYANYI, hihihihi).
Waktu itu terkumpul 5 lagu: “Cintaku jauh di pulau” (Chairil Anwar), “Sebuah Elegi” (Toto Sudarto Bachtiar), “Gadis Peminta-minta” (Toto Sudarto Bachtiar), “Padamu Jua” (Amir Hamzah) dan “Di Beranda Ini Angin Tak Kedengaran Lagi” (Gunawan Mohammad).
Hasil rekamannya – dalam bentuk kaset bertajuk Pekan Sastra dan Bahasa — disebarluaskan ke SMA di seluruh Indonesia.
Lho? Nggak ada musikalisasi “Hujan Bulan Juni” dan “Aku Ingin”?
Tahun berikutnya dibuat lagi, dengan jumlah puisi sampai 20 dan yang nyanyi sudah lebih banyak. Setelah itu Pak Sapardi dapat sponsor dari Ford Foundation untuk membuat album musikalisasi puisi. Beberapa lagu dari 20 puisi itu pun direkam ulang –hanya yang dibuat oleh Pak Sapardi. “Aku Ingin” dan “Hujan Bulan Juni” termasuk dalam album yang berjudul “Hujan Bulan Juni” 1989.
Nah, sejak saat itu, saya dan partner duet saya, Ari Malibu, jadi rajin menyanyikan lagu-lagu puisi Pak Sapardi. Orang banyak mengenal lagu “Hujan Bulan Juni” yang sangat melodius itu dan “Aku Ingin” yang sekarang jadi sering dipakai sebagai lagu pengiring pengantin menuju altar atau pelaminan.
Ooo … begitu. Berarti mulai duet sama Mas Ari Malibu sejak bikin musikalisasi puisi bersama itu, ya?
Saya dan Ari sudah menyanyi bersama jauh sebelum musikalisasi puisi. Awalnya kami sering menyanyikan lagu-lagu Simon & Garfunkel. Tapi sejak ada musikalisasi puisi, kami jadi jarang nyanyi lagu-lagu ballad duo Amerika itu.
Cerita selengkapnya soal Ari Reda dan musikalisasi puisi bisa dicek di sini: http://arireda.blogspot.com.
Ok. Noted. Sekarang, Mbak, boleh nggak minta dibikinin puisi satu bait yang temanya “reda”?
Puisi, ya? Duh, aku tuh paling takut disuruh nulis puisi…. Kayaknya nggak bisa deh. Tapi dicoba deh, biar Dea senang.
Asik!
Semoga suka….
karena siang bermatahari dan teriknya membakar
dan membangkitkan nyala jiwa,
maka kupilih bulan untuk meredakan rasa dan segala cemas.
Siang sudah berlalu. Cahaya matahari memudar dan aktivitas di luar sana mulai reda. Tetapi energi Mbak Reda Gaudiamo tidak surut. Mungkin dia adalah hujan bulan Juni yang selalu mencari cara untuk memberi dan tak dapat dikalahkan oleh apa pun …
Berteman Tanpa Batas
oleh Reda Gaudiamo (6 Desember 2020)
Masa kecil itu masa menyenangkan.
Saya ingat betul asiknya bermain bersama teman-teman di sekitar rumah. Kami bermain karena senang bisa bersama-sama. Tidak penting ini anaknya siapa, orang apa, agamanya apa. Tidak penting. Jadi saya sangat heran dan kesal ketika kami baru saja pindah rumah, anak saya yang masih kecil pulang dengan pertanyaan, “Agama saya apa?”. Buat saya ini mengherankan, bagaimana anak-anak sekecil itu bisa menayakan agama sahabat barunya.
Saya ingat betul asiknya bermain bersama teman-teman di sekitar rumah. Kami bermain karena senang bisa bersama-sama. Tidak penting ini anaknya siapa, orang apa, agamanya apa. Tidak penting.
