
Reda Gaudiamo lahir di Surabaya, Jawa Timur, 1 Agustus 1962. Dia mengawali debutnya sebagai seniman sejak menempuh pendidikan pada Jurusan Sastra Prancis Universitas Indonesia dengan menulis berbagai topik artikel dan cerita pendek yang dipublikasikan ke berbagai media massa. Reda Gaudiamo juga menggeluti dunia tarik suara, menyanyikan lagu-lagu bergenre balada bersama rekan duetnya, Ari Malibu.
Setelah lulus dia bekerja di sejumlah media cetak, antara lain Gadis, Mode, HAI, dan Cosmopolitan. Reda juga pernah menjadi publisher di Kompas Gramedia menangani Chic, Kawanku, Prevention, Sekar, InStyle, Martha Stewart Living, dan More. Bersama sejumlah temannya, ia membuat musikalisasi puisi karya Sapardi Djoko Damono. Albumnya antara lain Hujan Bulan Juni (1989), Hujan dalam Komposisi (1996), Gadis Kecil (2005 bersama Nana Soebianto/DuaIbu), Becoming Dew (2007 bersama Ari Malibu).
Akan ke Manakah Angin merupakan rekaman lain, musikalisasi puisi karya Emha Ainun Najib, Acep Zamzam Noor, dan Ags. Arya Dipayana. Selain menyanyikan dan membuat komposisi musik puisi (Gadis Kecil, Don’t Tell Me, dan Mengalirlah Sungai -semua karya Sapardi Djoko Damono), bersama Ivan Haris, Jubing Kristianto, Tunjung Rukmo, Jonbee, dan ZainulAsikin, Reda tergabung dalam Komplotan, band beraliran country dengan album perdananya, Nyanyian Laut, 2010.
Musikalisasi Puisi
Musikalisasi puisi karya SDD dimulai pada tahun 1988 ketika beberapa mahasiswanya membantu program Pusat Bahasa, membuat musikalisasi puisi karya beberapa penyair Indonesia, dalam upaya mengapresiasikan sastra kepada siswa SLTA. Saat itulah tercipta musikalisasi Aku Ingin oleh Ags. Arya Dipayana dan Hujan Bulan Juni oleh M. Umar Muslim. Kelak, Aku Ingin diaransemen ulang oleh Dwiki Dharmawan dan menjadi lagu tema Cinta dalam Sepotong Roti (1991), dibawakan oleh Ratna Octaviani.
Beberapa tahun kemudian lahirlah album “Hujan Bulan Juni” (1989) yang seluruhnya merupakan musikalisasi dari sajak-sajak Sapardi Djoko Damono. Duet Reda Gaudiamo dan Ari Malibu merupakan salah satu dari sejumlah penyanyi lain, yang adalah mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Album “Hujan Dalam Komposisi” menyusul dirilis pada tahun 1996 dari komunitas yang sama.
Sebagai tindak lanjut atas banyaknya permintaan, album “Gadis Kecil” (2005) diprakarsai oleh duet Dua Ibu, yang terdiri dari Reda Gaudiamo dan Tatyana dirilis, dilanjutkan oleh album “Becoming Dew” (2007) dari duet Reda dan Ari Malibu. Ananda Sukarlan pada Tahun Baru 2008 juga mengadakan konser kantata “Ars Amatoria” yang berisi interpretasinya atas puisi-puisi SDD serta karya beberapa penyair lain.
Karya
- Musikalisasi puisi karya Sapardi Djoko Damono
- Hujan Bulan Juni, 1989 bersama Ari Malibu, Tatyana Soebianto, dan Gatot Wibowo
- Hujan Dalam Komposisi, 1996 bersama Ari Malibu dan Tatyana Soebianto
- Gadis Kecil, 2005 bersama Tatyana Soebianto, Jubing Kristianto, dan M. Umar Muslim
- Becoming Dew, 2007, bersama Ari Malibu
- Musikalisasi puisi karya Ags. Arya Dipayana, Acep Zamzam Noor, Soni Farid Maulana, dan Emha Ainun Najib
- Yang Paling Cinta (2002)
- Nyanyian Laut, sebuah projek album bersama Komplotan (Ivan Haris, Jubing Kristianto, Zainul Asikin, Tunjung Rukmo, dan Jonbi), 2010
- Cerpennya dimuat dalam buku kumpulan cerpen Gallery of Kisses dan China Moon (2002 & 2003)
- Tiga kumpulan cerpen yang telah diterbitkan
- Bisik-bisik (EKI Press,2004)
- Pengantin Baru, (2011, Editum)
- Tentang Kita, (2015, Stiletto Books)
- Novel pertamanya:
- NaWilla, serial Catatan Kemarin (2012)

sumber: IG atelirceremai
Selamat jalan, Eddie Prabu (9 November 1953 – 8 April 2023). Banyak sekali ‘Rawamangun’ kamu tulis dibandingkan yang kamu (belum sempat) ceritakan kepada kami.
Eddie muda seorang penyair. Dan kepergiannya tepat beberapa momen setelah rilis buku puisi debutnya. Sejak 2021, bersama Reda Gaudiamo, kami terlibat menyusun antologi ‘Rumah’, yang bagi kami seperti mengakrabi ‘Rawamangun’ yang memang rumah bagi kami. Proses berkesan.
Dialah Eddie Prabu. Seorang penyair yang berjalan kaki atau naik sepeda dari arah Jalan Balai Pustaka ke Jalan Rawamangun Muka Barat pada suatu siang. Di Atelir Ceremai, penyair itu berpapasan duduk ngobrol dengan penyair lainnya. Ternyata pada akhirnya keduanya manusia. Akan pulang dan pergi.
Rasanya-rasanya itulah kenapa kita perlu saling mendoakan. Peluk erat buat Reda dan Soca dari kami.
catt: Eddie Prabu suami Reda Gaudiamo meninggal dunia 8 April 2023, beliau seorang penyair dan menyukai fotografi. Hasil karya beliau bisa dilihat pada akun https://www.instagram.com/eddieprabu/. Reda Gaudiamo dan Eddie memiliki seorang putri bernama Soca.
Ketupat Lebaran
Posted on April 23, 2023 by rgaudiamo
Jaman kecil dulu, ketika malam takbiran tiba, kami sering menerima kiriman ketupat dan segala lauknya: sayur labu, sambel goreng ati, opor atau rendang atau semur.
Pada saat yang sama, Mak menyiapkan kue-kue/cake bikinan sendiri sebagai kiriman balasan.
Ketika menikah dengan Eddie Prabu yang berlebaran, maka sungguh layak dan sepantasnya kalau ketupat lebaran tersedia di rumah kami juga, bukan?
Masalah? Tentu tidak. Karena kami sudah memesan ketupat dari Bi Iyem yang bekerja di rumah kami. Di malam takbiran satu set ketupat lebaran tiba. Tampangnya cakep, rasanya enak.
Waktu berjalan, cucu Bi Iyem terus bertambah, membuatnya sibuk. Dan pada suatu hari ia memutuskan untuk tinggal di rumah, mengurus cucu. Begitu sibuknya sehingga ia tak bisa lagi menerima pesanan ketupat. Baiklah. Tetapi itu tidak berarti ketupat lebaran langsung abesn dari meja makan kami, dong.
Sungguh tak mungkin membiarkan Eddie berlebaran tanpa ketupat.
Apa yang harus dilakukan?
Segera cari solusi. Yang pasti bukan dengan saya turun ke dapur. Tidaklah mungkin karena saya mati gaya di urusan masak yang serius macam ketupat ini).
Solusi dicinta, Dharmawan tiba. Kedai Tjikini-nya menyediakan paket ketupat komplit! Tidak pakai lama, saya langsung memesan.
Sore hari sebelum bedug bertalu-talu, ketupat dan teman-temannya sudah tiba. Yang sedang berpuasa sedang entah di mana ketika paket itu tiba. Saya segera merapikannya di meja makan.