Keluarga kami memang cukup santai dalam membicarakan agama. Barangkali karena saya dan suami berbeda keyakinan, saya Kristen dan suami Islam. Anak bisa melihat bahwa di rumah ada perbedaan. Di Minggu pagi saya pergi ke gereja (kadang ayahnya mengantar sesekali). Dan ia juga tahu bahwa pada bulan tertentu ayahnya berpuasa, dan saya (sesekali juga) menemaninya saat sahur. Saya selalu bilang padanya, “Ngobrol sama Tuhan caranya bisa berbeda. Mak begini, Bapak begitu. Sekarang ini agama kamu Kristen karena kami menikah di gereja dan ada janji dengan pendeta. Tapi kalau di tengah jalan kamu menemukan sesuatu yang baru, kamu cocok dengan itu silakan. Agama itu sifatnya pribadi, dan kalau kamu beragama beda dengan yang lain bukan berarti tidak bisa berteman dengan yang berbeda.”
Pertanyaan anak saya ternyata mengganggu pikiran saya saat itu. Rasanya pertanyaan tentang agama itu menyiratkan bahwa perbedaan agama menentukan mereka bisa berteman atau tidak. Sewaktu saya kecil, tidak pernah ada pertanyaan begitu. Saya setiap hari minggu pergi ke gereja. Saya tahu teman-teman saya berpuasa, shalat lima waktu. Tapi kami tidak pernah mempertanyakan apalagi bermasalah dengan itu.
Seiring berjalannya waktu, saya melihat banyak perubahan perilaku masyarakat. Terutama dalam aspek agama. Saya mengamati kehadiran segelintir orang tua yang tiba-tiba berusaha moralis, namun sebenarnya tidak sungguh-sungguh memperhatikan anak dalam kesehariannya. Saya khawatir ketika anak-anak belum memahami konsep agama lalu dicekoki dengan fanatisme agama.
Seiring berjalannya waktu, saya melihat banyak perubahan perilaku masyarakat. Terutama dalam aspek agama.
Saya memang bukan sosiolog atau antropolog yang bisa menjelaskan alasan mengapa bisa hadir perubahan perilaku masyarakat kita. Tapi asumsi saya adalah adanya pergeseran pemahaman tentang iman dan agama yang menimbulkan fanatisme. Saya merasa banyak orang secara tidak sadar meyakini bahwa menjadi homogen adalah sesuatu yang eksklusif dan memberikan rasa aman. Berkelompok menjadi sangat menyenangkan. Ini sedikit ironis, menurut saya. Ketika dulu kita pernah berada dalam masa pemerintahan yang menekan di mana tidak banyak aliran agama yang tidak diperbolehkan, kebersamaan justru sangat terasa. Tapi kemudian di kala aturan melunak, kita diberikan kesempatan untuk memilih, diberi keleluasaan dan kebebasan, kita justru membuat mengkotak-kotakan diri.
Rasa terganggu pada pertanyaan tentang agama yang datang dari anak saya akibat perilaku sahabatnya begitu kuat. Menggelisahkan. Dan begitu hebatnya hingga akhirnya saya merasa harus berbuat sesuatu, menyampaikan hal-hal yang saya pikir perlu diutarakan kepada para ibu dan bapak yang sebaya dengan saya saat itu.
Saya putar otak untuk menyampaikannya. Karena saya bukan psikolog anak, bukan sosiolog juga, maka akan sangat tidak pas bila saya menulis dari sudut pandang saya saat itu. Menulis sebagai catatan masa lalu berdasarkan hal yang saya ingat dari perilaku ibu saya juga tidak terlalu pas. Lalu saya temukan cara: membuat karakter anak yang bercerita tentang kesehariannya, bermain tanpa punya maksud apapun kecuali menikmati pertemanan. Saya mengatur latar waktunya di zaman dulu agar bisa sedikit mengingatkan para orang tua yang seumur saya saat itu akan kebebasan berteman di masa kecil. Dengan harapan semoga mereka bisa sedikit menyadari adanya perubahan perilaku di masyarakat yang membuat kita mengurangi rasa toleransi pada perbedaan. Menurut saya, jika orang tua sudah mendidik anak-anaknya sejak kecil untuk berkelompok dan tidak mengajarkan keberagaman, di masa depan akan semakin banyak terjadi perselisihan di antara kita. Padahal kita memang diciptakan berbeda, bukan? Apalagi sebagai orang Indonesia yang begitu beragam.
Berbeda itu indah. Itu yang harus terus kita sampaikan pada anak-anak. Karena pada perbedaan itulah kita menjadi Indonesia yang luarbiasa ini. Bukan begitu?