Soca dan saya memandang takjub panganan hari istimewa ini: Semua disiapkan dengan rapi dan cantik dan menggodanya, sehingga kami tak bisa menahan diri untuk menyantapnya. Ketika yang berpuasa muncul, dan siap berbuka, dia terheran-heran melihat kami sudah memegang mangkuk berisi ketupat dan sayur labu dan sambel goreng ati dan opor dan rendang dan koya dan emping. Makanan khusus untuk hari Lebaran itu sudah kami lahap di malam terakhir puasa. Duh, maaf ya. Nggak tahan!
Eddie lumayan rewel soal ketupat lebaran ini. Menurutnya, ketupat sayur itu harus dibuat oleh yang ahli. Dan menurutnya, yang jagoan bikin cuma dua orang: ibunya dan Bi Iyam.
Nah, begitu melihat kami -Soca dan saya- menikmati ketupat dan teman-temannya, dia langsung bertanya, “Siapa yang bikin?”
“Silakan dicoba.”
Dia menurut. Begitu kuah sayur labu masuk mulut, dia langsung manggut-manggut. Lalu mengambil mangkuk, ikutan makan.
“Seperti bikinan Ibu” dia mengambil mangkuk, ikutan makan.
“Siapa yang bikin?” tanya lagi.
Saya bilang ibunya teman.
“Enak banget.”
Belakangan Eddie tahu kalau saya memesan dari Dharmawan.
“Katanya ibunya teman,” katanya suatu hari.
“Memang. Ini dibikin Dharmawan berdasarkan resep ibunya yang sangat jago masak.”
Ketupat dari Kedai Tjikini yang dibikin dengan sepenuh hati oleh Dharmawan (berdasarkan resep ibunya), sejak pemesanan pertama itu, jadi hidangan utama hari Lebaran di rumah kami.
Tahun ini, Eddie tak bersama kami. Ia telah berkumpul dengan ibu dan bapaknya di negeri yang jauh di awan. Soca berada di Jepang. Tetapi itu bukan alasan untuk tidak merayakan Lebaran, ditemani ketupat lengkap Kedai Tjikini.
Maka saya pun memesan lagi. Menikmatinya lagi meski tak bersama Eddie.
Hei Ed, apakah di sana ada ketupat? Kalau ya, semoga seenak yang ada di sini, ya.
SELAMAT LEBARAN, TEMAN-TEMAN. Selamat merayakan hari kemenangan. Mohon maaf lahir dan bathin.
_____________________________________________________________
sumber: https://pamityang2an.com/ari-reda-still-crazy-after-all-these-years-tour/

Still Crazy After All These Years Tour 2016
YOGYAKARTA- 34 tahun bukan waktu yang singkat bagi duo Reda Gaudiamo dan Ari Malibu untuk tetap selaras dalam berkarya. Melewati proses panjang lebih dari tiga dekade, duet folk asal Jakarta itu tetap memiliki energi bermusik yang besar khususnya dalam menyanyikan puisi.
Gairah itulah yang memacu AriReda untuk menggelar konser bertajuk “Still Crazy After All These Years Tour 2016”. Konser yang diinisiasi secara mandiri itu hadir di enam kota yakni Jakarta (13/5), Malang (14/5), Surabaya (15/6), Yogyakarta (16/5), Denpasar (17/5) dan Makassar (18-19/5). Di Yogyakarta, AriReda akan tampil di Kedai Kebun Forum 16 Mei mendatang. Pertunjukan yang dimulai pukul 19.00 WIB itu akan dibuka oleh penampilan Sisir Tanah dan Deugalih.
Pada tur 6 kota kali ini, AriReda juga akan merilis mini album baru. Album tersebut memuat empat lagu yang benar-benar baru. Sebelumnya AriReda telah merilis dua album. Album pertama bertajuk Becoming Dew (2007) Berisi 10 lagu dari puisi sastrawan Sapardi Djoko Damono. Sementara album kedua bertajuk AriReda Menyanyikan Puisi (2015), berisi nyanyian puisi dari karya-karya penyair Indonesia: Amir Hamzah, Mozasa, Abdul Hadi WM, Gunawan Mohammad, Sapardi Djoko Damono, dan Toto Sudarto Bachtiar.
Awalnya duo yang diinisiasi oleh komedian Alm Pepeng Ferrasta Soebardi dikenal sebagai pelantun tembang-tembang folk dan balada dari seperti Fly Away dari John Denver, lagu-lagu duo Simon & Garfunkel, dan lagu sejenis lainnya. Dimulai dari konser-konser kecil di dalam Kampus Universitas Indonesia (UI), AriReda kemudian mulai hadir di luar kampus dan menyapa publik yang lebih luas.
Tahun 1987, AriReda terlibat dalam proyek apresiasi seni yang diprakarsai oleh Sapardi Djoko Damono dan Fuad Hassan (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kala itu). Proyek ini bertujuan untuk membuka kemungkinan baru dalam mengapresiasi puisi. Sejak saat itu AriReda terus menyanyikan sajak-sajak penyair Indonesia.
AriReda juga pernah menjadi tamu Ubud Writers & Readers Festival 2010 dan Makassar Writers & Readers Festival 2011. Tahun lalu, AriReda menjadi salah satu penampil di acara Frankfurt Book Fair/Frankfurter Buchmessse 2015.
Pengantar untuk AriReda
Ditulis oleh Dharmawan Handonowarih
Menyanyikan puisi bukanlah pilihan yang umum. Tapi AriReda telah memulainya, sekitar 30 tahun lalu. Di dalam proses yang panjang itu, dua pribadi ini seakan menemukan cara bernyanyi begitu rupa, sehingga seakan-akan puisi-puisi itu, dan para penyairnya, hadir, tampak, di dalam bayangan kita.
Banyak orang mengatakan, lagu yang dibawakan AriReda menarik karena kesederhanaannya. Apakah sederhana, karena hanya diiringi oleh gitar? Sederhana karena musik mereka jauh dari panggung yang meriah? Sederhana karena kita semua seakan terpahat oleh lirik Sapardi Djoko Damono yang terkenal, yang mereka nyanyikan berkali-kali itu: “aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu”? Kesederhanaan AriReda adalah pada pilihan mereka, bahwa ketika bernyanyi, mereka mengembalikan pada hal mendasar, seakan-akan tiada lagi yang jauh lebih mendasar, yakni suara dan penghayatan yang begitu dalamnya. Justru di tengah-tengah kekaburan akan hal itu dewasa ini, mereka seakan kokoh berada di sana.
Dua malam konser peluncuran album mereka kedua, –26 & 27 Januari 2016 yang lalu– bukan nostalgia bagi yang telah mengenal duet ini timbul tenggelam sejak dulu. Pertunjukan ini juga ditonton sebagian besar teman-teman yang berusia muda, yang bukan dari angkatan penyanyinya. Yang, terpana, dan kaget, ketika pertama mendengar, sebulan dua bulan lalu sembari bergumam: mengapa saya baru dengar sekarang duet yang oleh sebuah majalah disebut sebagai veteran music folk ini. Para pendengar yang baru ini seakan membuktikan bahwa pilihan AriReda ternyata mendapat sambutan yang luas, tidak hanya dari kalangan dekatnya. Bahwa dalam beberapa pekan saja, penjualan tiket dua malam terjual tanpa sisa, bisa menjadi bukti yang lain. Sebagian penonton muda itu, semalam, dengan sedikit malu, menangis merasakan getaran puisi yang dinyanyikan AriReda. Sebagian tertolong oleh ruangan yang gelap.
Perjalanan duet ini tidak selalu mudah. Ada kesulitan, kegamangan, tidak sedikit pertentangan, cekcok. Terkadang pilihan untuk bernyanyi dikesampingkan. Kapok. Tapi kemudian mereka dipertemukan kembali, mungkin dengan perasaan malu-malu. Mungkin karena mereka memang ada di sana: dalam kesatuan hati dan suara. Seakan-akan, tidak ada yang lebih indah daripada suara yang lain, bagi Ari, selain memadukan suaranya dengan Reda. Dan seakan-akan tidak ada yang lebih dari yang paling sesuai untuk Reda, selain bernyanyi bersama Ari.
Duet ini mengingatkan perjalanan kita juga, Sering lupa pada pilihan awal. Tetapi kemudian kembali dan menekuni, pilihan itu, sembari mensyukuri, seperti yang mereka lakukan sekarang.

